Oleh: Nurul Apriliani

Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju (STIKIM)

Jurusan Kesehatan Masyarakat

NPM : 01160100031

 

DALAM kehidupKan kita sehari-hari kita pasti sudah tidak asing lagi dengan wadah yang bernama styrofoam, wadah praktis yang murah meriah dan mudah di jumpai dimana pun, misalnya pada sebuah jamuan  acara, sebagai bungkus jajanan pinggir jalan, sampai restoran pun sudah menggunakan styrofoam sebagai wadah makanan.

Pada saat ini banyak masyarakat yang sudah mengetahui dampak dari styrofoam itu sendiri, namun sangat di sayangkan banyak masyarakan yang tidak menghiraukan segala dampak dari styrofoam tersebut. Padahal semakin meningkatnya penggunaan styrofoam oleh masyarakat tanpa disadari semakin banyak dampak yang mengintai mereka.

Apa saja sih dampak yang di timbulkan dari wadah styrofoam yang praktis dan murah meriah ini? Berdasarkan susunan kimianya styrofoam termasuk kedalam golongan jenis plastik 6 (polimer). Memang styrofoam ini memiliki keunggulan mudah dibawa, ringan, tidak bocor, dan murah.  Akan tetapi di balik semua keunggulan styrofoam itu terdapat banyak dampak bagi kesehatan manusia yaitu terdapat kandungan monomer stirena, benzena dan formalin, yang masing-masing diketahui merupakan zat karsinogenik (pencetus kanker) dan sejumlah dampak negatif lainnya bagi kesehatan.

Kandungan stirena ini membawa dampak  mengurangi produksi sel darah merah yang sangat dibutuhkan tubuh untuk mengangkut sari pati makanan dan oksigen ke seluruh tubuh sehingga muncul gejala disfungsi saraf seperti kelelahan, gelisah, dan sulit tidur. Stirena juga bisa bermigrasi ke janin melalui plasenta ibu yang sedang mengandung, dan berpotensi mengontaminasi ASI (air susu ibu).

Dan untuk zat benzena itu sendiri akan bereaksi dengan cepat begitu terkena uap panas dari makanan yang dimasukkan ke dalam styrofoam. Benzena yang masuk ke dalam tubuh akan langsung menuju  jaringan darah. Benzena merupakan zat yang  tidak dapat larut dalam air sehingga tidak dapat dikeluarkan melalui urin maupun feses, kemudian menumpuk pada lemak di dalam tubuh. Hal inilah yang dapat memicu timbulnya penyakit kanker pada manusia.

Selain berdampak pada kesehatan styrofoam juga berdampak pada lingkungan yaitu dapat menimbulkan timbunan sampah, karena Styrofoam baru bisa terurai dalam jangka waktu kurang lebih 500 tahun lamanya dan Styrofoam merupakan penyumbang limbah berbahaya urutan ke 5 sedunia.

Beberapa waktu lalu pernah dikabarkan ada penelitian terhadap cacing yang mampu memakan plastik. Namun inovasi tersebut belum ada kelanjutannya lagi hingga saat ini. Sampai sekarang belum ada penanganan khusus terhadap sampah styrofoam ini, dan pada akhirnya hanya metode sanitary landfill yang dipakai negara kita.

Setelah melihat semua fakta yang ada di sekitar kita, sudah saatnya sebagai masyarakat kita sadar dan mulai mencari alternatif wadah makanan lain yang lebih menguntungkan bagi lingkungan dan kesehatan diri kita. Ayo kita mulai perubahan dari diri kita sendiri agar lingkungan dan kesehatan tetap terjaga dengan baik. Kurangi penggunaan Styrofoam dan mulai beralih ke wadah makanan yang dapat di pakai berkali kali. Agar lingkungan tetap asri dan kesehatan pun terjaga. Kalau bukan dari diri kita yang memulai, siapa lagi? (*)