Trend Mendaki Gunung Menjadi Penyebab Volume Sampah Meningkat

In Ruang Publik

 

Oleh: Miyo Mika Septiani

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju (STIKIM)

01160100014

 

INDONESIA merupakan negara yang mempunyai banyak pegunungan. Di tahun 2019 ini trend mendaki gunung semakin meningkat, apalagi dikalangan para mahasiswa. Mendaki gunung adalah sebuah proses yang tidak mudah, kekuatan fisik, kerjasama tim sangat dibutuhkan untuk mencapai sebuah puncak. Selain itu mendaki gunung juga sebagai latihan bertahan hidup di alam terbuka.

Keindahan alam di sejumlah gunung dan Taman Nasional di Indonesia kini terancam rusak karena tumpukan sampah yang dibawa oleh para pendaki. Perlu perhatian khusus untuk mencegah dampak buruk terhadap lingkungan. Selain mengubah perilaku dan pola hidup, kegiatan pendakian dalam 5 tahun terakhir juga berdampak buruk pada besarnya volume sampah yang dihasilkan oleh pendaki.

Persoalan sampah tidak hanya menjadi urusan masyarakat perkotaan. Kini juga telah merambah ke wilayah pegunungan dan Taman Nasional. Hal ini tidak lepas dari peran wisatawan atau pengunjung yang masih membuang sampah sembarangan. Salah satunya di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian ± 3.676 meter diatas permukaan laut (Mdpl). Gunung Semeru termasuk salah satu dari gunung berapi yang masih aktif di Jawa Timur, terletak diantara wilayah Administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang dengan posisi geografis antara 7°51’ – 8°11’ Lintang Selatan, 112°47’ – 113°10’ Bujur Timur.

Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), di Kabupaten Lumajang, Sucipto mengatakan, Film 5 CM memang menjadi magnet bagi penontonnya untuk merasakan bagaimana berpetualang mendaki ke Gunung Semeru.

Saat jumlah pendaki gunung Semeru semakin banyak maka makin banyak pula tanaman yang mati atau rusak serta tercemarnya air di danau Ranu Kumbolo karena minyak dan deterjen yang dibuang oleh pendaki di dalamnya. Jika terus dibiarkan maka sudah tentu semakin besar pula kerusakan yang dihasilkan.

Masalah sampah juga merupakan masalah klasik di dunia pendakian, semakin banyak pendaki menapaki Semeru, semakin banyak pula jumlah sampah yang dihasilkan mulai yang organik, berupa sampah hasil sisa makanan dan sampah hasil pencernaan hingga sampah non organik seperti sampah plastik. Memang sampah organik bisa diuraikan oleh alam, namun penguraian tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar, apabila setiap hari gunung Semeru selalu dijejaki oleh para pendaki, lalu kapan alam bisa tuntas menguraikan sampah tersebut? Sampah yang sulit terurai adalah sampah non organik seperti plastik, sampah ini walaupun sudah seratus tahun sekalipun belum bisa diuraikan oleh alam sehingga keberadaannya akan sangat mengancam kelestarian alam.

Sebuah ketegasan tentunya sangat diperlukan baik dalam membatasi jumlah pendaki Semeru sampai dalam memberikan sanksi bagi para pelanggar aturan. Sebelum melakukan pendakian di Gunung Semeru wajib mengikuti edukasi dan sosialisasi kepada komunitas pendaki untuk melaporkan makanan dan minuman yang dibawa. Sampah harus dibawa serta melaporkannya kembali bila tidak ingin mendapatkan sanksi.  Kebanyakan dari mereka tidak siap secara standar pendakian yang benar.

Memang sudah banyak pendaki yang sadar untuk membawa turun sampah-sampah plastiknya, namun tidak sedikit pula pendaki yang masih malas untuk membawa turun sampah plastiknya. Jika terus dibiarkan bisa jadi gunung Semeru akan menjadi tempat pembuangan sampah. (*)

 

You may also read!

PSHT bantu tenaga medis

PSHT Depok Berbagi Jamu dengan Tenaga Medis

PEDULI : Keluarga Besar PSHT barikan bantuan kepada tim medis di RS Brimob, Sabtu (18/04).

Read More...
BLT di negeri jepang

Di Jepang, Tiap Warga Dapat Rp14,5 Juta Hadapi Korona

ILUSTRASI   RADARDEPOK.COM - Pemerintah Jepang tengah serius untuk mengentaskan penyebaran virus Korona. negara dibawah kepemimpinan Perdana

Read More...
APD kreasi dari UI

UI Kembangkan APD Respirator

DIKEMBANGKAN : Tim ahli dan peneliti Universitas Indonesia mengembangkan prototype Alat Pelindung Diri (APD), dalam

Read More...

Mobile Sliding Menu