Geliat Abbeline Cake
MENUNJUKAN : Agustina Khodirun saat memamerkan kue kering buatannya di mesin pemanas oven peninggalan keluarga besarnya, dikediamannya di Pancoranmas Permai, Kelurahan Mampang, Kecamatan Pancoranmas Depok. FOTO : ARNET/RADARDEPOK
Geliat Abbeline Cake
MENUNJUKAN : Agustina Khodirun saat memamerkan kue kering buatannya di mesin pemanas oven peninggalan keluarga besarnya, dikediamannya di Pancoranmas Permai, Kelurahan Mampang, Kecamatan Pancoranmas Depok. FOTO : ARNET/RADARDEPOK

 

Agustina Khodirun warga Jalan Akasia Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya, usai pensiun dari sebagai Guru Sekolah Dasar, langsung berkreasi. Bermodalkan keahlian membuat kue kering dan basah dari peninggalan orang tuanya, dia mencoba mengaplikasikannya.

Laporan : Arnet Kelmanutu

RADARDEPOK.COM – Ibu tiga anak ini memutuskan, menghentingkan langkah sebagai koki kue di salah satu toko dibilangan Ibu Kota. Itu dilakukan demi menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak-anaknya.

Kemampuannya sebagai koki pembuat kue di asahnya kembali demi menimbun pundi-pundi ekonomi. Tujuan membantu suami terkasihnya Robby Mamesah, yang berprofesi sebagi pegawai swasta alias fotografer wedding.

“Buat kue sering saya lakuin sama almarhum ibu, kue yang dibuat bukan cuma dijual, tapi kita makan sendiri. Ibu jago dan enak buat kuenya, alhamdulilah sekarang mewaris ke saya,” jelas Agustina dikediamannya yang pekat dengan aroma kue.

Sambil melangkah ke arah dapur rumahnya, Agustina kembali dengan membawa kue terpotong kecil-kecil, dan menyuguhkan untuk mencoba kue andalan keluarga besarnya. Kata dia, ini adalah kue biji ketapang yang tidak di perjualbelikan hanya untuk hari perayaan besar.

“Ini kue paling favorit semua keluarga besar kami, mau yang dewasa sampai ke anak-anak. Rasanya ciri khas kalau buatan ibu, ada tambahan bahannya biar rasanya lebih nikmat,” bebernya tanpa memberi tahu bahan andalan yang dimaksud.

Agustina juga menambahkan, sudah jatuh cinta pada dunia serupa semenjak duduk di bangku SMP hingga SMA. Bahkan, dia kerap mengikuti lomba masak atau lomba buat kue, apabila diadakan saat perayaan kemerdekaan di lingkungannya.

“Ya kan dulu ada ekskul tata boga, nilai saya bagus terus. Sudah lama memang suka masak, buat kue, di tambah diajarin langsung sama ibu,” tuturnya.

Dia mengaku, kue kering buatannya memiliki kualitas dan cita rasa yang berbeda. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan bahan baku yang digunakan untuk membuat kue kering kualitas premium. Bentuk boleh sama, tetapi soal rasa dan kualitas tentunya beda.

Setelah berpuluh tahun jarang membuat kue, lima tahun belakangan ini intensitas penjualan kue sudah mulai membuat Agustina kewalahan. Terlebih penghujung tahun 2019 dengan pesanan yang membludak, dia hanya dibantu sang suami dan anak pertamanya. (*)

 

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)