komunitas sastra di depok
BERPRESTASI: Komunitas Ranggom Sastra saat memenangkan beberapa nominasi di Fertival Teater Jakarta (FTJ), beberapa waktu lalu. FOTO : RUBIAKTO/RADAR DEPOK
komunitas sastra di depok
BERPRESTASI : Komunitas Ranggom Sastra saat memenangkan beberapa nominasi di Fertival Teater Jakarta (FTJ), beberapa waktu lalu. FOTO : RUBIAKTO/RADAR DEPOK

 

Pembelajaran sastra mulai di tinggalkan. Tidak mudah untuk mengenalkan sastra di kalangan pelajar. Komunitas Ranggon Sastra (KRS) mulai menyadari, untuk menyadarkan pelajar lebih mengenal karya sastra harus merambah ke sekolah.

Laporan: Rubiakto

RADARDEPOK.COM – Komunitas Ranggon Sastra punya cara unik mendekatkan literasi Indonesia kepada para pelajar. Yakni melaksanakan program Sastra Masuk Sekolah (SMS). Hal yang melatarbelakangi program Sastrawan Masuk Sekolah, adalah problematika umum yang hampir dijumpai di setiap sekolah, yaitu minimnya pengalaman guru dalam menciptakan dan mengapresiasi karya sastra.

Untuk itu, diperlukan pembelajaran sastra yang mempertemukan langsung guru. Dan siswa dengan pengarang atau sastrawan dalam rangka pembelajaran berbasis pengalaman.

Diharapkan nantinya, pengalaman sastrawan dalam berkarya dapat jadi motivasi bagi guru dan siswa untuk berbahasa dan bersastra di sekolah. Sehingga guru dan siswa tidak hanya dapat membaca teks sastra. Tetapi juga dapat mengkritik, mengkreasi teks, dan menyusun teks sastra.

Anggota KRS, Dalma Suci Aprillianty menyebutkan, kegiatan Sastrawan Masuk Sekolah sebagai upaya penguatan bahasa maupun sastra Indonesia. “Sastrawan Masuk Sekolah bertujuan untuk meningkatkan apresiasi sastra dalam pembelajaran bagi guru dan siswa,” kata Uci -sapaan Dalma Suci-.

Sebagai sastrawan yang produktif menelurkan karya literasi, dia memberikan pemahaman tentang teknik penulisan kreatif. Dan tips yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang penulis. “Jangan bermimpi untuk menjadi seorang penulis kalau kita tidak gemar membaca,” ujarnya.

Menulis dapat dimulai dengan menulis catatan perjalanan. “Kalau kita pergi ditulis dalam sebuah catatan, yaitu transportasi, penginapan, kuliner, tempat beribadah, dan oleh-oleh,” katanya.

Dia juga berpesan, untuk memanfaatkan internet dengan baik, salah satunya dengan menulis hal-hal yang bermanfaat di media sosial. “Mulailah menulis dengan satu kata, dua kata, tiga kata, satu kalimat hingga berkalimat-kalimat dan akhirnya menjadi suatu tulisan yang utuh,” tegasnya.

Melalui program Sastrawan Masuk Sekolah, KRS berharap guru dan siswa dapat menularkan dan menanamkan nilai-nilai luhur sastra dan budaya kepada orang di sekitarnya. (*)

 

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)