Jangan Menyepelekan

In Ruang Publik

mimbar jumat baru

 

Oleh: Ust. Moch Ikmaluddin

Pegiat Gerakan Maghrib Mengaji

Alumni S1 dan S2 Institut PTIQ Jakarta.

Fb: Moch Ikmaluddin. Ig: mochikmaluddin

 

JIKA saya perhatikan, ada kesamaan karakteristik antara bahasa Jawa dan Arab. Dalam ilmu Balaghah, ada yang namanya Al Ijaz. Yaitu mengungkapkan suatu makna atau beberapa makna dengan lafadz yang singkat disertai kejelasan dan kefasihan. Pada prinsipnya ijaz merupakan peredaksian suatu makna dengan lafadz yang singkat.

Sedangkan dalam bahasa Jawa ungkapan yang  padat naum penuh makna  sering disebut cekak aos. yaitu tidak bertele-tele. Misalnya “sambutan tokoh itu cekak aos”.

Salah satu ungkapan jawa yang cekak aos namun penuh makna adalah “ojo nyepele” yang artinya jangan menyepelekan. Kali ini saya merujuk pada kitab Al Hikam yang di tulis oleh Ibnu Atha’illah as Sakandari (w. 1309) tentang larangan menyepelekan sesuatu.

Pertama, merasa baik-baik saja ketika terlewatnya amal kebaikan. Di dalam salahsatu hikmahnya, Ibnu Atha’illah menyampaikan “Di antara tanda tanda matinya hati adalah tidak adanya kesusahan atas terlewatnya amal amal yang sesuai syariat, dan tidak adanya penyesalan atas kesalahan yang engkau Iakukan .

Contoh kasus seperti ini, ada seseorang yang biasanya dia bisa bangun subuh, namun karena malam harinya begadang akhirnya bangunnya kesiangan. Namun orang tersebut tidak menyesl sedikitpun terlewatnya kebaikan yang biasa ia lakukan. Harusnya segera menyesali. Dan lebih baik lagi jika orang tersebut bisa mengatur waktu tidurnya sehingga tidak ketinggalan soat subuh. Itu baru satu contoh.

Kedua, Putus asa atas pengampunan dan anugerah Allah. Ibnu Athaiillah melajutkan hikmahnya  sebagai berikut: Janganlah suatu dosa itu terlihat besar bagimu, sehingga merintangimu berprasangka baik pada Allah SWT, karena sesungguhnya orang yang mengenal Tuhannya, maka dia akan menganggap kecil dosannya dibandingkan dengan kemurahanNya.

Misalnya ada orang yang masuk usia pensiun, kemudian ia ingin bertaubat dengan memperbaiki ibadahnya yang masih belum istiqamah di masa mudanya. Mungkin dulu solatnya masih bolong-bolong atau karena sibuknya bekerja, tidak sempat belajar Al Qur’an sehingga belum bisa baca Al Qur’an. Namun ketika dia mau memperbaiki diri di masa tuanya dia trauma, pesimis tidak yakin jika Allah akan mengampuni dosanya, sehingga ia mengurungkan niat baiknya itu. Harus ia yakin jika banyaknya dosa yang ia lakukan masih tidak ada apa-aanya jika dibandingkan dengan besarnya rahmat dan kemurahan Allah SWT.

Hal ini ditegaskan dalam surat Az Zumar/39 ayat 53

قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ٥٣

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Bayangkan, Allah memanggil orang yang sudah jelas melampai batas dengan panggilan Yaa Ibaadi, wahai hambaku. Oleh karena itu jangan sampai kita putus asa dengan Rahmat Allah. Apalagi sampai menunda untuk memperbaiki diri.

Ketiga, Jangan menyepelekan dosa kecil. Lebih dalam lagi, dalam salah salah satu hikmahnya beliau menyebutkan Tidak ada dosa kecil bila yang datang kepadamu adalah keadilan Allah SWT dan tidak ada dosa besar ketika yang menghadap kepadamu adalah anugerah Allah SWT . beliau memberikan warning agar tidak menyepelakan dosa kecil. Karena sekecil apapun dosa yang dilakukan tidak akan luput dari pengawasan Allah yang memiliki sifat Al Khabir. Orang yang melanggengkan dosa kecil secara terus-menuerus akan jatuh pada kefasikan.  Sebaliknya Allah memberi pengampunan kepada orang yang bertaubat, memperbaiki diri dan tidak mengulangi perbuatannya lagi. Walaupun dosanya sebanyak buih di lautan.

Keempat, menunda amal karena menunggu waktu luang. Tidak sedikit orang yang memiliki kebiasaan menunda pekerjaan, ibadah dan amal solih dengan alasan masih ada waktu lain. Oleh kerena itu hikmah berikut ini perlu kita renungkan. menundamu beramal salih karena menanti kelonggaran waktu itu timbul dari jahatnya nafsu. Saya sendiri terkadang harus berjuang untuk tidak kalah dengan bujukan nafsu. Sifatnya nafus adalah tidak mau capek, mau yang enak-enak saja. Misalnya menunda solat karena pekerjaan yang sebentar lagi selesai, alasannya “nanggung!” bentar lagi selesai. Ada lagi yang merasa sangat sibuk bekerja, mencari nafksh bahkan mengejar karir sampai-sampai tidak sempat menghadiri majelis ilmu. Alasannya nanti saja kalu sudah pensiun.

Padahal anggapan tersebut menandakan ada masalah dalam dirinya. Ibarat orang sakit harus segera berobat Alih-alih segera berobat, malah berkata: “nanti kalo sudah sehat, saya akan berobat ke dokter” atau celakanya “nanti juga sembuh sendiri. Padahal Nabi Muhammad telah memberikan peringatan bahwa ada dua nikmat yang sering dilupakan manusia, yaitu sehat dan waktu luang.

Demikian sebagian hikmah yang penulis ambil daru kitab Al Hikam. Singkat namun mendalam makna dan pesannya. Semoga kita semua tidak tidak termasuk dalam golongan orang yang nyepele, menyepelakan amal. Allahumma Ainna Ala Zikrika Wahusni Ibaadatika. Aamin. (*)

 

You may also read!

ulama ke idris imam

Persatuan Ulama-Habaib Depok Beri Restu Idris-Imam

DEKLARASI : Dihadiri Paslon Nomor Urut 2 dan elit partai Koalisi TAS, Persatuan Ulama dan

Read More...
penghargaan naik tingkat

Sanggar Ayodya Pala : Siswa Ujian Kenaikan Tingkat Raih Penghargaan

RAIH PENGHARGAAN : Sejumlah siswa Sanggar Ayodya Pala yang telah mengikuti Ujian Kenaikan Tingkat mendapatkan

Read More...
jatijajar repot urus administasi

Beredar Foto Spanduk ‘Ganti Lurah Jatijajar’

MUNDUR : Ketua RT dan RW, di lingkup RW2, Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Tapos, mundur serentak

Read More...

Mobile Sliding Menu