Beranda Ruang Publik Tawakkal Itu Berlindung Kepada Allah SWT

Tawakkal Itu Berlindung Kepada Allah SWT

0
Tawakkal Itu Berlindung Kepada Allah SWT

 

Oleh: K.H. Ahmad Mahfudz Anwar

Ketua MUI Kota Depok

 

ADA anggapan sebagian orang bahwa tawakkal itu ibaratnya orang kalah. Kalau sudah tidak berdaya lagi baru tawakkal. Baru mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menyerahkan urusannya kepada Allah SWT.

Seperti orang yang sedang putus asa. Pada hal tawakkal yang berarti berserah diri itu merupakan sikap kepatuhan atas hukum Allah SWT. Jadi tawakkal itu bukan sikap yang ditempuh di kala seseorang merasa tidak mampu. Tapi sekalipun dia merasa mampu tetap bertawakkal kepada Allah SWT.

Mengapa demikian? Karena sesungguhnya orang yang tawakkal itu adalah orang kuat. Yakni orang yang sedang melakukan suatu pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan melalui proses serta prosedur alamiah. Melalui standar perbuatan seperti yang biasa dilakukan oleh manusia pada umumnya. Misal seseorang berbisnis, diawali dari kepemilikan modal, kemudian usaha produksi, dilanjutkan dengan pemasaran (marketing). Selanjutnya adalah membangun jaringan (net working). Semua prosedur sudah dilalui dengan benar, maka sikap seorang muslim yang baik adalah bertawakkal kepada Allah SWT.

Tentu saja setelah ditetapkan target-target yang dia inginkan yang sesuai dengan standar bisnis pada umumnya. Atau boleh dikata dengan menggunakan rumus-rumus ekonomi. Bahwa target akhir adalah keuntungan yang banyak dan berkelanjutan.

Demikian juga setiap usaha yang dilakukan oleh seseorang yang ingin meraih sesuatu, maka prosedur yang standar tetap harus dilalui dengan baik.

Sedangkan keyakinan bahwa Allah SWT akan menolongnya itu adalah keyakinan yang bisa mendorong seseorang untuk tetap maksimal berusaha dan disertai keyakinan akan kekuatan Allah swt dengan baik. Sebagaimana disinyalir dalam Al-Qur’an: “fa iza azamta fa tawakkal alallah. Apabila kamu sudah bertekat bulat, maka berserah dirilah kepada Allah swt. Jadi tawakkal itu tidak sama dengan berpangku tangan atau bermalas-malasan.

Perintah musyawarah kepada Nabi Muhammad SAW itu disertai dengan perintah-perintah lainnya yang terkait. Pertama Nabi SAW diperintahkan bersikap lemah lembut kepada orang lain. Jika orang lain itu mempunyai rasa benci atau iri hati, maka sikap itu harus dimbangi dengan nasehat yang baik. Jika sudah sampai pada hati orang tersebut, maka maafkanlah dia. Sebesar apapun kesalahannya. Asal tidak melampaui batas, kita harus mau memaafkannya. Dan jika mungkin, maka doakanlah agar dia menjadi orang baik atau orang yang lebih baik. Jadi kata kunci maaf itu sebagai prasyarat untuk bermusyawarah. Baru kemudian perintah tawakkal.

Bahkan Rasulullah SAW pun telah mengajari para sahabatnya agar bertawakkal yang sebenar-benar tawakkal. “Jika kamu sekalian bertawakkal dengan sungguh-sungguh, niscaya Allah SWT tidak segan-segan akan melimpahkan rezeki kepadamu. Sebagaimana Allah SWT memberi rezeki kepada burung-burung yang beterbangan. Di pagi hari burung-burung itu terbang meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar. Tapi di sore hari mereka itu kembali ke sarangnya dengan perut penuh makanan (kenyang).

Wal hasil burung itu kenyang setelah berusaha mencari makanan. Walaupun mereka tidak menyimpan makanan, akan tetapi makanan itu terus tersedia. Burung itu yakin bahwa selama ia mau terbang dan berusaha mencari makanan, maka Allah SWT akan memberinya. Karena ia yakin bahwa Allah SWT itu tidak pelit terhadap hamba-Nya. Mempunyai sifat kasih dan sayang (Rahman dan Rahim).

Dalam firman-Nya yang lain Allah SWT berfirman: Siapa yang tawakkal kepada Allah SWT, maka Dia Yang mencukupi kebutuhannya. Artinya segala kebutuhan hidup manusia itu tidak tergantung pada manusia itu sendiri. Tapi pada hakikatnya tergantung pada Tuhannya (Allah SWT). Maka pada dasarnya sikap tawakkal itu menjadi ukuran seseorang sejauh mana memberi kontribusi pada perkembangan Islam.

Karena tawakkal itu menjadi keyakinan seseorang atas ke-Maha-Kuasaanya Allah SWT. Jika seseorang percaya dan yakin atas kebesaran Allah SWT, maka dia akan menyerahkan dirinya kepada Allah swt melebihi cintanya kepada harta semuanya yang pernah ia kumpulkan. Jadi orang yang yakin pada keKuatan dan Kekuasaan Allah SWT, maka ia akan percaya ciri (PD) menghadapi segala kemungkinan. Karena dia sadar bahwa apa pun hasil akhir dari usahanya, pasti akan dinilai dan dihargai oleh Allah SWT. Tidak ada usaha yang sia-sia. Semua usaha bernilai di hadapan Allah SWT.

Dan seperti doa kita setiap meninggalkan rumah menuju tempat lain sebagai berikut: Bismillahi tawakkaltu alallah. Laa haula wa laa quwwata illa billahil aliyul adzim. Dengan nama Allah SWT aku berserah diri dan tak ada daya usaha, melainkan hanya Allah SWT Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Wallahu alam bis shawab. (*)