pelaku pembacokan tawuran pelajar
TANGKAP : Tiga pelaku tawuran yang menyebabkan korban meninggal dunia dan luka berat, berhasil diamankan pihak kepolisian. Kapolrestro Depok, Kombes Azis Andriansyah sedang bertanya kepada pelaku AQ. FOTO : LULU/RADAR DEPOK
pelaku pembacokan tawuran pelajar
TANGKAP : Tiga pelaku tawuran yang menyebabkan korban meninggal dunia dan luka berat, berhasil diamankan pihak kepolisian. Kapolrestro Depok, Kombes Azis Andriansyah sedang bertanya kepada pelaku AQ. FOTO : LULU/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Ada fakta baru dalam penangkapan pembantai pelajar MN saat tawuran, Kamis (30/1) malam. Pelaku AQ, sebagai eksekutor membacok MN menggunakan celurit. AQ juga merupakan siswa Drop Out (DO) kelas XI di SMK wilayah Kecamatan Pancoranmas Depok. Menariknya, saat dirilis Polrestro Depok Kamis (6/2), pelajar tawuran janjian menghubungi via Whatsapp (WA).

Kepada Radar Depok, AQ mengaku, kejadian tawuran ini bermula dengan membuat janji melalui pesan yang dikirim lewat Whatsapp, dan akhirnya bertemu di jalan. Saat di Parung Bingung korban lari dan langsung mengalungkannya menggunakan celurit. “Korban sudah jatuh, langsung diberi lagi oleh AR (buron),” jelasnya, Kamis (6/2).

Habis kejadian tersebut, AQ mengumpat di rumah G (palaku lain). Setelah beberapa hari baru ketangkap di Balai Desa, Kelurahan Rangkapanjaya, Pancoranmas. “Saya sudah di DO sekolah, tapi orang tua tidak tahu,” terangnya.

Saat rilis, Polrestro Depok menjejerkan tiga pelaku   AQ, G, F, dan ada dua pelajar yang ikut dirilis statusnya masih saksi. Sementara, satu pelaku A masih menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO).

“Awal kejadian ini, bertemu di wilayah Parung Bingung dengan 7 orang lawan 20. Namun, korban lari dan akhirnya dibacok dari belakang,” ucap Kapolrestro Depok, Kombes Azis Andriansyah kepada Radar Depok.

Dalam kejadian ini, AQ yang membacok leher korban dengan menggunakaan celurit dan AR (buron) yang membacok paha korban. Dia juga mengungkpakan, setelah terjadi tawuran tersebut mereka bersembunyi disalah satu rumah pelaku yang berinisial G.

“Tawuran yang melibatkan anak pelajar yang menimbulkan korban meninggal dunia dan luka berat dengan inisial meninggal MN korban luka AD. Ada lima pelaku, dua pelaku atas inisial AQ dan AR itu pelaku tawuran yang menyebabkan korbannya meninggal dunia, dengan cara dibacok menggunakan celurit hingga mengakibatkan luka bacok ditenggorokan,” ucapnya.

Sedangkan pelaku atas nama AR sampai saat ini masih melarikan diri dan menjadi DPO pihak kepolisian. Kejadian tawuran ini, ada di dua lokasi Kecamatan, yang pertama ada di Pancoranmas, namun kemdian terjadi kejar mengejar dan terjadi di Kecamatan Sawangan.

“Kemudian untuk pelaku, inisial G dan F menyebabkan luka berat terhadap lawannya pada saat tawuran, dimana korban melarikan diri karena dikejar oleh pelaku, kemudain tertangkap oleh pelaku dan kemudian dibacok,” jelasnya.

Terhadap pelaku, pihak kepolisian berikan pasal 80 UU 35 tahun 2014, dengan ancaman 15 tahun penjara. Dia juga mengungkapkan, tawuran ini terjadi atas gengsi antar sekolah dan juga gengsi pribadi.

“Jadi mereka mencanangkan dirinya sebagai jagoan. Dan ini sudah berulang-ulang 5 pelaku yang kita tangkap ini. Mereka malah mengajak dan menjegat teman lain dan mengajak tawuran, jadi kerjaannya bukan belajar lagi tapi mengajak tawuran,” tuturnya.

Untuk pelaku tersebut, ada yang masih berstatus sebagai pelajar. Namun, ada pula yang yang telah keluar dari sekolah, namun berpura-pura sebagai murid. Bahkan, ada yang sampai pihak orang tuanya tidak mengetahui bahwa anaknya sudah tidak bersekolah.

“Ada juga yang orang tuanya sudah tau bahwa anaknya sudah tidak sekolah di sekolah tersebut, tetapi ada juga yang tidak tau. Karena, yang orang tuanya tau anaknya tetap berangkat sekolah menggunakan seragam sekolah,” ungkapnya.

Sebelumnya, anak-anak teersebut juga pernah di tangkap pada 2019 dan sudah diproses, namun karena peradilan anak jadi hukumannya khusus. Tapi ini untuk yang kedua kalinya akan diberikan efek jera.

“Ini sebenarnya peristiwa setelah empat bulan yang lalu, kita melakukan tindakan tegas terhadap tawuran. Saat ini ada tawuran yang menyebabkan korban meninggal juga kita melakukan tindakan tegas. Waktu itu kita tangkap sekitar 25 pelajar dan 5 diantaranya kita tahan dan kita proses,” ucapnya.

Namun, setelah empat bulan pihak kepolisian melakukan tindakan tegas ternyata kali ini terjadi lagi dan hingga memakan korban jiwa.

“Untuk itu, perlu kita lakukan tindakan tegas terus terhadap kejadian tawuran ini, agar generasi kedepan bukan menjadi generasi yang tidak beradab. Kita juga akan melakukan pemanggilan terhadap dua Kepala Sekolah tersebut,” tegas Kapolrestro.

Dia menghimbau, agar para pelajar dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin dengan berbagai kegiatan yang positif. “Karena untuk berbuat yang positif aja belum tentu umur kita cukup, maka jangan disia-siakan umur nya dengan perbuatan dan hal-hal yang negatif,” pungkasnya. (rd)

 

Jurnalis : Lutviatul Fauziah (IG : @lutviatulfauziah)

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)