Ingin Segarkan Depok, Rama Maju Pilkada

In Politika
Rama maju pilkada depok
BERI PEMAPARAN : Rama Pratama memberikan pemaparan terkait visi dan misinya dalam pencalonan dirinya menjadi Walikota Depok periode 2020-2025 di Kedai Kopi Verbena, Grand Depok City, Rabu (15/1). FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Berangkat dari keresahan kondisi Depok yang makin semrawut, salah satu pimpinan aktivis 1998, Rama Pratama mendeklarasikan diri maju sebagai Bakal Calon Walikota Depok pada Pilkada 2020 di kawasan Grand Depok City (GDC), Kelurahan Tirtajaya, Sukmajaya, Rabu (15/1).

Mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI periode 2004-2009 itu mengaku, ada sejumlah alasan dirinya ingin maju di Pilkada Depok. Di antaranya ingin merubah kota penyangga Jakarta itu ke arah yang lebih baik.

“Saya sudah tinggal di Depok sejak 1987. Alhamdulillah, saya bisa kuliah di UI, Depok, dan sampai sekarang saya tinggal di Depok. Saya melihat Depok seharusnya bisa lebih baik lagi, menjadi kota yang segar dan nyaman bagi warganya jika dikelola dengan baik,” tuturnya saat precon.

Sehingga, untuk mengikuti kontestasi Pilkada Depok 2020, Rama memiliki misi dan visi mengangkat tema ‘Segarkan Depok’. “Mengapa saya mengangkat tema Segarkan Depok, karena sudah 33 tahun saya tinggal di sini dan Depok makin Enggak segar, sumpek dan tidak ramah kepada warganya sendiri,” ujarnya

Pria yang saat ini terpilih sebagai kandidat doktor di Universitas Indonesia (UI) itu menilai, warga Depok butuh kesegaran agar tidak melulu bergantung pada Ibu Kota.

“Jadi enggak cuma kerja di Jakarta, cepat-cepat sampai rumah, dan tutup pintu. Depok harus dibangun menjadi kota yang segar, tempat warganya berinteraksi dengan sehat, dengan lingkungan dan infrastruktur yang mendukung,” katanya.

Rama mengurai slogan 2020 Segarkan Depok itu menjadi tiga program utama, yaitu Segarkan Lingkungan, Segarkan Masyarakatnya, dan Segarkan Pelayanan Publiknya. Dirinya menilai penyegaran lingkungan sangat dibutuhkan, karena Depok kini dilanda kemacetan, masalah sampah, dan ketersediaan air tanah yang makin berat.

“Awalnya tentu dari tata ruang. Depok mau ditata seperti apa, di mana pemukiman, di mana aktivitas komersial, bagaimana ketersediaan air untuk bangunan-bangunan tinggi dan komersial, dan bagaimana mengurai kemacetan,” urainya

Pria kelahiran 17 November 1974 itu juga menilai, pembangunan dan aktivitas ekonomi Depok saat ini terlalu terpusat di Margonda. Dan, itu menjadi salah satu akar masalah di kota tersebut. Menurutnya, harus ada pusat-pusat aktivitas baru serta alternatif akses dan konektivitas jalan agar tidak semua melalui Margonda dan menimbulkan kemacetan yang parah.

Ia berpendapat banyak wilayah berpotensi dan bisa menjadi solusi terkait persoalan itu. Diantaranya daerah Tapos dan Leuwinanggung, di timur, dan daerah Sawangan dan Bojongsari di barat.

“Wilayah itu seperti halaman belakang Depok. Padahal, posisi mereka strategis sebagai akses ke Jakarta dan Tangerang Selatan. Harus dipikirkan agar daerah ini lebih tumbuh sehingga tidak semua urusan menumpuk di Margonda,” jelasnya

Sedangkan untuk mengatasi kemacetan, Rama menawarkan sistem transportasi yang modern dan terintegrasi dengan Jakarta. “Bisa saja nantinya bersinergi dengan TransJakarta, misalnya. Mengapa tidak,” urainya.

Yang terpenting, sambung Rama, masyarakat disuguhkan berbagai pilihan moda transportasi publik yang nyaman untuk memenuhi kebutuhan mobilitas. “Dari situ diharapkan penggunaan kendaraan pribadi menurun diiringi dengan optimalisasi jalur-jalur jalan lain selain Margonda,” sambungnya.

Rama menyatakan akan berinisiatif mengawal dialog dengan banyak pihak untuk kemajuan kota Depok. Sebab ia menganggap selama ini masalah perbedaan kewenangan sering dijadikan alasan suatu masalah tidak bisa diselesaikan.

“Padahal, harus ada yang memulai dan tidak boleh ada pihak yang mengedepankan egonya masing-masing,” ujarnya.

Untuk menyegarkan pelayanan publik, mantan Ketua Senat UI itu mengusulkan pemanfaatan teknologi informasi sebagai ujung tombak. Inti dari pelayanan publik adalah kejelasan proses dan waktu dan itu sebenarnya bisa diperbaiki dengan teknologi.

Meski demikian, mantan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menegaskan, meski belum mempunyai partai pengusung. Namun, ia tak berniat maju melalui jalur independent. Dan saat ini, pihaknya sedang melakukan tahap penjajakan ke sejumlah partai.

“Dialog itu sedang berjalan. Mudah-mudahan pada waktunya akan ada titik temu dengan partai-partai politik terkait pencalonan saya di Pilkada Depok ini,” katanya

Merunut pada hasil Pemilu 2019, partai-partai yang dapat mengajukan calon sendiri karena memiliki 10 kursi DPRD atau lebih di kota Depok adalah Partai Keadilan Sejahtera (12 kursi), Partai Gerindra (10 kursi), dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (10 kursi).

“Insya Allah saya optimis. Yang dibutuhkan Depok adalah kolaborasi dan saya juga akan mengajak semakin banyak pihak untuk sama-sama mewujudkan Depok yang segar, Depok yang maju dan membanggakan bagi warganya,” ucap Rama. (rd)

 

Jurnalis : Ricky Juliansyah

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)

You may also read!

walikota depok bermasker putih

Mohammad Idris Ajukan Cuti Mulai 26 September

Mohammad Idris   RADARDEPOK.COM, DEPOK – Mohammad Idris yang kini menjadi Walikota Depok, akan bertarung pada Pemilihan

Read More...
PN pedagang pasar kemirimuka

Banyak Bansos di Depok, Bikin Harga Sembako di Pasar Turun

MELAYANI PEMBELI : Pedagang ikan melayani pembeli saat berada di Pasar Kemirimuka, Kecamatan Beji. FOTO

Read More...
XL untuk pembelajaran

Belajar Online Tambah Seru? #KenapaNggak

  RADARDEPOK.COM - Masa pandemi membuat kita beradaptasi dengan banyak hal baru. Selain kita harus selalu menggunakan masker, mencuci tangan

Read More...

Mobile Sliding Menu