sanggar semut di baktijaya
GOTONGROYONG : Remaja sedang merapikan sanggar mulai dari pengecetan hingga pemasangan bacgroud panggung untuk menunjang sanggar semut menggali potensi dan bakat, Jumat (20/12). FOTO : ARNET/RADAR DEPOK
sanggar semut di baktijaya
GOTONGROYONG : Remaja sedang merapikan sanggar mulai dari pengecetan hingga pemasangan bacgroud panggung untuk menunjang sanggar semut menggali potensi dan bakat, Jumat (20/12). FOTO : ARNET/RADAR DEPOK

 

Tak berhenti berkreasi, remaja di RW 20 Kelurahan Baktijaya, Sukmajaya, memberi sentuhan menarik Sanggar Semut yang sebelumnya Sanggar Bina Remaja Karang Taruna (SBRK). Selain membuat betah, tentunya menjaga ke kompakan kreasi di dalam jiwa mereka.

Laporan : Arnet Kelmanutu

RADARDEPOK.COM – Jumat (20/12) menggerakan tubuh untuk berkreasi merapikan rumah mereka, tempat yag dijadikan berlatih hingga memberdayakan diri. disentuh lebih segar dengan warna biru pada kedua tiang utama panggung.

Keanggotaan yang seluruhnya Karang Taruna (Katar) RW20  tak lupa memberikan lafadz Allah SWT pada salah satu tiang dengan sentuhan warna emas yang menambah kesan istimewa dan penuh makna diletakan pada salah satu tiang utama.

Hal menarik perhatian, benar saja, ketika ditanya kepada Ketua Katar RW 20 sekaligus pengurus pada sanggar tersbut, Nanda Setiawan. Ia tegas mengatakan bahwa pondasi yang dipegang tentunya kepada Allah SWT.

“Sudah wajib itu hukumnya buat kami. Selain kami ciptaannya, seluruh kemampuan yang kami miliki atas izin Allah,” tegas Nanda sambil memegang kuas cat. Jumat (20/12)

Tanpa dibagi-bagi tugas pekerjaannya, mereka mengalir dengan sendirinya mengerjakan seluruh pekerjaan. Jiwa memiliki mereka tampak jelas sekali, berniat tempat mereka menimba ilmu non-formal menjadi semakin hangat dan nyaman.

Dengan cekatan, ada beberapa pemuda yang mengerjakan menutup bagian belakang panggung dengan triplek kayu. Salah satu Pembina Sanggar Semut Imron Riyadi juga turut serta bekerja bersama, dirinya terihat sedang membuat tulangan dari kayu kaso untuk dudukan  triplek penutup.

“Kalau ditutup jadi lebih rapi, kan bisa kita gambar nanti buat nambah cantik. Insyaallah makin buat anak-anak betah,” ungkapnya sambil memegang kaso tulangan tersebut.

Sambil berdiri dan berjalan menuju ke kolam ternak lele milik anak-anak sanggar, Imron yang biasa dipanggil Boim ini menaruh haarapan yang lebih, dimana tempat ini bisa membawa anak-anak pada kehidupan yang semakin baik ke depan.

“Nggak ada yang lain buat saya, mereka akan besar dengan kehidupannya masing-masing. Biar tempat ini menjadi salah satu tempat perbekalan mereka buat mengarungi kehidupan masa depan,” ungkap Boim.

Waktu Salat Jumat semakin dekat, mereka pun menyudahkan pekerjaannya, nyeruput kopi hitam atau teh manis dingin untuk menambah dahaga setelah lelah merapihkan sanggar.

Beberapa kegiatan yang mereka tambahkan gunakan melatih serta mengasah kemampuan anak-anak sanggar, pengembangan ikan cupang, kreasi lampion, dan kreasi kain perca. Dengan penambahan sarana perpustakaan atau taman baca karena buku yang menjadi jendela dunia. (*)

 

Jurnalis : Arnet Kelmanutu  (IG : @kelmanutuarnet)

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)