posko banjir di kota depok
DIRIKAN POSKO : Sejumlah warga berada di posko banjir RW 13, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoranmas yang masih terendam banjir, Kamis (2/1). Hal tersebut didirikan sebagai dapur umum untuk kebutuhan makan korban banjir. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
posko banjir di kota depok
DIRIKAN POSKO : Sejumlah warga berada di posko banjir RW 13, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoranmas yang masih terendam banjir, Kamis (2/1). Hal tersebut didirikan sebagai dapur umum untuk kebutuhan makan korban banjir. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Banjir dan longsor yang menghujam Kota Depok sedari Selasa (31/12) sore hingga Rabu (1/1), menghasilkan tiga jiwa meninggal dan infrastruktur mengalami kerusakan parah. Demi memulihkan kondisi, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok sudah menyiapkan anggaran darurat bencana dengan menerbitkan Surat Keputusan Wali Kota Depok Nomor 433/01/kpts/DPKP/Huk/2020, tentang Penetapan Status Tanggap Darurat Bencana Banjir, Tanah Lonsor dan Angin Kencang di Kota Depok.

Walikota Depok, Mohammad Idris mengatakan, tanggap darurat diputuskan dengan jangka waktu selama 14 hari. Sejak 1 Januari hingga 14 Januari 2020. Berdasarkan laporan dan hasil pengkajian cepat, telah terjadi bencana banjir, tanah longsor dan angin kencang di Kota Depok pada 1 Januari 2020. Mengakibatkan korban jiwa, kerugian harta benda dan rusaknya infrastruktur.

Dia mengungkapkan, guna mencegah kerusakan lebih lanjut serta memperhatikan akibat dan dampak yang ditimbulkan. Perlu menetapkan status tanggap darurat bencana alam. Besar anggaran tanggap darurat bencana untuk 2020 sebesar Rp20 miliar. “Peruntukannya untuk dua jenis kegiatan, yakni permanen dan non permanen,” ungkap Idris usai menggelar rapat pembahasan penetapan tanggap darurat bencana di Balaikota Depok, kepada Radar Depok, Kamis (2/1).

Dia menjelaskan, kegiatan permanen yang dimaksud yaitu pembangunan terkait infrastruktur yang diakibatkan bencana alam. Sedangkan non permanen yakni pembangunan sifatnya sementara dan pelaksanaan bantuan logistik seperti penyediaan tenda darurat, dapur umum, bantuan obat-obat, makanan dan minuman untuk keperluan pengungsi korban bencana.

“Segala biaya yang timbul sebagai akibat ditetapkannya keputusan ini dibebankan pada anggaran APBD 2020, serta sumber lainnya yang tidak mengikat,” jelasnya.

Idris juga menunjuk, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Penyelamatan Kota Depok selaku Komandan Tim Tanggap Darurat Bencana Alam di Kota Depok.

“Saya memerintahkan komandan tim untuk segera berkoordinasi dan menginstruksikan kepada perangkat daerah terkait dan lembaga daerah lainnya, dalam upaya melakukan langkah-langkah penangganan tanggap darurat bencana di Kota Depok,” tegasnya.

Surat keputusan tanggap darurat bencana alam ini juga ditembuskan ke semua perangkat daerah terkait yakni, Ketua DPRD Kota Depok, Dandim Kota Depok, Kapolrestro Depok, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Penyelamatan Kota Depok, Kepala Satpol PP Kota Depok, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Depok, Kepala Dinas Pekerjaam Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok, Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disrumkim) Kota Depok, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok dan Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Depok.

 

kabar terkini banjir di kota depok
BANTU : Warga RT4/4 Kelurahan Rangkapanjaya Jaya Baru, Kecamatan Pancoranmas  membuat dapur umum untuk korban banjir di wilayah Komplek Marinir. FOTO : LULU/RADAR DEPOK

 

Sementara itu, Kepala Bidang Penanggualangan Bencana Kota Depok, Deni Romulo mengungkapkan, bencana banjir terjadi di 83 titik di Kota Depok, dengan ketinggian banjir mulai dari 30 cm hingga 3,5 meter. “Banjir ini memberikan dampak kepada 503 KK di Depok, dan enam kios PKL, 51 rumah, satu restoran,” bebernya.

Dia menambahkan, saat ini seluruh OPD terkait sudah turun ke bawah untuk memberikan bantuan, dan penanganan cepat kepada seluruh wilayah dan korban terdampak. “Penanganan sudah berjalan, “ pungkasnya.

Bencana banjir yang terjadi di Komplek Marinir Kelurahan Rangkapanjaya Baru (RJB), Pancoranmas membuat warga RT4/4  berinisiatif membuat dapur umum di rumah warga.

Ketua RT4/4, Salim mengungkapkan, dapur umum yang dibuat di rumah warga sekitar ini murni atas dasar kemanusian untuk menolong para korban banjir.

“Untuk dua hari, dari Rabu (1/1) dan hari ini (kemarin) pemberian makan untuk korban banjir memang di koordinir oleh dapur umum yang dikelola oleh RT4,” ucap Salim kepada Radar Depok, Kamis (2/1).

Dia juga mengungkapkan, ada warganya yang juga terkena banjir, karena memang rumahnya bersebelahan dengan Komplek Marinir.

“Ada sekitar tujuh kepala keluarga di RT4 yang rumahnya masuk dalam wilayah komplek marinir, sehingga ikut terkena musibah banjir. Tetapi, semua dapat kita evakuasi walaupun ketinggian air mencapai leher orang dewasa,” lanjutnya.

Sementara itu, Istri Ketua RW4, Aslamiyah menerangkan, memang korban dievakuasi ke wilayah RT4, maka warga berinisitatif membuka dapur umum dengan meminta urunan ke warga sekitar.

“Awalnya, kita mintain dana seikhlasnya ke warga RT4 untuk makan setelah melakukan evakuasi. Setelah itu, saya share ke grup Whatsapp RW dan alhamulillah responnya sangat baik dan cepet. Sehingga dari RT1 hingga RT6 juga turut memberikan bantuan ke dapur umum yang ada disini,” jelasnya.

Aslamiyah juga menjelaskan, saat ini distribusi bahan makanan sudah banyak berdatangan, baik dari warga RW4 maupun dari berbagai pihak lainnya.

“Karena kemarin akses ke lokasi sangat sulit, untuk itu berbagai bantuan dikoordinir oleh kami. Baik bantuan dari Palang Merah Indonesia (PMI), anggota DPRD Kota Depok, Mazhab maupun dari komunitas pecinta alam turut memberikan berupa bahan makanan,”  lanjutnya.

Dia juga mengungkapkan, dari RT4 sendiri selain membuat dapur umum, juga membantu mengevakuasi para korban sebelum adanya petugas yang datang ke lokasi.

“Warga kami sejak pagi sudah membantu mengevakuasi para korban sebelum adanya petugas, baik remaja, bapak-bapak maupun ibu-ibu seua turun untuk bantu mengevakuasi korban banjir di wilayah Komplek Marinir,” ujarnya.(rd)

 

Titik Bencana dan Warga Terdampak :

Kecamatan Cilodong :

– Kelurahan Kali Baru terdapat 44 kepala keluarga (KK) dan 164 jiwa terdampak.

– Kelurahan Sukamaju terdapat 8 Kepala keluarga dan 18 jiwa.

 

Kecamatan Tapos :

– Kelurahan Cilangkap ada 40 KK dan 138 Jiwa.

– Kelurahan Jatijajar 10 KK dan 38 Jiwa.

– Kelurahan Sukamaju Baru ada 12 KK dan 35 Jiwa.

 

Kecamatan Cipayung :

– Kelurahan Ratu Jaya terdata ada 6 KK dan 25 Jiwa

– Kelurahan Bojong Pondok Terong 1 KK

Kecamatan Beji :

– Kelurahan Pondok Cina 71 KK, 260 Jiwa

 

Kecamatan Sawangan :

– Kelurahan Pasir Putih 4 KK dan 18 Jiwa

– Kelurahan Pengasinan 30 KK dan 92 Jiwa

– Kelurahan Sawangan 8 KK dan 31 jiwa

 

Kecamatan Pancoranmas :

– Kelurahan Rangkapan Jaya Baru ada 6 RT yang terdampak pada 185 KK 300 Jiwa

– Kelurahan Depok 45 KK 127 jiwa

– Kelurahan Mampang 100 KK 300 jiwa

 

Kecamatan Cinere :

– Kelurahan Cinere 55 KK 158 jiwa

– Kelurahan Gandul 30 KK 105 jiwa

– Kelurahan Pangkalanjati Baru 13 KK 38 jiwa dan 3 orang meninggal dunia, 1 mengalami luka patah pada bagian kaki.

 

Kecamatan Cimanggis :

– Kelurahan Pasir Gunung Selatan 22 KK 88 jiwa

– Kelurahan Tugu 3 KK 10 jiwa

– Kelurahan Mekarsari 3 KK 10 jiwa

*Data Tagana dan Dinas Sosial Kota Depok

 

Jurnalis : Lutviatul Fauziah (IG : @lutviatulfauziah), Indra Abertnego Siregar  (IG : @regarindra)

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)