Ketua Fokla Depok Retno Wijayanti
Ketua Fokla Depok Retno Wijayanti.
Ketua Fokla Depok Retno Wijayanti
Ketua Fokla Depok Retno Wijayanti.

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Adanya kasus penculikan anak dibawah umur asal Kota Depok yang diduga dijadikan pekerja seks komersial (PSK), menurut Ketua Forum Kota Layak Anak (Fokla) Kota Depok, Retno Wijayanti banyak sisi yang harus dilihat. Baik dari sisi remaja, orang tua, masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah.

Retno menuturkan, masa remaja adalah masa transisi dari kanak-kanak ke dewasa, jadi itu adalah masa pencarian jati diri. Berbagai penelitian menyebutkan, bahwa pengaruh teman sangat dominan di masa remaja. Sehingga, pengaruh orang tua berkurang, karena tergantikan oleh peran teman sebaya.

“Bila masa remaja ini mendapatkan teman atau lingkungan yang baik maka, akan menjadi baik juga orang tersebut terhadap teman atau lingkungannya,” ucapnya kepada Radar Depok.

Retno menuturkan, di era digital tentunya mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan mental anak. Karena, dari kasus yang ada mereka mendapatkan teman dari melalui Facebook. Jadi, sepertinya interaksi di media sosial (medsos) mempunyai pengaruh yang kuat.

Baca Juga  Delapan Mahasiswa Korea Kemalingan di Depok

Salah satu cara yang bisa dilakukan orang tua dalam hal ini, adalah orang tua harus mengenal lingkungna tedekat anak-anaknya, selain itu juga menjalin hubungan baik dengan teman-temannya. Kedekatan-kedekatan tersebut yang bisa menjadi modal hubungan harmonis antara orang tua dan anak, sehingga terjalin kepercayaan untuk bisa menjaga kehormatan diri dan keluarga.

Tetapi, jika memang dalam konteks diculik, Retni beranggapan ini adalah sebuah fenomenal sosial. Dimana ada penyimpangan perilaku, yakni seks bebas yang bisa disebabkan karena faktor ekonomi atau kejahatan kemanusiaan.

“Yang pasti ini adalah pelanggaran hak anak, yaitu eksploitasi secara ekonomi dan kekerasan pada anak,” katanya.

Retno beranggapan, pemerintah selaku pemegang regulasi, mempunyai tanggungjawab menertibkan tempat-tempat yang disewakan, seperti apartemen dan hotel agar terbebas dari pemanfaatan sarana untuk eksploitasi anak dan prilaku penyimpangan. Selain itu, juga menyediakan ruang bermain dan belajar yang representatif untuk anak mengembangkan potensial secara optimal.

Baca Juga  Intan Fauzi : Mewujudkan UMKM Naik Kelas

“Depok masih punya pekerjaan rumah infrastruktur yang memadai untuk keluarga. Tetapi, juga diiringi dengan edukasi masif untuk para orang tua agar bisa menjalankan fungsinya memberikan kebutuhan anak, baik secara fisik, mental, dan rohani,” katanya. (rd)

 

Jurnalis/Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)