Psikolog Anak dan Remaja, Astrid W.E.N.
Psikolog Anak dan Remaja, Astrid W.E.N.
Psikolog Anak dan Remaja, Astrid W.E.N.
Psikolog Anak dan Remaja, Astrid W.E.N.

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Banyak hal yang perlu diketahui orang tua dalam menangani dan proses pemulihan anak yang kecanduan gadget.

Psikolog Anak dan Remaja, Astrid W.E.N. menuturkan, yang dimaksud candu berarti teradiksi. Ia menilai, mengetahui seseorang teradiksi bisa dideteksi dari hal kecil.

“Kecanduan main gadget jadi lupa makan sampai lupa sekolah.  Dari situ kita tahu anak tersebut punya masalah adiksi, karena kehilangan jadwal kesehariannya,” tutur Astrid kepada Radar Depok.

Menurut Astrid, Adiksi tidak terlihat kasat mata. Karena hanya anak saja yang mampu merasakan. Kecuali efeknya yang mampu merusak jadwal keseharian. Muncul juga masalah emosional.

“Misalnya anak merasa kesal ketika gadgetnya diambil. Ia marah karena bendanya dianggap penting atau bernilai baginya,” terang Astrid.

Ada pula ketika anak mencoba bernegosiasi dengan orang luar untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Seperti ketika si anak disuruh mengerjakan PR, namun ia menegosiasikan dengan orang tuanya agar dia diizinkan bermain gadget terlebih dahulu sebelum mengerjakan PR.

“Dalam kasus diatas, terkadang banyak orang tua yang tidak peka. Padahal, seharusnya orang tua harus menerapkan aturan bahwa kewajiban dilakukan terlebih dulu, baru hak nya, agar regulasinya berjalan kembali seperti semula,” tegas Astrid.

Dalam hal tersebut juga sering muncul masalah tidak peka dengan sekitar, sebenarnya bukan sesuatu hal yang besar. Namun kalau dilakukan terus menerus dapat mengganggu dinamika keluarga.

“Sebenarnya, bermain gadget itu tidak apa-apa. Tetapi kalau sampai kecanduan baru bahaya. Jadi apapun yang berlebihan, memang tidak baik, harus ada batasannya,” tandasnya.

Sementara dari sisi kesehatan, dampak negatif candu gadget pada anak bisa berupa sakit di bagian mata, tangan, atau pun lehernya. Astrid menilai, sebenarnya anak-anak masih butuh bermain eksplorasi. Maka memang mereka perlu banyak mengganti waktu bermain gadget dengan berinteraksi di dunia nyata.

“Masalah emosi, tingkah laku, ketidakpekaan, atau masalah relasi ini membesar bisa menjadi depresi. Masalah empatik jadi tidak empatik, dan ada kecemasan atau neurotik,” ungkap Astrid.

Adapun proses pemulihan dari candu membutuhkan waktu. Menurut Astrid, untuk breaking butuh ketegasan dan keterlibatan aktif dari orang tuanya.

“Anak masih butuh pengawas, butuh dibantu untuk dibatasi jam bermainnya,” tandasnya.

Ia juga menilai, sangat penting bagi ibu maupun ayah memperhatikan anaknya. Bila tidak ada ketegasan, anak bisa dibimbing kerabat orang tuanya. Syaratnya, kerabat harus mengerti kondisi anak secara psikis.

“Jika anak ingin lepas dari candu, kuncinya kekompakkan keluarga,” tegasnya.

Senada, Aktivis Parenting, Irwan Rinaldi mengatakan, pentingnya memahami perkembangan anak sejak dini dengan pencegahan dan penanganan yang tepat, tanpa menimbulkan efek traumatis.

Irwan menilai, bisa dilihat juga dari pola asuh keluarga. Karena kalau keluarga tidak mempunyai pola asuh maka pola asuh diberikan dari orang lain.

“Jadi, kita tidak bisa menyalahkan produksi gawainya. Seorang ayah harus berperan sebagai ayah, ibu pun harus berperan sebagai ibu,” tutur Irwan kepada Radar Depok.

Tidak hanya itu, orang tua juga perlu mengetahui penyebab anak kecanduan gawai sebagai tindak pencegahan. Gawai berisi stimulan, saat seorang anak mengonsumsi stimulan tersebut maka otak anak akan memroses secara cepat. Apabilaa struktur otak anak distimulan terus-menerus dengan gawai, otaknya akan merasa nyaman dan anak jadi ketergantungan gawai.

“Kalau anak sudah kecanduan gawai, keluarga harus melakukan teerapi kepada anak. Jika tidak terlalu parah, terapi bisa di rumah. Melalui ketegasan dan ketegaan. Maksudnya, anak harus bisa dikontrol dalam penggunaan gawai, dengan mengatur waktu dia bermain gawai,” tandasnya.

Irwan juga menjelaskan bagaimana merawat anak saat usianya masih di bawah 8 tahun. Saat ditemui dalam Talkshow Parenting pada 17 Januari lalu, Irwan berpesan agar orang tua berfokus pada tiga hal, yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani anak.

Saat usia 0-8 tahun adalah usia-usia anak yang menjadi bahan perhatian orang tua. Dimana peran ayah dan ibu menjadi penting, kata Irwan, untuk masa perkembangan anak. Jika, orang tua ingin anaknya tumbuh dengan baik, orang tua perlu fokus pada usia-usia emas tersebut.

“Jika ingin menghebatkan anak bisa di masa-masa emas itu, sebaliknya apabila ingin merusak anak rusaklah di masa itu juga,” ujarnya.

Irwan juga menjelaskan di usia tersebut, anak bisa menyimpan 6000 kata per hari di otaknya. Artinya, seorang anak dapat mengingat setiap kata yang didengar, kemudian disimpan ke dalam memori. Maka dari itu, orang tua bisa lebih bijak dalam berkata-kata di depan anak-anaknya.

“Sama dengan saat anak diberi fasilitas gawai, sebenarnya tidak apa-apa. Namun, perlu ada pantauan dari kita. Karena isi gawai itu macam-macam, anak pun juga lebih mudah meniru apa yang dilihatnya. Dengan itu jika kita fokus dengan tiga hal tersebut, maka perkembangan anak ke depannya akan baik,” tegasnya. (rd)

 

Jurnalis : Tanya

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)