Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA

RadarDepok.com – Kabar tentang lahirnya Kampus Masa Depan Dunia Islam, Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) di Kelurahan Cisalak, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok telah tersebar ke seluruh penjuru negeri, bahkan dunia. Kampus yang ikonik secara bangunan dan tradisi keilmuan tersebut rencananya akan mulai beroperasi pada 2020 mendatang.

Mulai menerima mahasiswa tahun depan, UIII akan membuka tujuh fakultas, diantaranya yakni Kajian Islam, Ilmu Sosial Humaniora, Ekonomi Islam, Sains dan Teknologi, Pendidikan, Arsitektur, dan Seni. Untuk tahap pertama, UIII baru akan membuka tiga fakultas, yakni kajian Islam, Pendidikan dan Ilmu Sosial Humaniora.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA menuturkan, cita-cita awal berdirinya UIII yakni keinginan yang tinggi akan lahirnya perguruan tinggi bertaraf internasional dan mampu menjadi destinasi studi Islam dunia. Kampus ini juga diproyeksi mampu merepresentasikan Indonesia, atau bisa memperkenalkan Indonesia di kancah internasional.

“Jadi mahasiswa-mahasiswa asing dari berbagai negara, baik dari Dunia Islam maupun Eropa dan Amerika yang akan melakukan penelitian ke Indonesia akan datang ke kampus ini, juga untuk melakukan studi di sini. Oleh karena itu dosen-dosen dan juga mahasiswanya internasional,” ujar Kamaruddin Amin, Senin (16/12).

Dengan begitu, lanjut dia, tujuan akhir dari berdirinya UIII yakni menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban dunia Islam pada masa yang akan datang. “Itu adalah tujuan idealnya, atau ultimate goal dari pendirian kampus ini,” terangnya.

Kampus yang berdiri di lahan seluas 142,5 hektare ini didesain sedemikian rupa sehingga menjadi ikonik di mata dunia. Selain bangunan-bangunannya memiliki keindahan dan dapat dijadikan destinasi wisata akademik, dari sisi tradisi keilmuan UIII juga memiliki cirinya sendiri.

Dibagi kedalam tiga zona, UIII nantinya akan diisi berbagai bangunan ikonik mulai dari zona satu yang berisi Gedung Rektorat, Masjid, Perpustakan, Gedung Fakultas, Infrastruktur Kawasam, Lansekap dan Ruang Terbuka Hijau, Echo Sanctuary Park. Zona dua diisi bangunan kampus yang megah dan zona tiga terdiri dari kawasan fakultas dan pusat kajian, di zona tersebut juga terdapat pusat peradaban seperti museum, pertunjukan seni dan budaya islam serta gedung serba guna.

UIII akan mengkombinasikan sejumlah tradisi keilmuan atau kesarjanaan yang tengah berkembang di berbagai belahan dunia, seperti di Mesir, Maroko, Tunisia, atau di Arab Saudi dan Madinah. Tradisi keilmuan dari negara-negara Timur Tengah tersebut bisa didapatkan di kampus ini. Disamping itu, tradisi keilmuan barat juga diimplementasikan di UIII, dengan begitu berbagai tradisi keilmuan dikombinasikan sehingga dapat melahirkan tradisi keilmuan khas UIII.

Dengan perpaduan berbagai tradisi keilmuan UIII didesain menciptakan alumni berpengatahuan Islam yang mendalam, namun juga berpengetahuan tentang ilmu-ilmu siosial yang luas sebagai bagian dari pisau analisis untuk menajamkan dan menguatkan metodologinya dalam menerjemahkan Islam di dunia. Dengan kata lain menciptakan Cindekiawan Muslim yang memiliki pemahaman agama yang mendalam dan ilmu sosial yang kuat.

“Jadi UIII akan melahirkan Ulama Islam yang paham ilmu agama secara mendalam, tetapi juga tau tentang sosionlogi, paham tentang antropologi, paham tentang tata negara, paham tentang ilmu-ilmu sosial. Jadi mereka bisa menerjemahkan Islam dengan bahasa yang lebih aktual, yang relevan dan lebih bisa diterima,” tutur Kamaruddin Amin.

Melalui UIII, lulusan Pascasarjana Rijks Universitet Belanda dan Rheinsche Friedrich-Wilhelms-Universitat Bonn Jerman ini berharap, pihaknya dapat memperkenalkan Indonesia ke dunia Internasional dalam hal Keislaman. Dimana menurutnya, Islam Indonesia memiliki artikulasinya tersendiri dan berbeda dari diskursus internasional tentang Islam yang ada di Suriah, Libya, Iraq dan negara-negara lain.

“Karena kita pahami bahwa islam Indonesia itu Islam yang toleran, Islam yang damai, Islam yang humanis, Islam yang demokratis, Islam yang menghargai perbedaan, nah yang seperti ini ingin kita desiminasikan, ingin kita sebar luaskan ke dunia Internasional,” katanya.

Guna mempercepat terimplementasinya harapan-harapan tersebut, Guru Besar UIN Alaudin Makassar ini menegeaskan, pihaknya berharap UIII dapat segera beroperasi pada 2020 mendatang, “Kita upayakan tiga program studi, terutama studi Islam, karena itu yang paling siap. Kurikulumnya sudah siap, calon-calon dosennya sudah proses dan saya yakin mahasiswanya dari berbagai negara sudah banyak yang menunggu,” tutupnya.

Menyambung hal itu, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Prof. Dr. M. Arskal Salim GP, M.Ag menjelaskan, dengan desain kurikulum yang memadukan berbagai tradisi keilmuan tersebut, UIII akan menjadi rujukan negara-negara Muslim lainnya di Dunia. Dengan begitu studi Islam tidak lagi berpusat di Timur Tengah seperti sebelumnya.

 

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Prof. Dr. M. Arskal Salim GP, M.Ag

 

UIII didirikan oleh sebuah inisiatif untuk membangun image bahwa Indonesia sebagai negara Muslim terbesar. Sekaligus dengan demokrasi terbesar ketiga, ingin menampilkan sebuah image kepada dunia bahwa Indonesia sebagai bangsa yang besar juga mampu memproduksi ilmu pengetahuan. Bangsa yang pantas menjadi rujukan bagi kajian-kajian ilmu pengetahuan, terutama tentang Islam.

Bukan tanpa alasan, selain memiliki karakteristik terkait populasi dan demokrasinya yang kuat. Indonesia juga memiliki pendekatan yang khas dalam memadukan kelompok-kelompok berbagai aliran. Dan kepentingan menjadi satu di bawah sebuah sistem yang demokratis berdasarkan Pancasila dan UUD.

Indonesia dengan demografi yang demikian bahkan mampu mempertahankan demokrasinya, melaksanakan pemilihan umum sejak 1999, dan semua pemilihan umum yang dilakukan berlangsung dengan aman, tentram, dan damai. “Ditempat lain, pemilihan seperti itu dapat menciptakan perang saudara, atau membangkitkan kekuatan otoriter yang nantinya tdak membuka lagi kesempatan berdemokrasi,” tegas Arskal.

Untuk itu, pihaknya ingin mempromosikan Islam Indonesia agar menjadi kiblat studi Islam dunia. “Kita ingin mempromosikan Islam Indonesia menjadi kiblat studi Islam dan dengan begitu, Indonesia tidak selamanya menjadi konsumen tapi juga menjadi produsen,” tandas Arskal.

Usai belajar di UIII, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini berharap, para alumni ketika kembali ke negara masing-masing dapat menjadi duta-duta yang menyebarkan pesan-pesan kedamaian khas Islam Indonesia. “Dengan sistem yang demokratis ala Islam Indonesia di negara masing-masing,” tutupnya.(*)