waspada penyakit usai bencana banjir
TERKEPUNG BANJIR : Banjir merendam pemukiman warga di Komplek Marinir, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kecamatan Pancoranmas, Rabu (1/1). FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
waspada penyakit usai bencana banjir
TERKEPUNG BANJIR : Banjir merendam pemukiman warga di Komplek Marinir, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kecamatan Pancoranmas, Rabu (1/1). FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Pasca bencana banjir yang melanda wilayah Kota Depok. Masyarakat masih harus mewaspadai dampak yang timbul. Salah satunya, wabah penyakit Leptospirosis yang bisa menjangkit masyakarat terdampak banjir.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Novarita mengatakan, masyarakat harus mewaspadai munculnya penyakit pasca banjir, salah satunya penyakit lptospirosis. Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans. Bakteri disebarkan lewat urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri tersebut termasuk tikus.

Novarita mengungkapkan, banjir jadi salah satu ladang penularan penyakit leptospirosis. Air genangan banjir bisa membawa kencing tikus dan menularkan leptospirosis pada manusia lewat selaput lendir, mata, hidung, luka pada kulit dan makanan. Bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh melalui mukosa membran yang terbuka, contoh luka di kulit.

“Ketika manusia terinfeksi bakteri Leptospira interrogans, maka timbul tanda dan gejala antara lain, tubuh menggigil, batuk, diare, sakit kepala tiba-tiba, demam tinggi, nyeri otot, hilang nafsu makan, mata merah dan iritasi, nyeri otot, mual, muntah dan timbul ruam pada kulit,” katanya kepada Radar Depok, Jumat (3/12).

Dia menjelaskan,  untuk penderita yang memiliki sistem imun bagus, tubuh akan pulih dalam waktu dua minggu. Namun sebagian bisa mengalami tahap kedua penyakit yakni penyakit Weil, yang ditandai dengan rasa nyeri pada dada, juga kaki dan tangan bengkak.

“Masuk tahap kedua, bakteri bisa menyerang organ lain sehingga kondisi tubuh makin parah. Bakteri bisa menyerang paru-paru (batuk berdarah, napas pendek), ginjal (kondisi gagal ginjal), otak (gejala meningitis) dan jantung (gagal jantung),” bebernya.

Oleh karena itu, dia meminta warga agar menyimpan makanan dan minuman dengan baik. Supaya terhindar dari tikus. Cuci tangan dan kaki setelah melakukan aktivitas, membersihkan endapan sisa banjir di rumah, selokan, perbaikan jaringan listrik, memakai sepatu boot karet tinggi dan sarung tangan jika harus beraktivitas di genangan air. Membasmi tikus di rumah, dan menggunakan desinfektan pada bagian-bagian tertentu rumah terlebih yang terindikasi ada kencing tikus. “Jaga kebersihan diri dan lingkungan,” tegasnya.

Belum cukup sampai di situ, masyarakat juga harus mewaspadi munculnya hewan – hewan melata seperti binyawak dan ular setelah banjir. Karena reptil tersebut mungkin akan muncul ke pemukiman warga setelah habitatnya terendam banjir. Apalagi, belum lama Kota Depok ditror dengan ular kobra.

Pengamat Reptil, Arby Khrisna mengatakan, hewan melata khususnya ular bisa saja muncul ke pemukiman warga, saat banjir atau pasca banjir. Sebab, ular juga akan menyelamatkan dirinya dari genangan arus banjir.

“Saat banjir ular akan menepi di mana saja sebisa mereka untuk mencari tempat bersembunyi, termasuk rumah warga,” kata Arby.

Untuk mencegah masuknya ular ke pemukiman, Arby menyarankan masyarakat agar masyarakat melaukan langkah–langkah prefentif. Seperti menutup saluran air yang mengarah ke rumah dengan ram atau jari–jari besi.

“Jika rumah dekat aliran sungai, cek ke sungai jika ada sampah macet diangkat jangan sampai terbendung. Biasannya ular menepi di tumpukan sampah,” bebernya.

Namun, jika banjir terlanjur meluap hingga merendam rumah. Akan sangat sulit mengantisipasi datangnya ular, sebab ular akan masuk kedalam rumah warga. “Mau tidak mau jika ada penampakan ular di rumah segera hubungi Damkar atau komunitas pecinta reptil,” pungkasnya. (rd)

 

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar  (IG : @regarindra)

Editor : Pebri Mulya (IG :@pebrimulya)