AKAN NAIK : Penjaga warung menunjukkan berbagai macam merk rokok yang dijual di salah satu kawasan di Kota Depok, Kamis (24/10). Pemerintah pusat berencana akan menaikkan tarif cukai rokok. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
MAKIN MAHAL : Harga rokok di warung di Kota Depok perlahan-lahan mulai naik. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

JAKARTA – Kenaikan tarif cukai rokok yang telah berlaku sejak 1 januari 2020, tentunya berdampak pada harga per bungkus rokok yang dijual di toko dan warung.

Dalam penetapan tersebut, tarif cukai hasil tembakau untuk Sigaret Kretek Mesin (SKM) naik sebesar 23,29 persen, Sigaret Putih Mesin (SPM) meningkat 29,95 persen, dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) atau Sigaret Putih Tangan naik 12,84 persen.

Beberapa pedagang rokok pun sebenarnya sudah mulai berancang-ancang akan kenaikan harga rokok tersebut sejak Desember 2019. Menurut pengakuan beberapa penjual rokok, mereka sudah menaikkan harga rokok sejak Desember 2019. Namun kenaikannya tidak terlalu besar.

Kemudian pada Januari ini, mereka juga kembali menaikkan harga rokok yang tidak terlalu besar. Langkah itu dilakukan agar pembeli tidak begitu berat dengan kenaikan harga rokok.

“Harga rokok di warung memang naik, tapi bertahap. Awal Desember sudah saya naikkan harganya, tapi pelan-pelan. Kalau langsung naik banyak bisa-bisa tidak ada yang beli,” ujar salah satu pedagang rokok di kawasan Depok, Susi Martini, Minggu (5/1).

Masih di kawasan Kota Depok, di salah satu pedagang warung rokok di Jalan Kartini, Iwan menuturkan, daftar harga rokok pada warungnya belum terjadi kenaikan yang berarti. Harga-harga rokok tersebut masih di bawah penetapan harga dari pemerintah.

“Banyak merek rokok yang saya jual lebih mahal dari sebelumnya, tetapi tidak sampai dua kali lipat harganya, bahkan tidak ada yang sampai sebesar 10 ribu kenaikannya,” ujarnya.

Teguh mencontohkan, untuk rokok merek U Mild, harganya naik Rp 2.000 per bungkus dari kisaan Rp 14 ribu menjadi Rp 16 ribu. Sedangkan untuk rokok merek Marlboro naik Rp 4.000 per bungkus dari harga Rp 26 ribu menjadi Rp 30 ribu.

Para pedagang tersebut tidak melakukan antisipasi dengan adanya kenaikan harga rokok. Selain itu, pedagang juga mengatakan bahwa sementara ini penjualan rokok tidak menurun meskipun ada kenaikan harga.

“Tidak ada antisipasi sama sekali, kalau memang kebijakan sudah seperti itu, ya saya ikuti. Tidak ada antisipasi persiapan stok yang banyak sebelum harganya naik. Walaupun naik, pengonsumsi rokok juga pasti tetap beli ke warung kok,” tambahnya. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya (IG : @radardepok)