Oleh: Ardiyanto

Mahasiswa Semester 7 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju-Jakarta

 

INDONESIA merupakan salah satu Negara besar di Benua Asia dan terbesar di kawasan Asia Tenggara. Letak geografisnya sangat stratgis karena berada di antara dua benua yaitu Asia dan Australia serta di antara dua samudra yaitu Indonesia dan Pasifik. Tersusun lebih dari 17.000 pulau yang membentang dari ujung barat Sumatera ke ujung paling timur Papua dan ujung utara Kalimantan sampai ke ujung selatan Nusa Tenggara.

Sebagai Negara yang dilewati garis Khatulistiwa, Indonesia memiliki kawasan hutan tropis yang luas dan hutan tropika basah terluas ketiga di dunia. Kekayaan alamnya telah dikenal luas di dunia, terutama keanekaragaman hayatinya. Terncatat bahwa Indonesia memiliki 600 jenis tumbuhan berbunga (sekitar 10% dari jumlah jenis tumbuhan berbunga di dunia), 707 jenis mamalia (sekitar 12% jenis mamalia dunia), 1112 jenis amphibi dan reptile, 1602 jenis burung, 280 jenis avertebrata, 120 jenis kupu-kupu, 1400 jenis ikan, 450 jenis karang dari 700 jenis di dunia dan 35 jenis primata yang salah satunya hanya ada 3 jenis primata di dunia.

Saat ini tercatat luas kawasan hutan Indonesia 120 juta hektar dan 45 juta di antaranya akan dipertahankan sebagai hutan perawan. Banyak tantangan dalam melindungi hutan Indonesia, satu di antaranya adalah kebakaran.

Seperti dikutip sipongi.menlhk.go.id, disepanjang tahun 2019, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai 942.484,00 hektare dari 34 Provinsi yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan karhutla paling banyak terjadi di pulau Sumatera dan Kalimantan. Data tersebut dihitung berdasarkan analisis citra satelite landsat 8 OLI/TIRS yang di overlay dengan data sebaran hotspot, serta laporan hasil groundchek hotspot dan laporan pemadaman yang dilaksanakan Manggala Agni.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau 2019 diberbagai wilayah di Indonesia terus terjadi. Karhutla berdampak signifikan terhadap lingkungan, ekonomi, ekologi dan struktur sosial di pedesaan, kota bahkan negara tetangga.

Ada berbagai faktor penyebab karhutla, sebagian besarnya adalah pembukaan lahan dengan cara dibakar, baik oleh masyarakat maupun korporasi. Karena menurutnya pembukaan lahan dengan cara dibakar akan lebih praktis, mudah dan murah, ketimbang dengan cara menggunakan alat berat.

Namun, dari pembakaran tersebut akibatnya merambat dan membuat kebakaran yang menjadi bencana berkala. Penyebaran api yang begitu cepatnya, dipengaruhi dari beberapa hal diantaranya: curah hujan, suhu permukaan tanah, jenis penutupan lahan, dan arah angin.

Polisi telah menetapkan 25 perusahaan sebagai tersangka kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2019, Total tersangka sebanyak 416 diantaranya berasal dari korporasi, dan sebanyak 182 orang dari total tersangka tersebut sudah diserahkan ke jaksa penuntut umum (JPU) untuk disidangkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, sebesar 99% karhutla terjadi akibat ulah manusia, 80% lahan terbakar berubah menjadi lahan perkebunan.

Kebakaran hutan dan atau lahan (Karhutla) sendiri telah diatur dalam UU No. 32 Tahun 2009 tentang PPLH, UU No.18 Tahun 2004 tentang Perkebunan, dan PP No.4 Tahun 2001 tentang Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan.

Namun, masih lemahnya penegak hukum membuat “tradisi kebakaran hutan” masih terus terjadi. Maka dari itu, perlu adanya peningkatan hukum yang dapat memberikan efek jera kepada pelaku pembakaran. Selain itu, dibutuhkan pengawasan ketat oleh instansi dan penegak terkait dalam pembukaan lahan, serta perlunya audit lingkungan yang dilakukan secara periodik.

Bank Dunia mencatat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi secara masif sejak 2015-2019 di Indonesia memberi kerugian secara ekonomi mencapai Rp 72,95 Trilliun. Selain itu, lebih dari 900.000 orang mengalami gangguan pernapasan, ratusan sekolah diliburkan dan 12 bandar udara nasional berhenti beroperasi sementara.

Selain dari segi ekonomi, besarnya dampak negatif dari pembakaran hutan sangat nyata dirasakan juga dari segi ekologi. Penambahan profit bagi mereka yang berbisnis tidak sebanding dengan rusaknya ekosistem, hilangnya keanekaragaman hayati serta berkurangnya kualitas udara adalah sebagian dampak dari pembakaran hutan karena pembukaan lahan.

Benar bahwasanya kita tidak dapat lepas dari hasil komoditi. Namun kenyataannya, kita masih membutuhkan oksigen untuk bernafas, membutuhkan iklim yang nyaman, penjaga cadangan air agar tidak terjadi longsor dan erosi, serta keanekaragaman hayati untuk ekosistem bumi yang sehat dan harmonis. Semua itu tidak akan didapat bila hutan di Indonesia tidak tersedia lagi. (*)