komunitas pengerajin tempe
GUYUB : Komunitas Pengrajin Tempe usai merayakan malam tahun baru dengan pemotongan tumpeng di RW 20, Kelurahan Bhaktijaya Sukmajaya. FOTO : ARNET/RADAR DEPOK
komunitas pengerajin tempe
GUYUB : Komunitas Pengrajin Tempe usai merayakan malam tahun baru dengan pemotongan tumpeng di RW 20, Kelurahan Bhaktijaya Sukmajaya. FOTO : ARNET/RADAR DEPOK

 

Malam tahun baru dirayakan hampir seluruh kalangan, seperti Komunitas Pengrajin Tempe se-Depok Timur yang berdomisili di RW20 Kelurahan Baktijaya yang menggelar tasyakuran di Sangkar Semut, Jalan Merdeka Raya, markas Karang Taruna (Katar) RW20 kelurahan setempat.

Laporan : Arnet Kelmanutu

RADARDEPOK.COM – Menjaga keguyuban sesama pengrajin tempe di kawasan Timur Depok. para pelaku usaha bersama memanjatkan doa dan harapan di tahun 2020 agar usaha mereka semakin bermanfaat bagi para penikmat makanan tradisional yang berbahan dasar kacang kedelai.

Ketua Paguyuban Pendi mengatakan, agenda ini dilaksanakan agar anggota semakin solid dan menjadi ajang bertukar pikiran, dalam mengembangkan usaha mereka. Sebab, hal tersebut menjadi misi di tahun mendatang.

“Ini memang sudah berjalan beberapa tahun belakangan, alhmadulilah jumlah kami semakin bertambah, ini jadi capaian baik kami,” kata pria yang berasal dari Jawa Tengah ini.

Sekitar sepuluh orang lebih, kini para pengajin tersebut tahun ini bertambah dua orang dan menjadi 12 orang. Hal ini berawal saat Pendi berpikir bersama rekan sekampungnya untuk menyatukan pengrajin yang ada.

“Saya yakin ada, karena di sini banyak pasar tradisional. ternyata benar ada saja teman pengrajin tempe juga,” ungkap Pendi.

Kesatuan ini timbul atas dasar mereka yang berterima kasih kepada bahan kedelai alias tempe yang telah berkontribusi memberikan kehidupan kepada keluarganya.

Hal itu juga diakui Boim salah satu pengrajin yang menyuplai Pasar Musi kalau 10 tahun dirinya menyekolahkan anaknya hingga lulus SMA dari tempe ini. Ketekunan dalam dirinya untuk mengolah bahan pokok makanan asli Indonesia telah banyak memberi nafas bagi istri dan anaknya.

“Itu jelas, harus kita akui bersama. banyak yang diberikan kehidupan dari hasil tempe. biar dibilang tempe makanan orang susah tapi dia beri kehidupan untuk saya dan keluarga,” papar Boim dengan jaket hitam merah milik komunitas pengrajin tempe.

Usai memanjatkan doa, pemotongan tumpeng menjadi puncak sekaligus penutup dengan di akhiri dengan menyantap makanan olahan mereka, seperti tempe goreng, tempe bacem, dan tempe-tempe lainnya. (*)

 

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)