Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar

Ketua MUI Kota Depok

 

AKHIR-AKHIR ini banyak orang yang menyuarakan moderniasasi masjid. Ber-ramai-ramai membangun masjid dengan indah dan megahnya. Secara fisik bisa dibilang megah dan indah. Orang senang memandanginya. Bahkan berfoto ria atau berselfi-selfi di depan masjid. Dengan tujuan agar banyak orang yang suka datang ke masjid.

Dan tidak sedikit yang mengembangkan fungsi masjid lebih luas lagi. Masjid tidak sekedar dijadikan tempat ibadah mahdlah, tapi juga kegiatan-kegiatan lain yang sifatnya duniawi. Dan itu tidak salah memang. Sepanjang tidak menghilangkan kesakralannya.

Tapi sayangnya orang yang shalat jama’ah fardlu tidak meningkat seiring dengan peningkatan bangunan (gedung) masjid tersebut. Kalau dulunya hanya dua shaf (baris) setelah dibangun juga tetap dua shaf. Artinya keindahan masjid tidak serta merta mendorong orang untuk berjama’ah di masjid yang indah tersebut. Meskipun kegiatan lainnya meningkat, seperti adanya kegiatan resepsi/akad nikah. Perdagangan/UKM di lingkungan masjid. Ada juga kegiatan subuh keliling. Ramai di satu masjid, tapi di masjid lain-lainnya tetap sepi dan minim jama’ah. Ternyata subuh keliling belum mampu mendorong para jama’ah untuk lomba mengisi shaf-shaf yang masih tetap kosong dalam jama’ah shalat fardlu.

Sedangkan di sisi lain masih banyak juga kaum muslimin yang sangat berhati-hati dalam membangun dan membina masjid. Maka masjid hanya difokuskan untuk kegiatan Ibadah mahdlah, Ibadah shalat, terutama shalat fardlu. Sedangkan kegiatan lain tidak dibawa ke dalam masjid. Mereka mempertahankan nilai kesakralan masjid. Ada beberapa alasan yang mereka kemukakan. Di antaranya adalah berdasar beberapa ajaran yang ada dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits.

Secara tekstual dimaknai sebagai tuntunan dalam mengembangkan masjid. Seperti contoh, menggunakan dasar ayat Lamasjidun ussisa alat taqwa. Sungguh masjid itu dibangun atas dasar taqwa. Artinya masjid yang memang dari sejak awal membangunnya sudah diniatkan(fokuskan) untuk taqwa (beribadah).

Demikian juga kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam masjid adalah untuk semata-mata menyembah Allah swt dengan khusyu’. “Fiihi rijalun yuhibbuna an yatatohharuu. Di dalam masjid itu terdapat orang-orang yang suka membersihkan diri.” Hal ini bisa berarti membersihkan diri dari hadats maupun nasjis.

Namun bisa juga diartikan membersihkan dari nilai-nilai yang tidak ada kaitannya dengan ubudiyah. Secara syar’i orang yang sedang junub ataupun haidl (hadats besar) dilarang duduk di dalam masjid. Hal ini jelas Rasulullah saw sebenarnya mengajak kepada manusia agar mensucikan masjid.

Maka ketika ada kasus orang masuk membawa binatang anjing, ummat Islam merasa terlukai hatinya. Untung saja tidak berdampak panjang yang sampai menimbulkan demo besar-besaran. Umat Islam masih terkendali, walau tempat ibadahnya dikotori dengan binatang yang najis mughalladzah itu. Begitu pula ketika ada beberapa orang yang memakai sepatu (tidak dilepas) masuk ke dalam masjid, itu umat Islam sangat marah walau tidak sampai menimbulkan huru hara.

Di zaman Rasulullah saw pun pernah ada orang A’raby yang kencing di dalam masjid Nabawi (waktu itu masjidnya masih sederhana sekali). Para Sahabat Nabi pun banyak yang marah kepada seorang A’rabi yang kencing di dalam masjid tersebut. Namun kemudian dicegah oleh Rasulullah saw. Sebab kalau orang yang kencing itu diteriaki, kemudian lari, maka air kencingnya akan merata di dalam masjid.

Kalau merujuk ke masjid Nabawi  Madinah kini tetap dipertahankan sebagai pusat ibadah Shalat. Demikian juga masjidil Haram di Makah al-Mukarromah. Ribuan bahkan jutaan orang Islam berduyun-duyun datang hanya untuk membersihkan diri dengan banyak beribadah mahdlah, dengan shalat dan berdo’a/bermunajat. Begitualah faktanya. Untuk keputusannya terpulang kepada diri masing-masing. Yang penting fungsi utama masjid (untuk jama’ah shalat fardlu) tidak hilang. Wallahu alam. (*)