Oleh: Yunani Astari Manurung

Mahasiswi STIKIM Jakarta

NIM 01280200034

 

PENGGUNAAN kimia berbahaya dalam bahan makanan atau makanan masih ditemukan di beberapa sekolah maupun pasar tradisional. Ada beberapa faktor yang mendorong oknum nakal menggunakan bahan kimia terlarang ini dalam makanan atau bahan makanan.

Kemudahan untuk memperoleh bahan kimia tersebut menjadi alasan utama selain itu penampilan fisik dari campuran kimia lebih memikat dibanding campuran bahan yang aman untuk pangan. Penggunaan bahan berbahaya pada makanan sering kali tidak diimbangi dengan kesadaran dan pengetahuan para pengelola makanan mengenai bahaya yang mengancam para konsumen. Dengan berbagai alasan para oknum pedagang nakal menggunakan campuran kimia berbahaya ini untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya tanpa memperhatikan bahaya yang mengancam para konsumen.

Berikut beberapa contoh bahan kimia berbahaya yang ditemukan pada makanan: boraks (bleng/pijer), formalin dan pewarna tekstil atau rhodamine B. Boraks merupakan senyawa kimia yang biasa digunakan untuk pembuatan gelas, pengawet kayu, salep kulit dan campuran pupuk tanaman. Formalin merupakan bahan kimia yang biasa digunakan untuk mengawetkan mayat, membunuh kuman, pengeras kuku serta pelapis kayu lapis, sedangkan Rhodamin B biasa digunakan untuk pewarna tekstil, kertas dan cat.

Penggunaan bahan kimia berbahaya ini pada awal dikonsumsi tidak langsung terlihat, tetapi akumulasi dari bahan kimia ini untuk jangka pendek dapat menyebabkan mulut dan tenggorokan terasa terbakar, pusing, mual bahkan muntah sampai diare. Pada penggunaan jangka panjang penggunaan bahan kimia ini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan diantaranya: gangguan fungsi hati dan ginjal, kerusakan jantung, otak dan sistem saraf pusat hingga kanker. Selain membahayakan kesehatan dan lingkungan beberapa zat ini pun penggunaannya tidak menggunakan takaran yang jelas, hal ini lah yang perlu kita waspadai, dengan penggunaan bahan kimia saja sudah cukup membahayakan ditambah tanpa menggunakan takaran yang jelas.

Ada beberapa cara sederhana yang dapat digunakan untuk mengetahui apakah bahan pangan atau makanan yang akan kita konsumsi mengandung bahan kimia berbahaya. Rendam tusuk gigi pada kunyit sampai berubah menjadi kuning, lalu keringkan. Tusukkan tusuk gigi tersebut pada makanan yang dicurigai mengandung borak atau formalin, jika warna tusuk gigi berubah warna menjadi merah maka dapat diambil kesimpulan bahwa makanan tersebut mengandung bahan kimia berbahaya.

Untuk uji sederhana makanan dengan rhodamine B kita dapat melihat dari fisik bahan makanan tersebut. Untuk makanan dengan pewarna tekstil atau rhodamine B warnanya akan terlihat lebih mencolok, pada saat di konsumsi akan timbul rasa pahit dilidah dan kadang warna menempel ke kulit.

Selain bahan kimia berbahaya para oknum yang curang tak jarang juga menggunakan lilin atau plastik pada saat menggoreng makanannya. Hal ini bertujuan agar makanan yang dihasilkan tetap renyah dan tidak mudah rusak atau lembek. Plastik dan lilin berasal dari minyak bumi yang dimana bukan berasal dari bahan makanan. Plastik sendiri tidak dapat dihancurkan dengan cara alami (dengan mikroba). Hal inilah yang membuat plastik menjadi bahaya bagi kesehatan apabila dikonsumsi.

Selain bukan dari bahan yang digunakan untuk bahan makanan, plastik juga berpotensi merusak lingkungan yang dikarenakan lamanya plastik tersebut terurai yang disebabkan kandungan kimia yang terdapat di dalamnya.

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menghindari makanan dengan plastik atau lilin. Pertama yaitu perhatikan bentuk fisiknya pada makanan atau gorengan yang menggunakan plastik atau lilin biasanya akan lebih keras. Kedua pada saat dibakar makanan yang menggunakan plastik atau lilin gorengan akan menyala serta mengeluarkan bau yang tajam dan akan terlihat kehitaman dan menetes seperti plastik yang terbakar.

Sama halnya dengan makanan yang bercampur kimia berbahaya efek jangka panjang yang ditimbulkan pun tidak main-main dari gangguan ginjal, hati, pencernaan, kerusakan otak maupun susunan saraf pusat sampai kanker. Kurangnya pengawasan terhadap bahan kimia ini dan mudahnya mendapatkan produk kimia tersebut membuat makin menjamurnya usaha-usaha kecil yang menggunakan bahan kimia berbahaya. Selain itu kurangnya pengawasan dari pemerintah terhadap bahan makanan dan makanan yang beredar luas dimasyarakat serta kurangnya informasi–informasi serta sosialisai terkait informasi makanan atau bahan makanan berbahaya serta cara mengetahui perbedaan makanan yang aman atau makanan yang tidak aman.

Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya makanan dengan bahan berbahaya, diharapkan masyarakat memiliki kesadaran akan kesehatan serta meningkatkan pengawasaan di wilayah masyarakat itu sendiri terkait dengan makanan yang tidak layak untuk di konsumsi. Dengan adanya pengawasan ditingkat masyarakat diharapkan dapat mengurangi menjamurnya para oknum pedagang nakal yang ingin mengambil keuntungan sebesar-besarnya tanpa memperhatikan kesehatan konsumen. (*)