perjuangan sinto sembuh dari penyakit kanker
DUKUNGAN: Sinto (tiga dari kanan) saat mendapatkan dukungan semangat dari pengurus lingkungan dan Binmas serta Babinsa Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Sawangan, Kamis (7/2). FOTO : DICKY/RADAR DEPOK
perjuangan sinto sembuh dari penyakit kanker
DUKUNGAN : Sinto (tiga dari kanan) saat mendapatkan dukungan semangat dari pengurus lingkungan dan Binmas serta Babinsa Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Sawangan, Kamis (7/2). FOTO : DICKY/RADAR DEPOK

 

Lika-liku kehidupan ujian bagi Sinto, warga Jalan Raya Pengasinan RT1/7 Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Sawangan. Disangka memiliki penyakit Kanker Kulit dan sempat dijauhi warga, menjadi cobaan hidup bagi perempuan yang memiliki sepuluh anak.

Laporan : Dicky Agung Prihanto

RADARDEPOK.COM – Rintik hujan yang mengguyur Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Sawangan, seolah mengajak malas untuk beraktivitas. Namun, tidak bagi Sinto.

Meski hujan, perempuan yang telah ditinggal suami meninggal dunia, harus berjualan guna menghidupi sepuluh orang anaknya. Sinto tinggal di RT1/7 samping Masjid Al Basfar, Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Sawangan.

Di rumah tersebut, ia kini tinggal bersama enam anaknya yang masih duduk dibangku sekolah, sedangkan empat anak lainnya sudah berumah tangga dengan pasangannya.

Duduk di dalam rumah sederhananya, Sinto mengisahkan sedikit perjalan hidupnya yang cukup memprihatinkan. Semenjak suaminya, Ngatimin meninggal dua tahun lalu karena penyakit diabetes, Sinto harus berjuang menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya. Berbagai cara dilakukan Sinto demi melanjutkan kehidupan dan mendukung masa depan anaknya.

“Keseharian saya jualan gorengan di dekat rumah,” ujar perempuan kelahiran 1966.

Sambil memandang langit-langit rumahnya, seakan Sinto memiliki beban cukup berat. Ternyata, penderitaannya tak sampai di situ. Sinto sempat sakit yang membuat wajah, khususnya pada bagian hidung hingga bibir mengalami luka. Bahkan, Sinto sempat dianggap terkena kanker kulit.

Sinto mengungkapkan, awalnya di bagian lubang hidungnya terdapat benjolan seperti tahi lalat. Benjolan tersebut membesar dan pecah, sehingga mengeluarkan darah dan membuat luka, hal itu terjadi pada April 2019. Dikemudian hari, luka tersebut merambat hingga bagian atas bibir dan sekitar pipi kiri Sinto.

“Awalnya benjolan di lubang hidung pecah, lalu lukanya merambat ke bagian wajah lain,” terang Sinto kepada Radar Depok.

Penderitaan Sinto masih berlanjut. Karena luka tersebut, ia mengaku tetangga sekitar banyak yang menggunjingnya, bahkan ia dianggap mengidap penyakit kanker kulit hingga penyakit menular. Hal itu berdampak cukup besar pada kehidupan Sinto. Salah satunya langganan yang biasa membeli dagangannya perlahan enggan membeli. Omzet dagangannya pun menurun drastis.

Ingin terbebas dari penyakit dan memanfaatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS), Sinto menjalani pengobatan di Puskesmas Pengasinan dan mendapatkan rujukan ke Rumah Sakit Permata. Setelah di observasi, penyakit yang dialami Sinto ternyata tumor. Melihat luka yang cukup serius, ia disarankan menjalani operasi di Rumah Sakit Fatmawati.

“Saya menjalani operasi pada 3 Juli 2019,” kenang Sinto berkaca-kaca.

Setelah menjalani operasi, kesehatan dan wajahnya berangsur pulih walaupun masih terlihat bekas jahitan. Namun, saat Sinto diminta untuk kontrol kembali pada Oktober 2019, Sinto tidak memiliki waktu dikarenakan harus berjualan guna memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Sinto berharap, dengan kesembuhannya tersebut dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat untuk membeli makanan yang dia jual. Atas usahanya melawan penyakit, dapat menghilangkan paradigma masyarakat bahwa Sinto terkena penyakit menular dan hal itu tidak benar, sehingga dagangannya dapat laku kembali. Bahkan saat ditemui tim Radar Depok, Sinto tengah mengajukan pinjaman kepada Koperasi Keliling untuk modal usaha.

“Saya berharap masyarakat dapat membeli kembali dagangan saya, karena saya telah sembuh dan tidak memiliki penyakit menular,” tutup Sinto. (*)

 

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)