Oleh: K.H. Drs. A. Mahfudz Anwar, MA

Ketua MUI Kota Depok

 

BANYAK orang berhasil merubah kebiasaan buruk suatu masyarakat dengan cara-cara yang baik. Sehingga tanpa terasa keadaan buruk tersebut berubah menjadi lebih baik daripada kondisi semula. Tapi juga tidak sedikit seseorang merasa sulit untuk merubah kebiasaan buruk masyarakat yang telah mengakar di suatu tempat. Tentu hal ini perlu dilihat dari berbagai sudut pandang.

Berdasarkan tuntunan agama islam, faktor manusianya sangat menentukan keberhasilan suatu usaha perubahan. Di mana seseorang yang piawai melakukan pendekatan humanis biasanya lebih sukses dibanding pendekatan dengan menggunakan tangan besi. Misalnya saja Rasulullah saw (Nabi Muhammad saw) bisa sukses dalam mendakwahkan konsep-konsep kebaikan hanya dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama. Dalam masalah moralitas manusia, Rasulullah saw lebih berhasil mengembangkannya untuk menjadi jalan hidup masyarakat.

Kebiasaan buruk yang sudah turun temurun di masyarakat bisa dirubah menjadi kebiasaan yang lebih positif. Demikian juga para Ulama’ di negeri tercinta ini telah berhasil mendakwahkan kebiasaan baik untuk menggantikan kebiasaan negatif yang sudah lama mendarah mendaging. Pendekatan moral lebih dikedepankan daripada pendekatan hukum (syari’at). Misalnya saja dengan memperkenalkan jatidiri Tuhan. Bahwa Tuhan itu adalah Penguasa Jagat Raya yang menguasai alam semesta ini. Yang mencukupi segala kebutuhan hidup manusia. Dengan begitu, maka syukur dan terima kasih kepada Tuhan menjadi perioritas hidup. Sehingga ada kebiasaan sedekah dan sejenisnya.

Untuk mencegah kebiasaan berjudi, kebiasaan mabuk-mabukan, kebiasaan kumpul kebu, kebiasaan cinta sejenis dan lain-lain maksiat, sudah terjadi sejak zaman dahulu kala. Tapi toh hingga hari ini masih saja terjadi. Kebiasaan buruk itu tidak pernah mati. Tumbuh dan hidup bersama pertumbuhan masyarakat. Bukan karena zaman dahulu atau zaman modern sekarang ini. Semuanya sama saja. Hanya modus dan tingkat keparahannya yang berbeda waktu berbeda intensitas. Tetap modelnya hampir sama. Cinta sejenis dari dulu juga sudah ada. Tapi bagaimana halnya kalau pada zaman dulu di sekitar kita tidak mencolok. Sedangkan sekarang kelihatan semakin mencolok (merajalela).

Kita patut belajar pada para tokoh-tokoh muslim terdahulu. Mereka dengan kelembutannya bisa mengganti kebiasaan buruk tersebut menjadi kebiasaan yang baik. Misal dengan pendekatan keagamaan dengan cara berzikir atau berbagai majelis solawat, bisa meminimalisir keburukan yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Masjid dijadikan pusat-pusat berzikir atau bersolawat, yang kemudian bisa menjadi kebiasaan masyarakat di sekitar masjid. Orang berbondong-bondong senang datang ke masjid, lantaran mereka merasa terhibur hatinya dengan mengucapkan kalimat-kalimat toyyibah. Apalagi dengan suara-suara yang sahdu dan lembut. Sehingga merasa masjid betul-betul bisa mendinginkan hati.

Ceramah-ceramah dilakukan dengan durasi yang lebih sedikit dibanding zikir yang durasinya lebih panjang. Kesibukan berzikir bisa menyita kebisingan hati yang dipenuhi dengan pikiran duniawi. Dan hal itu memang sejalan dengan tuntunan Al-Qur’an : Alaa bi zikrillahi tatmainnul qulub; ketahuilah bahwa berzikir itu bisa menjadikan hati tenang.” Dengan hati yang tenang itulah manusia memperoleh kedamaian dan kebahagiaan. Sehingga keinginan berbuat buruk tertutup oleh kebiasaan berzikir (menyebut Asma allah swt).

Jadi amar makruf dilakukan dengan cara-cara yang lembut, maka sekaligus bisa bernilai nahi munkar. Seiring dan sejalan dua persoalan terangkai dalam satu kegiatan. Pertanyaannya kemudian, apakah nahi munkar tidak boleh menggunakan kekerasan ? Jawabannya, sangat tergantung pada situasi dan kondisi. Tentu saja mengikuti petunjuk Rasulullah saw, Jika memiliki kekuasaan semisal Camat, Bupati/wali kota, Gubernur, Kapolsek, Kapolres, Kapolda dan sejenisnya, bisa menggunakan kekuasaannya untuk menindak keburukan. Jika dia seorang orator/penceramah, habaib/kiai/ustadz, maka hentikan keburukan dengan menggunakan lisannya (mauidzah hasanah). Dan jika tidak memiliki jabatan, ataupun juga bukan penceramah, kebetulan hanya masyarakat biasa, maka bisa melakukan nahi munkar dengan menunjukkan sikap ketidak sukanya kepada para pelaku keburukan. Bila perlu mengisolir pelaku kejahatan tersebut, tanpa membuat mereka cidera.* Wallahu alam. (*)