kelanjutan kasus penipuan WO
UNGKAP KASUS : Kapolres Metro Depok, Kombes Azis Andriansyah menggelar rilis ungkap kasus penipuan jasa penyelenggara pernikahan atau Wedding Organizer (WO), di Mapolres Metro Depok, Rabu (5/2). FOTO : JUNIOR/RADAR DEPOK
kelanjutan kasus penipuan WO
UNGKAP KASUS : Kapolres Metro Depok, Kombes Azis Andriansyah menggelar rilis ungkap kasus penipuan jasa penyelenggara pernikahan atau Wedding Organizer (WO), di Mapolres Metro Depok, Rabu (5/2). FOTO : JUNIOR/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK Anwar (33) cuma bisa tertunduk lesu manakala dihadapkan ke awak wartawan, di Mapolres Metro Depok, kemarin (5/2). Memakai kaos orange, khas tahanan, bos Wedding Organizer (WO) Panda Manda ini tak menampik aksi tipu-tipunya.

Dia tercatat menjadi muka baru di sel Mapolres Metro Depok. WO yang ia kelola dipolisikan. Kasusnya penipuan. Puluhan pasangan calon pengantin kena tipu. Uang sudah disetor, namun hasil yang diperoleh berantakan.

Anwar mengatakan, WO Panda Manda sudah full book sampai Januari 2021. Puluhan calon pengantin yang sudah memesan jasanya. Mereka sudah membayar uang muka. Jumlahnya bervariasi, mulai Rp10 juta sampai Rp25 juta.

“Keuntungan ada cuma sedikit. Yang penting kita jalan keuntungan Rp5 sampai Rp7 juta,” ujarnya kepada Radar Depok.

Kapolres Metro Depok, Kombes Azis Andriasnyah mengatakan, WO Panda Manda menjerat korban memang dengan harga yang murah, namun bisa menyediakan pernik pernikahan yang lengkap. Bayangkan, dengan harga Rp50 jutaan, pelanggan bisa memeroleh dekorasi ruangan, foto/video, undangan, wardrobe, sampai catering.

“Hitungan termudah untuk paket makan saja 250 undangan, nanti dikasih caseback Rp5 juta. Kalau dihitung tidak cukup. Jadi ini hanya cara untuk mengeruk uang klien,” jelasnya.

Lebih lanjut, kata Azis, kasus terbongkar saat pernikahan salah seorang klien, Minggu (2/2). Saat acara dimulai, segela perlengkapan pernikahan tidak tersedia. Mulai dari dekorasi sampai catering. “Selesai acara, mempelai bersama keluarga besar mendatangai WO tersebut,” bebernya.

Hasilnya jelas. WO tidak mempersiapkan segala sesuatu yang mestinya disiapkan manakala uang pelunasan dibayarkan. Belakangan diketahui, pada tanggal tersebut, (2/2), WO Panda Manda mengelola agenda 10 pernikahan. Tujuh terlaksana, sementara yang tiga juga terlaksana, namun perlengkapan untuk pernikahan tidak dipersiapkan.

“Mulai dari catering, dekorasi, kursi, dan sebagainya,” ucap dia.

Azis menjelaskan, pelaku mengiming-imingi korban dengan harga yang murah. Meski jika dilihat lebih dalam, harganya tidak masuk akal. Pelaku memakai sistem gali lobang tutup lobang. Artinya, uang yang diperoleh dari klien sebelumnya, dipakai untuk acara yang lain. “Pelapor saat ini baru dua. Namun ada sekitar 40-an pasangan yang berpotensi jadi korban. Mereka hanjya belum masuk tanggal pernikahan. Uang sih sudah setor,” terangnya.

Dari pemeriksaan sementara, sambung dia, pelaku tidak lagi memiliki aset yang cukup untuk menyelenggarakan pernikahan calon korban. Sebab, uang yang sudah disetorkan, malah digunakan untuk keperluan lain. Bukan urusan pernikahan.

“Misalnya untuk operasional kantor dan beli rumah,” beber dia.

Total uang yang sudah masuk ke tersangka, sementara ini mencapai Rp2,5 miliar. Azis menerangkan, pelaku ini memiliki enam orang karyawan tetap, dengan gaji Rp1 juta/bulan. Akan diselidiki apakah karyawan ini ikut proaktif mencari klien, atau sekedar menjadi staf saja. “Tersangka baru Anwar ini. Karena dialah yang aktif menawarkan di media sosial. Korbannya dari Jabodetabek,” terangnya.

Bicara soal aset pelaku, diketahui pula masih dalam proses kredit. Baik rumah atau mobil. Saat ini dalam posisi digadaikan. Rumah seharga Rp1,2 M. Baru bayar uang muka Rp300 juta.

“Sulit sebetulnya pelaku ini mengelola dengan baik seluruh kliennya itu. Pelaku ini mulai bermasalah dengan bisnisnya sejak dia membeli rumah. Harusnya buat pernikahan, malah buat beli aset,” tambah dia.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat pasal 378 Jo 372 KUHP dengan ancaman penjara diatas lima tahun. (rd)

 

Ungkap Kasus WO di Kota Depok

Waktu kejadian

– Minggu, 18 Desember 2019

TKP :

– Kantor WO Panda Manda, Jalan Pramuka Raya, Kelurahan Mampang, Pancoranmas.

Korban :

– IS

– PU

– Calon korban sebanyak 40-an orang

Modus Operandi :

– Pelaku menawarkan jasa WO melalui medsos dan brosur  dengan sistem paket hemat, Rp50 juta, Rp65 juta, hingga Rp100 juta. Namun tidak sesuai dengan yang dijanjikan dan ada juga yg tidak terlaksana. Korban menderita kerugian materi maupun non materi.

Kerugian :

– Total diperkirakan dari korban dan calon korban Rp2,5 M

Pelaku :

– Anwar (33)

Barang bukti :

– Satu bendel bukti pembayaran dan transfer

– Satu bendel album foto prewedding

– Perangkat alat kantor

– 3 buah kartu ATM, Bank Mandiri, BRI, BCA

– Satu bendel print out rekening pembayaran korban

Saksi-Saksi :

– EF

– GO

– NA

– DE

Kronologis :

Pada sekitar bulan Desember 2019, salah satu korban, IS, berencana mengadakan acara resepsi pernikahan pada Minggu (2/2), lalu melihat iklan di medsos yaitu IG, ada WO Pandamanda, yang dengan paket hemat, lalu korban memilih paket Rp50 juta  dgn perjanjian lengkap mulai dari catering, prewedding, dekorasi, dedung, dll. Pada hari pelaksanaannya untuk paket tidak sesuai yang dijanjikan dan catering tidak dikirim sehingga korban merasa malu dan dipermalukan karena tamu yg datang tidak makan, dan pelaku dihubungi tidak aktif.

Pasal yang dilanggar : 

– 378 Jo 372 KUHP