Walikota Depok, Mohammad Idris.
Mohammad Idris.
Walikota Depok, Mohammad Idris.
Mohammad Idris.

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Euforia Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Depok sepertinya bakal menggeliat, pekan depan. Diam-diam, incumbent Mohammad Idris sudah melakukan survei internal bersama timnya selama Desember 2019. Pekan depan jika tidak ada aral melintang akan diumumkan.

Belum lama Walikota Depok Mohammad Idris menyebut, Desember 2019 sudah dimulai dan mudah-mudahan sudah bisa diumumkan hasilnya. Survei tersebut dibuat tim internalnya, dan teman-teman dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melakukan hal yang sama. Pernyataan tersebut diutarakan Mohammad Idris pada 9 Desember 2019 di Kecamatan Limo.

Selang sebulan hasil survei tersebut belum juga diumumkan. Nah kemarin (16/1), kepada Harian Radar Depok, orang nomor satu di Kota Depok ini belum mau mengungkapkan hasil survei yang dibuat tim internalnya. “Nanti ya, minggu depan akan saya umumkan,” singkat Idris, Kamis (16/1).

Sementara itu, Ketua Sahabat Idris (Sahid), Jos Pahlevi mengaku, memang hasil survei tersebut belum bisa dikeluarkan karena masih proses. “Saya belum dikabarin hasil surveinya. Mungkin masih proses,” bebernya.

Dia mengatakan, hingga saat ini pihak Idris selaku incumbent masih melakukan proses survei. Sepertinya sudah selesai tinggal penghitungan saja. “Iya masih proses penghitungan, semoga saja bisa selesai cepat” terangnya.

Terpisah, Direktur Eksekutif Puskapol UI, Aditya Perdana mengatakan, kemungkinan bakal calon alternatif tetap ada. Akan tetapi dua nama Mohammad Idris dan Pradi Supriatna tetap memiliki kans besar. Jadi sudah sebaiknya memang tiap calon yang akan maju punya survei sendiri.

“Kemungkinan petahana (Mohammad Idris) akan head to head dengan wakilnya kini (Priadi Supriatna),” katanya.

Peta awal kekuatan politik, kata Adit, bisa dilihat dari pergerakan tiga partai politik terbesar di Depok, yaitu PKS, Gerindra, dan PDIP.

“Namun di antara ketiganya, PKS masih menjelma sebagai kekuatan yang lebih dominan,” ucapnya.

Rekam jejak PKS di Depok sangat positif dengan kader yang selalu menang menjadi dalam pemilihan Walikota Depok. Sebelum Mohammad Idris, ada Nur Mahmudi Ismail yang memimpin selama dua periode.

Menurut Adit, PKS dari struktur maupun organisasi tampak lebih solid dan disiplin dibanding partai lain. Ditambah, kader demi kader PKS begitu militan dalam bergerilya politik. Sehingga Depok menjelma sebagai salah satu lumbung terbesar suara PKS secara nasional.

Dia menjelaskan, popularitas dan elektabilitas partai berlambang padi itu dibangun dari lingkungan akademik. Pengaruh PKS di Depok masuk melalui diskusi-diskusi informal dalam kampus, dan kelompok Tabiyah.

“Semua dimulai dari UI, karena banyak dedengkotnya atau tokoh intinya PKS itu alumni UI. Jejaring utamanya juga ada di situ. Mereka berusaha menggaet suara dari dalam dan lingkungan sekitar kampus,” ujarnya.

Di luar kampus, PKS juga masuk melalui pendekatan keagamaan. Mereka mengusung politik identitas dalam membentuk basis suaranya di Depok. “Tak heran, kalau banyak pengajian-pengajian yang mereka buat di beberapa wilayah,” tuturnya.

Dari sanalah, kata Adit melanjutkan, mereka mendapat konstituen utamanya, yang kemudian ditampung kepentingannya oleh walikota terpilih.

“Jadi, setiap kebijakan dan janji Walikota Depok tidak terlepas dari muatan politik. Karena, dia harus mengakomodir kepentingan basis pemilih tradisionalnya. Tak heran, setiap kebijakan akan mendapat dukungan, meski itu kontra produktif dengan permasalahan kota, menurut pemilih rasional,” kata Adit.

Bagi Adit, kemunculan calon alternatif merupakan hal positif, karena bisa memengaruhi pertimbangan politik masyarakat untuk memilih kandidat lain selain calon petahana dan di luar kader PKS.

“Semua masih dinamis, calon perseorangan maupun calon di luar PKS bisa saja tampil sebagai kekuatan yang tak terduga. Tapi real politiknya, itu akan sulit. Seandainya pun ada, mereka hanya akan mengurangi atau memecah suara,” ucapnya.

Hal yang bisa dilakukan calon alternatif, menurut Adit, mengubah sebanyak mungkin pola pikir pemilih tradisional PKS. Dan mempertebal keyakinan pemilih rasional dengan cara menyajikan problematika kota berserta solusinya.

“Kecenderungan pemilih sekarang itu melihat calon dari latar belakang keluarganya, bukan dari programnya. Apa dia dari keluarga ulama atau bukan, begitu yang dilihat. Sekarang tugasnya para calon alternatif buat membalik mindset itu,” pungkasnya. (rd)

 

Jurnalis : Fahmi Akbar (IG : @akbar.fahmi.71), Indra Abertnego Siregar  (IG : @regarindra)

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)