3.664 Janda Depok Bertaburan

In Utama
ILUSTRASI

 

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK–Janda dan duda baru di Kota Depok semakin banyak di 2020. Tren perceraian naik, rupanya belum terbendung. Tercatat kemarin (13/1), sampai akhir 31 Desember 2019 terdapat 3.664 pasangan resmi bercerai di Pengadilan Agama (PA) Kota Depok. Angka tersebut naik 3,94 persen dari 2018 sebanyak 3.525 pasangan. 

Humas PA Depok, Dindin Syarief mengatakan, perceraian di Depok didominasi gugatan sebanyak 2.799 perkara dan talak 865 perkara. “Tahun 2019 77 persen cerai gugat,” ujarnya kepada Radar Depok, Selasa (13/1). 

Menurutnya, pada tahun 2019 sebanyak 3.664 sidang perceraian sudah diputus oleh lembaga yudikatif ini. Angka ini naik 3,94 persen dari tahun 2018. Jumlah perceraian tahun ini lebih banyak 139 perceraian dibanding tahun 2018 yang hanya 3.525 kasus perceraian.

Meski angka perceraian cukup tinggi. Angka perdamaian juga tidak begitu mengecewakan. Masih ada beberapa pasangan yang mampu meredam ego mereka di ruang mediasi PA Depok. “Ada 15 kasus yang selesai dengan damai di tingkat mediasi,” ucapnya.

Sementara itu, Panitera Muda Hukum PA Kota Depok, Iyus Mohamad Yusuf mengungkapkan, dari ribuan kasus perceraian di tahun 2019, sebanyak 576 kasus merupakan perceraian Aparatur Sipil Negara (ASN). “Tahun 2019 ada 576 ASN yang bercerai,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, usia cerai di Depok juga sangat beragam. Mulai dari usia muda hingga usia tua. Tercatatat sudah melakukan persidangan cerai di sana, seperti usia 16–19 tahun ada 14 perkara, 19–21 tahun ada 62 perkara, 21-25 tahun ada 560 perkara, 26-30 tahun 1.470 perkara, sedangkan sisanya adalah usia 31 tahun sampai usia diatas 60 tahun. “Untuk klasifikasi pekerjaan masing–masing tidak dijelaskan dalam gugatan,” bebernya.

Dia menambahkan, total perkara yang masuk ke PA Kota Depok sebanyak 5.384 perkara, termasuk sisa perkara dari tahun 2018 sebanyak 464 perkara. “Sisa perkara tahun 2019 yang akan disidangkan di  tahun 2020 ada 461 perkara,” tegasnya.

Menanggapi tingginya angka perceraian yang terjadi di Kota Depok, Kepala Dinas Perlindungan Anak Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga (DPAPMK) Kota Depok, Nessi Annisa Handari mengaku, terus berupaya untuk menekan angka perceraian di Depok. Salah satunya dengan menggencarkan program sekolah pra nikah dan sekolah ayah bunda bagi warga Depok.

Menurut Nessi, sekolah pra nikah merupakan pendidikan bagi para pemuda dan pemudi di Depok yang sudah berusia 19 tahun keatas. Dalam sekolah ini para pemuda dibekali materi terkait ketahanan keluarga, dan juga cara membangun hubungan yang harmonis, ketahanan ekonomi serta pegembangan wirausaha.

“Peserta sekolah ini para pemuda yang belum menikah, agar kelak ketika mereka memutuskan untuk menikah mereka sudah siap secara mental,” ujar Nessi.

Sedangkan sekolah ayah bunda merupakan kegiatan pembinaan bagi para suami dan istri. Agar paham cara mengurus anak, menjaga keharmonisan keluarga, penigkatan serta diajari literasi digital oleh mentor–mentor yang kompeten. “Semua kegiatan diatas diharapkan dapat menekan angka perceraian di Depok,” pungkasnya.

Pantauan Radar Depok di Pengadilan Agama Depok memang tidak sepi. Dibagian pendaftaran ada puluhan salah satu pasangan mengantre. (rd)

 

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar

Editor : Pebri Mulya

 

You may also read!

PSHT bantu tenaga medis

PSHT Depok Berbagi Jamu dengan Tenaga Medis

PEDULI : Keluarga Besar PSHT barikan bantuan kepada tim medis di RS Brimob, Sabtu (18/04).

Read More...
BLT di negeri jepang

Di Jepang, Tiap Warga Dapat Rp14,5 Juta Hadapi Korona

ILUSTRASI   RADARDEPOK.COM - Pemerintah Jepang tengah serius untuk mengentaskan penyebaran virus Korona. negara dibawah kepemimpinan Perdana

Read More...
APD kreasi dari UI

UI Kembangkan APD Respirator

DIKEMBANGKAN : Tim ahli dan peneliti Universitas Indonesia mengembangkan prototype Alat Pelindung Diri (APD), dalam

Read More...

Mobile Sliding Menu