pasien penderita DBD di depok
MASIH DIRAWAT : Salah satu pasien masih menjalani rawat inap akibat terserang penyakit DBD di RSUD Kota Depok, Jalan Raya Mochtar, Kecamatan Sawangan, Senin (3/2). Pasien DBD yang saat ini masih dirawat di rumah sakit tersebut ada 9 pasien anak dan 4 orang dewasa. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
pasien penderita DBD di depok
MASIH DIRAWAT : Salah satu pasien masih menjalani rawat inap akibat terserang penyakit DBD di RSUD Kota Depok, Jalan Raya Mochtar, Kecamatan Sawangan, Senin (3/2). Pasien DBD yang saat ini masih dirawat di rumah sakit tersebut ada 9 pasien anak dan 4 orang dewasa. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Kematian Mega Muslim warga RW9 Kelurahan Duren Seribu, Bojongsari Kota Depok akibat demam berdarah dengue (DBD). Diinvestigasi Dinas Kesehatan (Dinkes), Senin (3/2). Sembari menunggu hasilnya, ternyata nyamuk aedes aegepty di Depok sudah menggila. Tercatat, sepanjang Januari 2020 sudah ada 172 jiwa menderita DBD.

Kepala Bidang Penanggualangan Penyakit Dinkes Kota Depok, Ummi Zakiya mengatakan, data Januari 2020 menunjukan jumlah penderita DBD 172 kasus. “Ada 172 kasus, dengan 0 kasus meninggal dunia,” kata Ummi, kepada Radar Depok, Senin (3/2).

Dia mengungkapkan, pasien DBD saat ini dirawat di beberapa rumah sakit. Seperti di RS Bhakti Yuda tujuh pasien, Setya Bhakti lima pasien, Hasanah Graha Afiyah 13 pasien, Puri Cinere empat pasien, Melia enam pasien, Sentra Medika delapan pasien, RSUD Depok 62 pasien, Graha Permata Ibu 21 pasien, Permata Depok 29, Tugu Ibu 15 pasien, Tumbuh Kembang Depok satu pasien dan Harapan Depok satu pasien. “Data bulan Februari masih belum ada karena masih didata,” tuturnya.

Dia juga menuturkan, tren kasus DBD selama empat tahun terakhir yaitu tahun 2016 sebanyak 2.834 kasus tidak ada korban meninggal. Tahun 2017 ada 535 kasus tidak ada meninggal, tahun 2018 sedikitnya 892 kasus satu orang meninggal. Tahun 2019 ada 2.200 kasus meninggal dua orang. “Untuk 2020 sampai 31 januari masih 172 kasus dan tidak ada korban meninggal,” tuturnya.

Ketika ditanya mengenai adanya dugaan korban meninggal akibat DBD di 2020, yaitu warga Kelurahan Duren Seribu. Pihaknya mengaku, masih harus memastikan penyebab pasti kematian dari koraban. “Hingga saat ini kami masih melakukan investigasi, mengenai penyebab pasti kematian korban,” bebernya.

Dia menambahkan, pihaknya juga sudah melakukan penanganan terkait terjangkitnya DBD. Misalnya, mengeluarkan surat edaran himbauan kepada seluruh Perangkat Daerah (PD), kecamatan, kelurahan dan Puskesmas. Ini untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serta tiga M plus setiap minggu.

“Kami juga mengimbau untuk melakukan pemeriksaan jentik berkala (PJB), larvasidasi di masing–masing wilayah dan pelaksanaan foging fokus pada wilayah yang ditemukan kasus DBD,” bebernya.

Kasus DBD, kata dia, perlu dilakukan dulu pemeriksaan Epidemiologi (EP) sesuai SOP, sehingga bisa memutus mata rantai penularan virus DBD.  Selain itu, pihaknya juga meningkatkan monitoring laporan kasus dari Puskesmas dan Rumah Sakit. Terkait fasilitas layanan kesehatan swasta. “Kami juga menginstruksikan kepada Puskesmas dan Rumah Sakit untuk menangani pasien DBD sesuai kewenangan dan SOP,” terangnya.

Menimpali adanya kejadian ini, Anggota Komisi D DPRD Kota Depok, T Farida Rachmayanti mengatakan, Pemerintah Kota Depok berkewajiban untuk menyosialisasikan dan mengedukasi masyarakat terkait DBD. Terutama berkaitan dengan cara pencegahannya. Misalnya, bagaimana menjaga kondisi rumah, pagi hari pastikan sirkulasi udara di rumah, baik dan mendampat cahaya maksimal.

“Tidak membiarkan pakaian menumpuk dan adanya genangan air dan tempat berdebu; nyamuk akan bertelur di tempat kotor dan lembab,” jelasnya.

Selain itu, ucap Farida, Pemerintah Kota Depok juga harus menyiapkan secara penuh penanganan bagi pasien penderita BDB. Pastinya, permintaan kebutuhan ruang rawat inap akan meningkat. Ini bisa dengan mengoptimalkan faskes satu yakni puskesmas rawat inap, tidak hanya di RSUD. Akan lebih baik jika ditambah penyediaan tempat tidur sejak dini. Tentu juga memastikan kesiapan obat dan tenaga medis.

Dia meminta, pemerintah membangun kerjasama dengan rumah sakit swasta dalam hal rujukan, terutama untuk pasien jaminan kesehatan nasional (BPJS). Juga dengan rumah sakit pemerintah di sekitar Jabodetabek. Sehingga penanganan pasien akan lebih cepat.

“Membuat kebijakan publik yang taktis juga sangat kita harapkan dalam situasi wabah. Hal hal teknis yang sederhana, seperti kemudahan akses kebutuhan ambulan tentu sangat berarti bagi warga,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Minggu (2/2), nyamuk mematikan aedes aegepty sudah menyerang Kelurahan Duren Seribu, Bojongsari Kota Depok. Parahnya, satu warga Mega Muslim diduga meninggal dunia akibat penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang disengat nyamuk aedes aegepty.

Paman Korban Mega Muslim, Hendra menjelaskan, penyakit demam berdarah dan chikungunya tengah merebak dilingkungan RW9, Kelurahan Duren Seribu. Bahkan, keponakannya yakni Mega Muslim yang tinggal di RT1/9 menjadi korban yang meninggal dunia akibat terkena DBD.

“Keponakan saya Mega Muslim terkena demam berdarah dan meninggal pada Malam jumat kemarin,” ujar Hendra kepada Radar Depok, Senin (3/2).

Hendra menjelaskan, Mega terkena penyakit demam berdarah pada saat melahirkan. Dan sempat mendapatkan perawatan di RSUD Kota Depok. Usai melahiran keponakannya dinyatakan terkena demam berdarah dan sempat terjadi pendarahan.

Hendra mengungkapkan, sekitar sepuluh orang telah terkena penyakit demam berdarah dan chikungunya di lingkungan RW9. Warga secara swadaya melakukan pemoggingan untuk menghentikan penyakit demam berdarah maupun chikungunya. Namun, Hendra belum melihat aksi tanggap dari puskesmas maupun Dinas Kesehatan Kota Depok. Terkait merebaknya penyakit demam berdarah maupun chikungunya di lingkungannya.

“Dari puskesmas belum ada aksi dan pemoggingan melalui swadaya masyarakat,” terang mantan pengurus RW9 tersebut. (rd)

 

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar  (IG : @regarindra)

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)