ulama kota depok
BERKUMPUL : Sejumlah alim ulama, habiab dan tokoh agama se-Kota Depok saat menghadiri Silaturahmi dan Diskusi Ulama se-Kota Depok dengan mengangkat tema ‘Merajut Keragaman Menangkal Radikalisme’ di Hotel Bumi Wiyata, Jalan Margonda Raya, Kecamatan Beji. FOTO : RICKY/RADAR DEPOK
BERKUMPUL : Sejumlah alim ulama, habiab dan tokoh agama se-Kota Depok saat menghadiri Silaturahmi dan Diskusi Ulama se-Kota Depok dengan mengangkat tema ‘Merajut Keragaman Menangkal Radikalisme’ di Hotel Bumi Wiyata, Jalan Margonda Raya, Kecamatan Beji. FOTO : RICKY/RADAR DEPOK

 

Anggota DPRD Kota Depok, Babai Suhaimi menginisiasi untuk menggelar Silaturahmi dan Diskusi Ulama se-Kota Depok dengan mengangkat tema ‘Merajut Keragaman Menangkal Radikalisme’ di Hotel Bumi Wiyata, Jalan Margonda Raya, Kecamatan Beji. Apa saja yang dipaparkan?

Laporan : Ricky Juliansyah

RADARDEPOK.COM – Silaturahmi sangat dianjurkan dalam agama. Terlebih, dalam agenda tersebut dibalut dengan diskusi yang memiliki manfaat bagi kemaslahatan umat, bahkan berbangsa dan bernegara.

Pada Kamis (19/12), seluruh ulama se-Kota Depok pun menggelar silaturahmi dan diskusi yang mengangkat tema ‘Merajut Keragaman Menangkal Radikalisme’, tema ini semakin bermanfaat. Sebab, Depok sendiri menjadi kota metropolitan, di mana penduduknya multi kultur, ras, suku dan agama.

Inisiator agenda silaturahmi tersebut, Babai Suhaimi menegaskan, pihaknya ingin mendengar masukan tentang keragaman dari para alim ulama se-Kota Depok, untuk kotanya sendiri. Terlebih, isu radikalisme ini menjadi permasahan bangsa.

Menurut politikus senior Kota Sejuta Maulid ini, pihaknya sengaja menggelar diskusi dan meminta nasihat dari sejumlah ulama yang hadir, lantaran terkadang ada persoalan radikalisme mengatasnamakan agama.

“Kami ingin mendengar nasehat ulama. kami ingin menjaga keragaman, agama apapun itu saudara kita,” paparnya.

Anggota DPRD Jawa Barat, Faizin yang didaulat menjadi moderator dalam diskusi tersebut menyampaikan para ulama yang hadir dalam silaturahmi itu ingin meningkatkan paham keagamaan yang moderat, toleran, menghargai sesama anak bangsa, tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras.

Menurutnya, apa yang dilakukan jangan hanya mengurus yang berkaitan dan biasa dilakukan umat beragama, misalnya Subuh Berjamaah, itu kan sudah kewajiban umat muslim.

“Semestinya, ini kritik dari ulama dan habaib ya, pembangunan ke depan harus tercermin dari keadilan sosial bagi masyarakat, seperti bagaimana masyarakat kita menikmati dampak dari pembangunan,” kata Faizin.

Politikus muda Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mencontohkan, seperti jalan-jalan di Kota Depok sudah tidak ada yang berlubang. Hal ini, kata Faizin, juga merupakan perjuangan agama, yang tercermin dalam produk kebijakan pemerintah.

“Jadi kalau sebagai kota yang religius, artinya kota yang aspiratif, pro dengan usulan, sesuai dengan aspirasi masyarakat,” papar Faizin.

Di Depok pun, lanjut Faizin, pendidikan berbasis agama yang berlabel negeri masih kurang, seperti Madrasah Aliyah Negeri (MAN) maupun Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTS). Padahal, Kementerian Agama (Kemenag) sudah berkali-kali memperingatkan dan memberikan peluang.

“Bagaimana respon dari Pemkot Depok terkait dengan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dan generasi muda melalui sekolah agama negeri, Kemenag sudah berkali-kali menginformasikan bahwa untuk pembangunannya ada, tetapi Depok harus menyiapkan lahannya. Selama ini kurang direspon,” terangnya.

Hal ini tentu disayangkan oleh Faizin yang dikenal Santri Milenial ini. Padahal, jika berbicara masyarakat kota yang religius, tentunya tercermin juga pendidikan berbasis agama, seperti ketersediaan MTS Negeri maupun MAN.

“Jargon yang digembar-gemborkan Pemkot Depok itu lah yang dikritisi para ulama dan Habaib, karena tidak berbanding nyata dengan gerakan fakta pembangunan di Depok, ini yang sangat disayangkan,” tegas Faizin.

Sehingga, Faizin menambahkan, kedepannya, termasuk kriteria bagaimana membangun pemimpin yang adil, amanah dan dapat merespon cepat keinginan masyarakat.

“Kalau hanya sebatas Jargon saja ya buat apa,” pungkasnya. (*)

 

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)