Bedah Pilkada Depok Ala Direkrut Eksekutif PKSP, Efriza : Kutak Katik Paslon, Skenario Kekalahan PKS, Penghujung Waktu

In Politika
pilkada depok ala direktur eksekutif PKSP
Direkrut Eksekutif PKSP, Efriza.

 

Berbicara peta politik dan analisis mengenai Pilkada Depok 2020 bersama pakar, tentu akan mendapatkan pandangan baru. Kali ini, awak Radar Depok berbincang dengan Direktur Eksekutif Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP) dan juga Dosen Ilmu Politik di Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara (STIP-AN), Efriza, apa analisisnya?

Laporan : Ricky Juliansyah

RADARDEPOK.COM – Menjelang Pilkada Walikota Depok telah menghangat pola koalisi yang saat ini tercipta yakni Gerindra dan PDI Perjuangan dengan calon walikota dari Partai Gerindra yang sekarang menjabat Wakil Walikota Depok.

Sedangkan, koalisi kedua adalah Koalisi Depok Tertata yang terdiri dari empat partai-partai politik yakni PAN, Partai Demokrat, PPP, dan PKB, koalisi ini hanya baru menentukan kriteria pasangan calon. Sedangkan partai yang telah mengusung nama-nama calon walikota Depok yakni dari PKS dengan mengusung tiga nama, yakni Imam Budi Hartono, T. Farida Rachmayanti, dan Moh. Hafiz Nasir.

“Dari asumsi tiga pasangan calon ini, menyembulkan pertanyaan apakah peta politik ini akan terus ajeg atau akan terjadi perubahan,” tutur Efriza.

Menurut Efriza, peta politik pasangan calon ini kemungkinan besar untuk mencair, sangat kuat dugaannya, dengan beberapa alasan yakni: Pertama, penentuan peta politik juga dapat dipengaruhi oleh belum menentukan pilihannya Partai Golkar atas tiga poros koalisi.

Efriza melanjutkan, kedua, bahwa faktor Petahana, Mohammad Idris, juga tidak bisa diabaikan,  karena masih merupakan figur yang kuat. Mohammad Idris, dapat saja akan berlabuh ke Partai Gerindra dan PDI Perjuangan dengan turut meyakinkan dan mengajak Partai Golkar.

“Asumsi ketiga partai besar itu bersatu sangat kuat, karena ketiga partai ini sama-sama nasionalis, dan membutuhkan Petahana Mohammad Idris untuk mengetahui kelemahan dari kekuatan PKS, dan memperoleh dukungan dari massa Islam,” terangnya.

Meski demikian, mengusung Mohammad Idris tampaknya akan menjadi pilihan yang sulit, karena PDI Perjuangan dan Gerindra telah bersepakat mengusung Pradi Supriatna, kutak-katik kedua nama ini untuk dipasangkan sepertinya kemungkinan menang kembali sangat kecil, karena seperti mengulang cerita yang sama 2015 lalu, dengan asumsi pasti membosankan bagi pemilih.

Jika begitu Mohammad Idris akan berlabuh ke mana, bagi Efriza,  bisa saja kemungkinan besar yang relevan adalah Koalisi Depok Tertata.

“Koalisi ini bisa saja mengusungnya. Dengan dukungan tambahan dari Partai Golkar, yang masih menunggu untuk merespons. Kemungkinan Partai Golkar untuk tidak memberikan dukungan dalam peta koalisi tampaknya kurang memungkinkan terjadi,” ujarnya.

Bahkan, menurut Efriza, PKS pun tak sepenuh hati akan serius mengabaikan faktor Petahana Mohammad Idris, jika elektabilitasnya semakin menguat. Malah yang kemungkinan bisa terjadi, ketiga nama yang diusung tidak akan dicalonkan, bisa saja mirip seperti waktu Pemilihan Presiden Serentak 2019 lalu.

Sebab, PKS tentu saja berpikir realistis, jika terjadi tiga pasangan calon, sementara Mohammad Idris dicalonkan oleh gabungan partai Nasionalis-Islam melalui Koalisi Depok Tertata, maka kemungkinan terjadinya kekalahan pertama kali oleh PKS bisa saja terjadi.

Apalagi, peta kekuatan Islam yang lebih solid bisa dibangun koalisi ini melalui Mohammad Idris dan bersatunya Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Jika asumsi ini terjadi, maka cenderung miris, PKS sebagai partai peraih kursi terbanyak di Kota Depok, yang semestinya memimpin koalisi malah mengekor dan memilih di antara dua peta politik tersebut. Namun, buat Efriza, politik tak mengenal keajegan sikap, karena politik Indonesia dibangun dari sikap pragmatis semata.

Meski begitu, bagi Efriza, ada kekuatan penentu kutak-katik penentuan Paslon, di luar peta politik koalisi. Pertama, kesigapan dan keberhasilan Petahana yakni Walikota Depok dan Wakil Walikota Depok dalam menyelesaikan persoalan virus Korona (covid-19). Tentu saja, ini akan menyumbang elektabilitas utamanya Mohammad Idris sebagai Walikota Depok.

Lanjut Efriza, kedua, penentuan koalisi, juga ditentukanPaslon sebagai wakil walikota Depok yang akan diusungnya. Partai-partai politik tentu saja tak ingin mudah menetapkan akan berkoalisi, jika secara peta politik memperoleh kursi lebih banyak tetapi secara penentuan wakil walikotanya malah yang diajukan yang calonnya dari partai lain dengan hitungan matematis lebih sedikit jumlah kursinya, menghadapi resiko ini calon alternatif yang akan didorong kemungkinan besar dapat terjadi.

Ketiga, penentuan pasangan calon ini kemungkinan besar akan ditentukan peran dari tiap DPP, alhasil penentuan ini juga akan melihat perkembangan peta politik secara nasional. Kutak-katiknya, sambung Efriza, tentu saja didasari kemungkinan besar partai-partai merengkuh banyak kemenangan di berbagai daerah melalui hasil Pilkada Serentak dan menjadi perhitungan peta politik Pemilu Serentak Nasional ke depannya.

“Sehingga, penentuan pasangan calon dan peta koalisi, akan ditentukan di masa-masa menjelang batas akhir partai-partai menyerahkan daftar pasangan calon yang akan didukung melalui koalisi,” ucap Efriza. (*)

 

Editor : Pebri Mulya

You may also read!

kepala disdukcapil

Disdukcapil Kota Depok Andalkan G-Form untuk Pelayanan

MUDAH : Kepala Disdukcapil Kota Depok, Nuraeni Widiyatti menunjukkan formulir pendaftaran/hilang akta kelahiran di ruangannya.

Read More...
Kepala Seksi Ekonomi Pembangunan (kasi ekbang) Kelurahan Sukmajaya, Mimin.

18 RTLH di Kelurahan Sukmajaya Segera Diguyur Bantuan Rp 23 Juta

KesiEkonomi Pembangunan (Kasi Ekbang) Kelurahan Sukmajaya, Mimin.   RADARDEPOK.COM, DEPOK - Sebanyak 18 Rumah Tidak Layak Huni

Read More...
Pjs ke tiga kecamatan

Pjs Walikota Depok Monev Tiga Kecamatan, Ini Hasilnya

  GIAT : Monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan, di aula Kecamatan Tapos, Kamis (22/10). FOTO :

Read More...

Mobile Sliding Menu