mitigasi bencana kalimulya di TMII
PENYULUHAN : Para Narasumber bersama dengan warga Kalimulya usai melakukan kegiatan penyuluhan terkain pencegahan bencana dan kebakaran di Gedung Desa Wisata, TMII, Jakarta Timur. FOTO : ARNET/RADAR DEPOK
mitigasi bencana kalimulya di TMII
PENYULUHAN : Para Narasumber bersama dengan warga Kalimulya usai melakukan kegiatan penyuluhan terkain pencegahan bencana dan kebakaran di Gedung Desa Wisata, TMII, Jakarta Timur. FOTO : ARNET/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM. CILODONG – Puluhan warga Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong mengikuti sosialisasi Mitigasi Bencana 2019 di Gedung Desa Wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII) bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Jakarta Timur dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Depok.

Lurah Kalimulya Nandang Juhana mengatakan, pihaknya melakukan sosialisasi mitigasi bencana di TMII bersama Damkar Jakarta Timur dan Tagana Kota Depok.  Menurutnya, penyebab kebakaran adalah korsleting listrik akibat masa kadaluarsa instalasi atau kabel di rumah.

“Ini hal sangat penting, banyak yang tidak diketahui masyarakat karena minim pemberitahuan dari pihak terkait agar bisa diketahui dan bisa terus lanjutkan informasi ini,” ungkap Nandang saat ditemui Radar Depok, Rabu (4/12).

Ia menjelaskan, ketidaktahuan warga pada permasalahan gas bocor pun menjadi penyebab kebakaran, terutama penggunaan gas tiga kilogram alias melon karena penggunaan yang salah.

“Nah peruntukan gas melon juga harus disertakan pengetahuan terkait pemakaian, hingga dampaknya mulai dari paling terburuk, dan tentunya dengan antisipasi,” jelasnya.

Turut hadir sebagai narasumber dari Damkar Jakarta Timur Widiyanto serta Perwakilan Tagana Kota Depok Amirudin, serta Ketua RT RW hingga kepemudaan, hingga kader kelurahan.

Sementara, Tagana Kota Depok, Amirudin memparkan terkait bencana sosial yang harus diketahui warga, yakni bencana alam, bencana sosial dan bencana non alam. Selanjutnya, kata dia, warga bisa meminta bantuan kepada bagian sosial yang bernaung dalam pemerintah, baik Tagana, Damkar, PMI, serta Dinsos.

“Kalau Tagana, lebih pada logistiK, misalnya bantuan soal pakaian sekolah dan makanan. Sedangkan, bantuan material bisa diminta ke bagian lainnya,” jelasnya.

Namun pada intinya masyarakat harus dimengetahui banyak lembaga sosial atau kemanusiaan yang siap memberi bantuan bagi masyarakat terdampak benccana yang disebutkan narasumber. (rd)

 

Jurnalis : Arnet Kelmanutu (IG : @kelmanutuarnet)

Editor : Pebri Mulya