erik kurniawan

erik kurniawan

 

Oleh : Erik Kurniawan, S.Sos., M.Pd

Guru ASN di SMPN 17 Depok.

 

JELANG pergantian tahun 2020 dari hari selasa (31-12-2019) sore sampai rabu siang (1-1-2020) kota Depok dan sekitarnya diduyur hujan tiada hentinya. Akibatnya dari cuaca yang kurang bersahabat tersebut, banyak daerah di wililayah kota Depok dilanda banjir. Bajir tidak hanya menggenangi perumahan warga, namun juga menggenangi beberapa ruas jalan sehingga menggangu arus lalu lintas.

Peristiwa tersebut merupakan salah satu contoh dari bencana yang terjadi disekitar kita, khususnya bencana alam. Bencana sendiri terbagi menjadi dua, yaitu : bencana alam dan bencana sosial. Pembahasan kali ini lebih menitik beratkan pada mitigas bencana alam yang sedang mengancam dan melanda lingkungan sekitar kita. Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana).

Materi mitigasi bencana secara spesifik sebenarnya sudah ada di SMP (Sekolah Menengah Pertama) yang masih menggunakan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) tahun 2006 pada mata pelajaran PLH (Pendidikan Lingkungan Hidup) kelas 9 semester 1. Bab III tersebut berjudul “upaya-upaya penanggulangan bencana alam”. Sub-sub bab di bab III antara lain : a) Merencanakan sosialisasi tanda-tanda bencana alam, b) Melakukan sosialisasi tanda-tanda bencana alam dan penanggulangannya, c) menjadi relawan pada daerah-daerah yang terkena bencana bencana alam.

Untuk sekolah yang sudah menerapkan kurikulum 2013, dimana mata pelajaran PLH (Pendidikan Lingkungan Hidup) sudah dihapus bukan berarti materi mitigasi bencana alam otomatis juga tidak ada. Materi mitigasi bencana alam memang tidak ada secara tekstual atau eksplisit di mata pelajaran kurikulm 2013. Namun secara inplisit tetap ada di mata pelajaran seperti IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial), Bahasa Indonesia, PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) dll.

Misalnya mata pelajaran Bahasa Indonesia, sebenarnya materi mitigasi bencana bisa disisipkan di bab “poster dan slogan”. Pada pembahasan poster dan slogan, dalam kegiatan belajar mengajar guru memberi tugas membuat poster dan slogan dengan tema upaya penanggulan bencana alam atau himbauan ketika terjadi bencana. Mata pelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaraan), pada materi penerapan norma yang berlaku pada masyarakat.Norma adalah aturan yang berlaku sebagai petunjuk dan pedoman dimana hal tersebut sudah biasa dijalani oleh individu atau kelompok dalam kehidupan sehari-hari.Penerapan dan aplikasi normabaik norma agama, adat-istiadat/kesopanan, kesusilaan dan hukum yang berlaku pada masyarakat sejatinya mampu mencegah penyebab terjadinya bencana alam yang disebabkan manusia. Selain pencegahan, norma yang ada dimasyrakat mampu membetuk respon cepat jika terjadi bencana alam.

Selain itu, pada mata pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) khususnya pada pembahasan mengenai ke-geografian-an. Pada bagian koneksifitas ruang, menjelaskan tentang letak posisi Indonesia baik dilihat dari geografis, astronomis, geologis dll. Tujuan pembelajaran pada materi tersebut selain tahu letak negara Indonesia, juga agar peserta didik memiliki kesadaran bahwa wilayah negara Indonesia memiliki potensi berbagai bencana alam yang besar. Stimulus tersebut mampu membuat peserta didik untuk siap siaga apabila terjadi bencana alam.

Selain sisipan-sisipan tentang mitigasi bencana alam yang terdapat pada mata pelajaran yang sudah dijelaskan di atas, perlu ada satu doktrin untuk menyiapkan peserta didik maupun masyarakat pada umumnya untuk menghadapi bencana. Khusus dalam dunia pendidikan, yaitu di sekolah baiknya ada kesadaran dan siaga akan bencana. Tidak harus dilauncing atau diresmikan bahwa sekolahini adalah Sekolah Siaga Bencana (SSB), sekolah yang itu bukan Sekolah Siaga Bencana (SSB). Pembangunan budaya siaga dan budaya aman disekolah dengan mengembangkan jejaringbersama para pemangkukepentingan di bidangpenanganan bencana. Seperti kerjasama untuk simulasi bencana dengan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), Dinas pemadam kebakaran dan penyelamatan, PMI dll. Hal tersebut sejatinya bukan hanya untuk para siswa saja, namun juga untuk guru, tenaga pendidik, karyawan bahkan juga warga sekolah (penjual di kantin sekolah). Meningkatkan rambu-rambu di sekolah untuk siaga bencana seperti papan petunjuk jalur evakuasi, papan petunjuk titik kumpul, tanda panah yang ada anak ditangga jika sekolahnya tingkat dll.

Sadar akan penyebab bencana dan penanggulangan ketika terjadi bencana perlu menjadi sebuah budaya. Ketika hal tersebut dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat maka akan mengurangi resiko bencana alam. Namun apabila bencana alam telah melanda, masyarakat lebih cepat tanggap dan tahu yang harus dilakukan. Semua akan reflek dengan cepat, teratur dan tahu bagaimana dan apa yang perlu dilakukan sehingga meminimalisir korban akibat bencana alam. Semoga warga yang tertimpa bencana banjir di wilayah kota Depok diberi kesabaran dan air segera surut sehingga warga bisa segera kembali kerumahnya masing-masing serta semoga pertolongan dari berbagai pihak segera datang. (*)