lipsus penderita kanker
MEMBAIK: Kepala Seksi Kemasyarakatan (Kasi Kemas) Kelurahan Pasir Gunung Selatan, Kecamatan Cimanggis, Winarni (49) beraktifitas di ruang kerjanya, Kamis (6/2). Sejak tahun 2016 ia divonis menderita kanker. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
lipsus penderita kanker
MEMBAIK : Kepala Seksi Kemasyarakatan (Kasi Kemas) Kelurahan Pasir Gunung Selatan, Kecamatan Cimanggis, Winarni (49) beraktifitas di ruang kerjanya, Kamis (6/2). Sejak tahun 2016 ia divonis menderita kanker. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM – Setelah divonis mengidap penyakit kanker payudara pada Agustus 2016, Winarni (49) sempat mengalami depresi, frustasi, marah. Namun, berkat semangat dari suami dan keluarganya, saat ini ia mampu menjadi Survivor Kanker dan masih bekerja sebagai Kasie Kemasyarakatan di Kelurahan Pasir Gunung Selatan (PGS), Kecamatan Cimanggis.

Winarni bercerita pada Juli 2016, ketika menjelang datang bulan ia merasa ada sebuah benjolan di payudaranya yang tidak wajar. Namun, masih ia biarkan hingga tujuh hari selesai haid.

Hingga tujuh hari selesai menstruasi, ia merasa masih ada benjolan yang sama dan tak bergerak. Kemudian Winarni memeriksakan diri ke dokter.

“Waktu itu saya diperiksa dokter bedah, dan berharap ini bukan suatu keganasan. Buat memastikan, akhirnya saya cek USG,” ungkap Winarni.

Lantaran semakin penasaran, ia pun meminta rujukan ke RS Dharmais guna pemeriksaan. Tetapi tidak bisa menggunakan kartu BPJS, karena belum ada hasil biopsi. Setelah melakukan serangkaian pengecekan, pada tahun 2016 ia divonis terkena payudara.

Vonis kanker tersebut membuatnya down. Stigma terhadap pasien kanker terjadi padanya, ia merasa hidupnya bakal segera berakhir. Yang ada di bayangannya saat itu hanyalah kematian.

“Setelah divonis saya serasa tidak punya gairah hidup, cemas, marah, dan frustasi,” kenangnya.

Kemudian Winarni mendatangi seorang ustad di wilayah Palsigunung, dan menceritakan tentang penyakit yang dideritanya. Ia pun disarankan mengikuti salat Magrib berjamaah di majelisnya, dilanjutkan dengan dzikir bersama.

Winarni mengaku, selepas pulang mengikuti dzikir ia tidak lagi merasa ketakutan dan cemas.

“Saya merasa lebih tenang, saya pikir ini bukan suatu penderitaan. Tetapi ini anugerah saya diberikan sakit. Mengingatkan saya sebagai manusia yang tak berdaya, harus banyak meminta kepada Allah,” tuturnya.

Fase depresi, marah, penolakan, frustasi hanya dialami selama satu minggu, berkat dukungan suami serta keluarga. Lalu ia datang kembali ke RS Dharmais untuk menentukan jadwal operasi. Winarni melakukan operasi pada 3 Agustus 2016 dan dirawat selama tiga hari.

“Setelah itu, akhirnya saya bergabung dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI). Membuat saya bisa bangkit kembali Ternyata banyak teman memiliki penyakit yang sama, atau bahkan lebih parah dari saya, tetapi mereka bisa bangkit masih bisa hidup,” jelasnya.

Pasca menjalani operasi, ia juga harus melalui serangkaian kemoterapi hingga pengangkatan indung telur. Kemoterapi dilakukan sebanyak delapan kali, dimulai pada Oktober 2016 dengan siklus per-tiga minggu sekali.

“Setelah itu saya menjalani radiasi mulai Desember 2016 sebanyak 30 kali, dilakukan enam kali dalam seminggu (Senin-Jumat). Pada Oktober 2017 saya melakukan operasi pengangkatan indung telur,” ucapnya.

Tak hanya itu, pada Januari 2018 ia mulai meminum obat hormonal rutin setiap hari pada jam yang sama. Walaupun saat ini kondisinya sudah lebih baik, dirinya terus melakukan cek rutin pada enam bulan sekali, guna memastikan agar penyakit yang dideritanya tidak kembali tumbuh dan berkembang.

Hingga saat ini Winarni menjadi survivor kanker dan menjadi pendamping bagi para penderita kanker yang membutuhkan motivasi.(rd)

 

Jurnalis : Lutviatul Fauziah (IG : @lutviatulfauziah)

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)