demo tim akar rumput tentang guru honorer
SAMPAIKAN TUNTUTAN: Sejumlah massa dari Tim Akar Rumput melakukan orasi menyampaikan tuntutannya di depan gerbang Balai Kota Depok, kemarin (30/1). FOTO : INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK
demo tim akar rumput tentang guru honorer
SAMPAIKAN TUNTUTAN : Sejumlah massa dari Tim Akar Rumput melakukan orasi menyampaikan tuntutannya di depan gerbang Balai Kota Depok, kemarin (30/1). FOTO : INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Sejumlah massa yang tergabung dalam Tim Akar Rumput Kota Depok melakukan aksi unjuk rasa di depan gerbang Balaikota Depok, pada Kamis (30/1) siang.

Mereka membentangkan poster berbagai tulisan berisi tuntutan. Di antaranya, mendesak pemerintah mengangkat ratusan tenaga honorer yang bertugas di lingkungan Pemkot Depok.

Koordinator Aksi Tim Akar Rumput, Andi mengaku, pihaknya meminta pemerintah agar segera mengangkat tenaga honorer yang bertugas di tiga instansi di Pemkot Depok menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) atau Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

“Kami minta pemerintah mendata jumlah pegawai non-PNS yang ada di dinas Damkar, Satpol PP, Dishub, dan PUPR, kemudian berkoordinasi dengan BKN untuk mengangkat mereka jadi CPNS atau PPPK,” ungkap Andi kepada wartawan.

Andi menyebutkan, saat ini ada sekitar 400 tenaga honorer yang bekerja di beberapa instansi. Maka itu pihaknya berharap mereka semua segera diangkat.

“Kasihan honorer sudah mengabdi untuk negara, tetapi nasibnya belum jelas, gaji juga tidak seberapa,” ujarnya.

Tidak hanya itu, massa aksi juga mendorong agar Satpol PP Kota Depok menindak sebuah Mall yang diduga telah melanggar Peraturaan Daerah (Perda), karena digedungnya tidak dilengkapi dengan alat penyelamatan kebakaran.

“Ada Mall sudah melanggar Perda Nomor 10 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Bencana Kebakaran, dalam pasal 40, 44 dan pasal 48,” jelasnya.

Dia berharap agar pihak terkait segera melakukan tidakan terhadap mall tersebut, karena dikhawatirkan akan terjadi hal yang berbahaya jika dibiarkan.

“Kalau terjadi kebakaran di sana, pengunjung bisa jadi seperti ‘ayam bakar’,” pungkasnya. (rd)

 

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar  (IG : @regarindra)

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)