brigif bantu evakuasi korban banjir di PGS
BANTU EVAKUASI: Prajurit Brigif Para Raider 17 Kostrad Cimanggis membantu mengevakuasi warga yang terkena banjir, di Jalan Bukti Pasir RW04 dan RW12 Kelurahan Pasir Gunung Selatan, Kecamatan Cimanggis. FOTO : INDRA SIREGAR/RADAR DEPOK
brigif bantu evakuasi korban banjir di PGS
BANTU EVAKUASI : Prajurit Brigif Para Raider 17 Kostrad Cimanggis membantu mengevakuasi warga yang terkena banjir, di Jalan Bukti Pasir RW04 dan RW12 Kelurahan Pasir Gunung Selatan, Kecamatan Cimanggis. FOTO : INDRA SIREGAR/RADAR DEPOK

 

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali merilis jumlah korban meninggal akibat banjir dan longsor di Jabodetabek, Banten, dan Jawa Barat per Sabtu (4/1). Dimana sebelumnya berjumlah 43 korban tewas, kini menjadi 53 orang, dan satu di antaranya hilang.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo menyebut penambahan korban terjadi akibat banjir dan longsor di Kabupaten Lebak dan Kabupaten Bogor.

“Untuk Kabupaten Bogor 5 (lima) orang meninggal namun identitas masih belum diketahui,” kata Agus.

Sebelumnya, BNPB mencatat Kabupaten Bogor, Jawa Barat, merupakan wilayah terdampak banjir dengan jumlah korban paling banyak, yakni 16 orang. Disusul oleh Kabupaten Lebak (9), Kota Bekasi (9), Jakarta Timur (7), dan Kota Depok (3).

Agus mengatakan data jumlah korban akibat banjir dihimpun dari data BPBD, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Sosial.

“1 orang hilang, 3 orang hipotermia, 17 orang terseret arus banjir, 5 orang tersengat arus listrik, 12 orang tertimbun tanah longsor serta 5 orang masih dalam pendataan BNPB,” kata Agus.

Agus menambahkan, sedangkan untuk jumlah warga terdampak banjir dan longsor di Jabodetabek mencapai 409 ribu jiwa hingga Kamis (2/1) pukul 22.00 WIB. Sedangkan, warga yang berada di dalam pengungsian, jumlahnya lebih dari 173 ribu jiwa.

Kota Bekasi menjadi lokasi paling parah terdampak banjir hingga mencapai 366.274 jiwa, dan 150 diantaranya berada di pengungsian hingga Sabtu (4/1).

Banjir menerjang sebagian wilayah Jabodetabek akibat hujan dengan intensitas tinggi yang turun sejak 31 Desember 2019 hingga 1 Januari 2020.

BNPB menyatakan bencana banjir yang merendam sejumlah wilayah Jabodetabek pada Rabu (1/1) lalu belum perlu ditetapkan sebagai bencana nasional. Sebab, ‘banjir tahun baru’ itu tidak mengganggu sistem pemerintahan.

Sementara Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil sudah menetapkan lima wilayah di provinsinya dengan status tanggap darurat. Penetapan status ini berlaku selama dua minggu terhitung sejak 1 Januari 2020. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya (IG :@pebrimulya)