Oleh: Mochammad Alfarel

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju (STIKIM)

 

PADA awal tahun 2020 menjadi masalah bagi warga khususnya  daerah DKI jakartakarena kapasitas curah hujan yang tinggi sehingga menyebabkan banjir yang menenggelamkan sebagian kota jakarta dengan ketinggian rata-rata 25-250 cm.

Kerusakan ekosistem dan ekologi adalah salah satu dari penyebab banjir serta masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan dan kurangnya kawasan resapan air. Pemerintah DKI Jakarta pun bergerak cepat untuk mengatasi meningkatnya korban jiwa dan mengevakuasi warga yang masih terjebak dalam banjir untuk dipindahkan sementara di posko bencana terdekat, sedangkan menurut Menteri PUPR, Pemerintah akan menyelesaikan normalisasi sungai ciliwung dan juga mematok target proyek bendungan ciawi dan sukamahi yang sebelumnya tertunda.

Penyebaran Penyakit menular pun meningkat di perparah oleh produksi sampah yang dihasilkan dari rumah tangga atau perusahaan. Menurut WHO ada beberapa penyakit yang bisa ditimbulkan diantaranya seperti demam tifus, cholera, leptospirosis, hepatitis A.

WHO mengatakan penyakit yang terbawa air terkait dengan peningkatan risiko infeksi, Faktor risiko utama untuk wabah terkait dengan banjir adalah kontaminasi fasilitas air minum ditambahkan penyakit lewat air bisa juga terjadi lewat luka seperti Dermatitis, konjungtivitis, infeksi telinga, hidung, serta tenggorokan. Namun untuk kali ini mengatasi banjir dipenghujung tahun 2020 sangatlah tidak mudah, karena terbatasnya ruang terbuka hijau yang diakibatkan oleh bangunan permanen dan proyek-proyek yang lagi berjalan yang membuat saluran air tidak mampu untuk menampung lagi debit air.

Hal ini membuat Kementerian Kesehatan RI memprediksi penyakit akibat hujan dan banjir akan tinggi di 2020.BMKG menyebutkan curah hujan di 2020 lebih tinggi dari 2019. Kalau ini yang terjadi akan ada implikasi pada penyakit yang diakibatkan dengan curah hujan, dari DBD, leptospirosis, malaria, di samping diare dan pneumonia, termasuk keracunan makanan karena makanan tidak cukup bersih.

Penyakit leptospirosis jadi sorotan Kemenkes di antara semua penyakit saat banjir dan musim hujan, karena menurut Kemenkes, diagnosis penyakit ini sangat sulit, tapi jika terlambat diagnosis juga bisa menyebabkan kematian.dan pemerintah pun tidak berhenti menyerah untuk melakukan tata kota dan membuat drainase yang baik serta naturalisasi didefinisikan sebagai cara mengelola prasarana sumber daya air melalui konsep pengembangan ruang terbuka hijau dengan tetap memperhatikan kapasitas tampungan, fungsi pengendalian banjir dan konservasi.

Menjaga kesehatan pasca banjir sangatlah penting karena masih banyak penyakit yang masih tertinggal dari sisa banjir, dari cara mengkonsumsi makanan dan minuman hingga menjaga kebersihan tubuh.dan apabila jika ada warga yang terindikasi penyakit yang disebabkan banjir,segeralah untuk ke posko kesehatan terdekat. (*)