Beranda Pendidikan UI Tambah Dua Guru Besar FT : Prof Joko Sihono Gabriel dan Prof Asep Handaya Saputra

UI Tambah Dua Guru Besar FT : Prof Joko Sihono Gabriel dan Prof Asep Handaya Saputra

0
UI Tambah Dua Guru Besar FT : Prof Joko Sihono Gabriel dan Prof Asep Handaya Saputra
PENGUKUHAN: Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof. Ari Kuncoro, memimpin Upacara Pengukuhan Dua Profesor Fakultas Teknik UI (FTUI) yaitu Prof. Joko Sihono Gabriel sebagai Guru Besar Tetap FTUI dengan kepakaran bidang manajemen rekayasa material, dan Prof. Asep Handaya Saputra sebagai Guru Besar Tetap FTUI dengan kepakaran bidang material komposit. FOTO : UI FOR RADAR DEPOK
profesor dari Universitas indonesia (UI)
PENGUKUHAN : Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof. Ari Kuncoro, memimpin Upacara Pengukuhan Dua Profesor Fakultas Teknik UI (FTUI) yaitu Prof. Joko Sihono Gabriel sebagai Guru Besar Tetap FTUI dengan kepakaran bidang manajemen rekayasa material, dan Prof. Asep Handaya Saputra sebagai Guru Besar Tetap FTUI dengan kepakaran bidang material komposit. FOTO : UI FOR RADAR DEPOK

 

Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof. Ari Kuncoro memimpin Upacara Pengukuhan Dua Profesor Fakultas Teknik UI (FTUI). Yaitu Prof. Djoko Sihono Gabriel sebagai Guru Besar Tetap FTUI dengan kepakaran bidang manajemen rekayasa material, dan Prof. Asep Handaya Saputra sebagai Guru Besar Tetap FTUI dengan kepakaran bidang material komposit.

==============================

RADARDEPOK.COM – Prof. Djoko menyampaikan pidato pengukuhan bertajuk Sampah Plastik, Konservasi Nilai Material dan Keberlanjutan Industri. Ketergantungan pada kemasan plastik sangat sulit dihindari. Hingga saat ini, baru 9 persen sampah plastik yang berhasil didaur ulang. Sebagai gambaran, pada tahun 2050 limbah plastik yang masuk ke dalam lautan akan lebih berat daripada berat ikan-ikan di lautan itu sendiri.

Pada dasarnya terdapat dua sumber persoalan sampah plastik yang tengah dihadapi saat ini yaitu lemahnya pengurusan sampah dan rendahnya harga jual sampah plastik, sehingga sebagian besar tidak laku dijual. Hingga saat ini, paradigma yang ada di tengah masyarakat adalah mengatasi keberadaan kemasan plastik yang sudah terlanjur menjadi sampah. Namun, Prof. Djoko mengajak untuk mengubah paradigma tersebut menjadi Paradigma baru yaitu Konservasi Nilai Material (KNM) atau material value conservation.

“Penerapan paradigma baru KNM dimulai dari mencari penyebab mengapa harga jual sampah plastik rendah, atau bahkan tidak memiliki daya jual dan kemudian mencari langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka menghambat penurunan harga jual material pada sampah kemasan plastik,” ungkapnya.

Sedangkan Prof. Asep menyampaikan Erosi dan Korosi Material Komposit Berbasis Resin Epoksi sebagai judul pidato pungukuhannya. Ilmu bahan berkembang semakin kompleks. Perkembangan ini mengikuti kebutuhan masyarakat serta dunia industri.

Di dalam ilmu bahan, terdapat salah satu klasifikasi yaitu material komposit. Material komposit dalam perkembangan telah banyak menggantikan logam, karena keistimewaannya dalam hal kekuatan, lebih ringan dan mempunyai ketahanan terhadap korosi. Aplikasi material komposit sudah sangat luas, yaitu misalnya; di bidang Transportasi (untuk pembuatan kapal berbagai ukuran, suku cadang kendaraan, Sebagian besar suku cadang pada pesawat udara dan juga pesawat ruang angkasa); di bidang hobi (peralatan olah raga); di bidang kedokteran (digunakan sebagai implant maupun alat dukung medis); demikian juga di bidang industri kimia.

“Dalam perkembangannya, Fenomena erosi dan korosi pada material bisa terjadi secara simultan. Fenomena Erosi pada material didefinisikan dengan terkikisnya atau terdegradasinya suatu bahan diakibatkan oleh perilaku mekanis baik oleh kecepatan aliran fluida atau tumbukan (partikel, slurry, gelembung),” pungkasnya. (*)

 

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)