Perkusi SDN Beji 1
LATIH: Kegiatan latihan Perkusi SDN Beji 1 dalam mempersiapkan lomba Bucket Percussion ke 3 yang akan diselenggarakan SD Tunas Global Depok, 18 Februari mendatang. FOTO : TANYA AUDRIATIKA/RADAR DEPOK
Perkusi SDN Beji 1
LATIH : Kegiatan latihan Perkusi SDN Beji 1 dalam mempersiapkan lomba Bucket Percussion ke 3 yang akan diselenggarakan SD Tunas Global Depok, 18 Februari mendatang. FOTO : TANYA AUDRIATIKA/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK — Perkusi SD Negeri Beji 1 Kota Depok, tengah mempersiapkan diri, mengikuti Perlombaan Bucket Percussion ke-3. Perlombaan tersebut rencananya akan diselenggarakan 18 Februari mendatang di SD Tunas Global Depok, Jalan Nusa Indah No15, Kecamatan Pancoranmas.

Guru Seni Budaya Keterampilan Musik SDN Beji 1 Kota Depok, Dhekol Muhammad Kolbi menyebutkan, pada 2019 Perkusi SDN Beji 1 sempat meraih juara 2 dalam perlombaan yang sama.

“Kebetulan perwakilan dari sekolah selalu ikut lomba tersebut. Dan tahun kemarin sempat menjadi Juara 2,” ujarnya kepada Radar Depok, Kamis (6/2)

Kolbi juga menambahkan, persiapan sebelum mengikuti lomba diisi dengan latihan seperti biasa, namun secara berkala. Dan semua alat perkusi yang dipakai berasal dari barang bekas, dan pemberian dari orang tua murid.

“Memang temanya agar proses belajar mengajar tetap berjalan, dan tidak memakan banyak biaya, lalu sampai pada bentuk pertunjukkan,” tuturnya.

Giat Perkusi ini merupakan bentuk konkrit dari pelajaran ritmis yang ada di kelas. Dengan tujuan mengenalkan musik ritmis, yang merupakan bagian dari pendidikan dasar bermain musik.

Anak-anak yang mengikuti giat Perkusi ini dikhususkan untuk kelas 5. Dan untuk mengikuti kejuaraan diseleksi kembali anak-anak yang berbakat dan orang tua yang mendukung giat ini.

Pada kelas VI, satu kelas dibuat menjadi tujuh grup, dan diminta untuk membuat 24 bar ritmis. Jadi setiap siswa membuat 4 bar ritmis. Media yang dipakai hanya pukul meja dan tepuk tangan. Dan 24 bar ritmis tersebut akan dipertunjukkan kepada siswa lainnya. Sebelum dipertujukkan, akan dinilai terlebih dahulu apakah karya yang mereka tulis sesuai dengan apa yang mereka mainkan.

“Berlatih di kelas setiap minggunya dicicil 4 bar. Dan di antara mereka juga saling mengajari, mengoreksi, dan bekerja sama. Jadi bukan hanya persoalan pada saat mereka pertunjukkan, namun juga apa yang akan mereka mainkan merupakan hasil karya tertulis mereka sendiri,” tutup Kolbi.(rd)

 

Jurnalis : Tanya Audriatika

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)