cahaya souvenir sri wulansari
SUKSES : Owner Cahaya Souvenir, Sri Wulandari memperlihatkan produk buatannya di tokonya, Jalan Raya Margonda. FOTO : LULU/RADAR DEPOK
cahaya souvenir sri wulansari
SUKSES : Owner Cahaya Souvenir, Sri Wulandari memperlihatkan produk buatannya di tokonya, Jalan Raya Margonda. FOTO : LULU/RADAR DEPOK

 

Melihat usaha souvenir memiliki peluang yang cukup menjanjikan, menjadikan Sri Wulandari terjun keusaha tersebut setelah resigm dari pekerjaannya. Kini ia memiliki tiga orang karyawan dengan omset yang cukup fantastis.

Laporan : Lutviatul Fauziah

RADARDEPOK.COM – Setelah resign kerja pada 2006, Sri Wulandari mencoba melamar pekerjaan lain, tetapi sepertinya keberuntungan belum berpihak pada dirinya. Akhirnya, ia mencoba untuk membuka usaha bersama suami tercintanya.

Melihat disepanjang jalan Raya Margonda banyak toko percetakan dan souvenir dan terlihat menjanjikan, membuat dirinya berfikir ingin membuat usaha serupa. Dengan keterampilan yang  dimiliki, ia mulai mencoba menggeluti bisnis souvenir, dengan memproduksi jenis goodybag, pin, plakat, note hingga mug.

Saat itu ia tak langsung memiliki toko, karena uang yang dimilikinya hanya cukup untuk modal awal saja, maka saat itu ia masih membuat di rumahnya di wilayah Sukmajaya.

“Setiap hari, kami melewati seputar Jalan Raya Margonda, dan selalu membaca salawat agar dapat memiliki toko di daerah tersebut. Alhamdulillah, setahun kemudian kita dapat menyewa toko di daeerah Margonda,” ucapnya kepada Radar Depok, Kamis (2/1).

Tetapi, semua tak berjalan mulus, ternyata toko yang disewanya bermasalah dalam sengketa, penyewa awal malah menyewakan tokonya kembali. Dirinya dipaksa pindah malam itu juga, dengan kondisi sudah larut malam.

“Saat itu kondisi kerjaan lagi sangat banyak dan barang yang harus dibawa cukup banyak. Saya  bersama suami bingung, harus dibawa kemana dan pemilik toko benar-benar tidak memberikan dispensasi sama sekali. Akhirnya, tak ada pilihan lain kita harus bawa ke rumah kontrakan kami yang hanya berukuran 4×10 meter,” jelasnya.

Dalam dua bulan mereka benar-benar tidak ada pesanan dan tidak ada pemasukan uang sama-sekali.

Tak hanya sampai disitu, ujian yang ia lalui cukup banyak, mulai dari ditipu oleh pembeli hingga uang miliknya dibawa oleh pegawainya sendiri.

Namun, mereka tak mudah menyerah dengan berbagai masalah yang dihadapinya. Ia terus berusaha dan memohon kepada Allah SWT agar senantiasa memudahkan jalan yang dilaluinya bersama sang suami.

Setelah itu, ia mencoba meminjam uang kepada salah satu Bank Syariah untuk kembali melanjutkan usaha dan menyewa toko di daerah Margonda. Setelah itu, semuanya kembali normal. Pesananan pun mulai berdatangan.

Hasil dari usaha dan doanya selama ini, kini ia memiliki tiga karyawan dan omset yang fantastis, karena mencapai Rp 80 juta dalam sebulannya. Bahkan,  ketika memasuki  pesta demokrasi, pendapatannya melambung hingga Rp170 juta per bulan.

“Allah telah mendengar dan mengabulkan doa kami selama ini, semoga saya dan suami dapat bermanfaat bagi orang sekitar dan dapat membuka lapangan kerja lebih banyak,” pungkasnya dengan berurai air mata. (*)

 

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)