Oleh : K.H. Ahmad Mahfudz Anwar

(Ketua MUI Kota Depok)

 

DINAMIKA kehidupan ini selalu membawa dampak ke dalam diri setiap orang. Kehidupan yang silih berganti terkadang memperoleh kesenangan dan terkadang mendapat musibah. Itu semua mempunyai makna yang berbeda-beda bagi masing-masing orang. Namun perlu diketahui bahwa apa pun keadaan kita pada waktunya sudah mengikuti jadwal Sang Pengatur jagat raya ini yaitu Allah swt. Oleh karenanya musibah jangan menjadikan fitnah tapi hendaknya mendatangkan rahmat.

Lalu bagaimana sikap yang terbaik bagi kita sebagai orang yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa ini, jika sedang ditimpa musibah ?. Tentu kita ikuti panduan dari agama kita yang telah mengajarkan sikap-sikap dan tata aturan terhadap bencana. Dalam Al-Qur’an banyak diterangkan. Di antaranya dalam surat Al-Baqarah 155 : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Jadi yang namanya musibah itu pasti akan dialami oleh siapapun, tanpa pandang bulu. Hanya mungkin beda bentuk dan beda waktu saja. Ada yang ditimpa musibah secara individu, seperti kecelakaan di jalan tall, jatuh dari genting dan sejenisnya. Ada juga yang bersifat massal, seperti bencana banjir, sunami, gempa bumi, ditimpa lahar panas dari gunung dan sejenisnya. Tuntunan yang diajarkan oleh Allah swt melalui Rasul-Nya adalah agar bersikap sabar. Tidak marah, tidak menggerutu dan apa lagi mencari-cari kesalahan orang lain yang dituduhkan sebagai penyebab musibah. Karena semua itu sudah ada dalam catatan buku Iradah (kehendak/rancangan) Allah swt.

Secara tekstual sabar itu menghadapi segala urusan dikembalikan kepada Allah swt. Seperti dalam firman-Nya Q.S.2. ayat.156. “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” Artinya: Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa’ (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.

Untuk itu sikap yang paling baik waktu terjadi musibah, apa lagi seperti banjir yang banyak berdampak rusaknya bangunan, rumah-rumah, jalan-jalan dan transportasi dll. adalah bersabar dalam menghadapinya. Tidak main salah-salahan. Walau kita juga tahu bahwa kerusakan di muka bumi maupun di lautan itu adalah akibat ulah manusia. Itu merupakan peringatan dari Allah, minimal lampu kuning atau justru lampu merah. Agar manusia kembali sadar untuk menjaga alam sekitarnya ini dengan baik dan benar. Menjaga dari kerusakan alam atau juga kerusakan moral yang  berujung pada ma’siat atau mendurhakai nikmat Tuhan.

Maka Allah swt juga memberi tahu bahwa di balik musibah itu ada kebaikan yang nyata buat manusia yang tertimpa musibah tersebut, terutama bagi manusia yang sabar. Dan inilah informasi yang mutawatir dari Allah swt : “mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Jadi ketika terjadi musibah yang diutamakan adalah mencari solusi bagaimana agar orang-orang yang tertimpa musibah segera terselamatkan. Dan terhindar dari bencana yang lebih parah. Bukan mencari-cari siapa yang salah. Tapi carilah siapa-siapa yang benar. Maka yang benar itulah kita dukung dan kita sambut dengan gotong royong. Sebagaimana firman-Nya : wa taawanuu alal birri wat-Taqwa, dan tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa.” Semoga Tuhan melindungi kita semua dan mengangkat derajat kita baik di dunia maupun di akhirat kelak. Wallahu alam bis shawab.(*)