komunitas ranggon sastra habis
KOMPAK: Anggota Komunitas Ranggon Sasta setelah menyelesaikan pentas tahunannya beberapa waktu lalu. FOTO : RUBIAKTO/RADAR DEPOK
komunitas ranggon sastra habis
KOMPAK : Anggota Komunitas Ranggon Sasta setelah menyelesaikan pentas tahunannya beberapa waktu lalu. FOTO : RUBIAKTO/RADAR DEPOK

 

Tidak ada ilmu yang sia-sia. Kesempatan selalu ada. Tinggal bagaimana mengembangkan kemapuan yang ada. Memekarkan ilmu saat kita mulai berbaur dengan masyarakat. Ranggon mengerjakan itu, bersama keluarganya.

Laporan : Rubiakto

RADARDEPOK.COM – Indonesia telah menjadi rumah untuk sastra, salah satunya teater. Dari awal perintisan teater modern hingga banyak berkembangnya teater tradisional Indonesia. Wajah Indonesia dikemas dalam berbagai macam pertunjukan teater di Indonesia. Masyarakat teater Indonesia menjadikan wadah untuk melukiskan keadaan bangsa dengan seni pertunjukan.

Teater menjadi alat pertukaran budaya antar bangsa dan suku di Indonesia. Sebagai seni pertunjukan yang menggabungkan dari beberapa bidang ilmu kesenian teater, sangat mudah disukai oleh para masyarakat penikmatnya.

Dari awal datangnya seniman dari India yang memperkenalkan seni teater modern. Masyarakat Indonesia langung dapat memahami dan berusaha, untuk mempertahankan seni pertunjukan ini. Agar selalu mendapat tempat yang layak dikehidupan masyarakat Indonesia.

Dalam beberapa fase perkembangan teater di Indonesia dapat memahami teater dapat mempengaruhi setiap bangsa. Bahkan, Jepang juga menggunakan teater untuk media mempropaganda masyarakat Indonesia.

“Teater dalam ruang lingkup kerajaan juga memposisikan diri sebagai media untuk mempengaruhi perpolitikan disuatu kerajaan. Dalam bermasyarakat teater dapat dijadikan hiburan dan bahan pendidikan yang menarik. Sehingga, masyarakat bisa memahami dengan harapan dapat menjadi tolak ukur menjalankan kehidupan bermasyarakat,” kata penggiat teater di KRS, Dalma Suci. (rd)

 

Jurnalis : Rubiakto (IG : @rubiakto)

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)