nagasrana cake 2
SUKSES: Owner Nasgarana Cake and Food, Qasih Puspitasari (32) saat mengikuti pelatihan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) bersama sang mentor. FOTO : LULU/RADAR DEPOK
nagasrana cake 2
SUKSES : Owner Nasgarana Cake and Food, Qasih Puspitasari (32) saat mengikuti pelatihan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) bersama sang mentor. FOTO : LULU/RADAR DEPOK

 

Merintis usaha baru memang banyak rintangannya, begitu juga dengan Qasih Puspitasari (32), ia seringkali mengelus dada karena adanya oknum yang memesan kue tetapi tidak diambil, bahkan pernah ada yang tidak membayar pesanannya.

Laporan : Lutviatul Fauziah

RADARDEPOK.COM – Setiap usaha yang dijalani, memang tak lepas dari tantangan di setiap perjalanannya. Begitupun usaha rumahan yang dijalani Owner Nasgarana Cake and Food, Qasih Puspitasari (32).

Bermula dari hobi membuat kue dan hanya mendapat untung Rp15 ribu perloyang dan tak didukung suami, membuat dirinya semakin berusaha keras menunjukan bahwa dirinya mampu.

Qasih semakin berusaha agar kue buatannya semakin dikenal banyak orang, ia rajin memposting hasil produksinya guna menarik perhatian pembeli. Namun, rintangan yang ia hadapi cukup banyak.

Awalnya ia bingung dalam mengembangkan usahanya, lalu ia mencoba peruntungan lain dengan berjualan sosis bakar dan ayam bakar. Namun sayang, semua tak berlangsung lama karena dirinya merasa kesilitan jika harus membagi waktu antara mengurus ketiga anaknya dengan berjualan.

Tak disangka, setelah menutup usaha ayam bakarnya ternyata sudah cukup banyak masyarakat yang mengetahui usahanya. Sehingga, banyak yang sering order nasi boks untuk arisan, syukuran dan kegiatan lainnya.

Tapi sayang, semua ia kerjakan sendiri dan merasa kerepotan jika pesanan sedang banyak, serta pemasukannya masih belum cukup untuk membayar tenaga karyawan, karena usaha rumahannya belum begitu berkembang.

“Pendapatan yang dihasilkan belum cukup untuk membayar karyawan. Semua masih sendiri. Dibilang repot, memang cukup repot tetapi semua tetap saya jalani dengan senang,” ucap ibu tiga anak ini.

Yang menjadi kendalanya saat itu ialah, pesanan mulai banyak tetapi peralatan yang dimiliki belum lengkap. Maka setiap keuntungan dari pesanan kue dan nasi boks ia sisihkan untuk membeli perlengkapan yang masih kurang.

Bahan-bahan kue pesanan kadang juga sulit ia dapatkan, tetapi dirinya tak langsung patah semangat. Adanya kendala yang dihadapi semakin membuatnya semangat terus melanjutkan bisnis.

Tak hanya sampai di situ, beberapa kali dirinya merasa rugi karena ada beberapa oknum yang sudah memasan kue tetapi tidak diambil. Ada juga yang sampai membuatnya harus mengelus dada karena tidak membayar sama-sekali.

“Semua saya ambil berkahnya, ikhlasin saja karena rezeki sudah diatur Allah dan tak akan tertukar. Semoga Allah memberikan yang lebih baik lagi,” ucapnya berkaca-kaca. (*)

 

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)