opini pramudito korona

opini pramudito korona

 

Oleh: Pramudito

Pramudito, kolumnis, mantan diplomat, tinggal di Depok.

 

KETIKA awal Maret yang lalu pemerintah mengumumkan dua WNI  terpapar virus Corona,  maka masyarakat gempar dan ada yang panik.  Karena paniknya sebagian masyarajat juga terkena wabah belanja panik (panic buying). Memborong bahan-bahan kebutuhan pokok  di pasar atau supermarket. Itu terdorong oleh kekhawatiran bahwa barang-barang kebutuhan pokok pada masa yang akan datang menjadi langka dan harganya juga akan jauh lebih mahal. Sasaran belanja panik antara lain selain sembako adalah masker yang menurut desas-desus di media sosial dan iklan harus dipakai setiap orang untuk menghindari penularan wabah Covid-19 tersebut.

Tapi syukurlah belanja panik itu tak berlangsung lama. Pemerintah cepat tanggap dan memberikan jaminan bahwa barang-barang kebutuhan hidup sehari-hari selalu tersedia cukup di pasaran termasuk juga masker dengan menindak beberapa penimbun masker yang bertujuan untuk menjualnya  kembali dengan  harga sangat tinggi ditindak oleh aparat hukum dan keamanan. Saat itu ada pula  sedikit selentingan yang beredar  bahwa akan terjadi krisis ekonomi sehubungan dengan wabah Covid-19 yang cukup mencekam khalayak tersebut.

Namun setelah wabah Korona berlangsung  tiga bulan lebih dan semakin menerjang hampir semua negara mulai tampak dan terasa terhadap kestabilan dan pertumbuhan ekonomi,  baik global majupun nasional. IMF bahkan meramalkan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2020 ini bakal minus. Di dalam negeri ramalan pelambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia juga semakin nyaring kedengaran. Antara lain dengan pandangan bahwa tanpa Corona  pun pertumbuhan ekonomi nasional akan turun menjadi empat persen.

Bahkan Menteri Keuangan kita beberapa waktu yang lalu menyatakan bahwa bila masalah Corona tidak dapat diatasi, perekonomian Indonesia hanya bisa tumbuh dua bahkan nol persen. Maka adalah wajar bila sebagian pihak menyatakan kekhawatirannya akan terjadi resesi ekonomi dunia, termasuk juga di Indonesia. Jadi dobel bencana yang bakal dihadapi, selain Covid-19 juga resesi ekonomi. Tentu saja kita semua tak ingin krisis Corona terus berkepanjangan  dan juga krisis ekonomi  benar-benar terjadi. Namun bila krisis ekonomi sebagai sesuatu yang tak terelakkan, apa yang harus kita lakukan untuk menghadapinya?

Apa itu resesi ekonomi? Pengertian umum Resesi Ekonomi ditandai dengan adanya pelambatan pertumbuhan ekonomi dua kuartal secara berturut-turut. Resesi itu bisa saja melanda beberapa negara, sedangkan negara-negara lain belum tentu terkena resesi ekonomi. Resesi ekonomi baru disebut global bila hampir semua negara mengalami pelambatan pertumbuhan ekonomi dalam jangka yang sama. Dalam  khazanah ekonomi internasional resesi ekonomi yang terjadi bersamaan di seluruh dunia dinamai depresi ekonomi. Itu pernah terjadi pada awal 1930-an dulu.

Kemungkinan        

Bila kita tengok ke belakang sejenak, pada tahun 2013 Morgan Stanley menyebut lima negara dalam suatu istilah yakni The Fragile Five  yakni Indonesia, Turki, India, Brasil dan Afrika Selatan. Artinya bahwa kelima negara tersebut memiliki emerging market dengan potensi yang luar biasa, namun rentan digoyang oleh ketidakstabilan ekonomi global. Ini dikarenakan kelima negara tersebut memiliki fundamental yang rapuh yang diukur dari keseimbangan eksternal yakni neraca pembayaran.

Selanjutnya juga disebutkan bahwa diantara kelima negara tersebut, Brasil menjadi negara pertama  yang mengalami resesi ekonomi beberapa tahun yang lalu, disusul Turki pada pertengahan 2019. Dilihat dari segi pertumbuhan ekonomi, India dan Afrika Selatan juga mengalami pertumbuhan yang begitu lambat dan berada pada jurang resesi. Selanjutnya dikatakan bahwa di kawasan Asia: Singapura, Hongkong dan juga China berada pada kondisi yang sama dengan India. Sementara di Eropa, Italia dan Jerman juga menghadapi ancaman serupa.

Bagaimana dengan Indonesia sendiri?  Menurut Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) beberapa waktu yang lalu, Indonesia akan terdampak resesi disebabkan  adanya ketidakpastian ekonomi global. Disebutkan bahwa ada beberapa faktor  yang memengaruhi resesi ekonomi suatu negara, yakni sistem transaksi perdagangan  global semakin memburuk disaat dua kekuatan ekonomi raksasa yakni AS dan China tetap melangsungkan perang dagangnya melalui penaikan pajak impor atau bea masuk produk dari masing-masing  negara.

Ini mengakibatkan harga berada pada garis naik keatas (makin mahal) sementara pendapatan masyarakat  relatif tetap. Konsekwensinya pasti berdampak  pada ketidakmampuan daya beli masyarakat. Barang tidak atau sulit laku, penutupan perusahaan (bangkrut), pengangguran akibat PHK dan efek sosialnya berupa kriminalitas  meningkat  serta pertumbuhan ekonomi negara menjadi layu.

Yang menarik adalah ucapan Presiden Jokowi di medio 2019 bahwa ancaman  resesi bagi Indonesia itu nyata dan kemungkinan pada tahun 2020 ini, pelambatan ekonomi benar-benar terjadi di negara kita. Karenanya, kita harus benar-benar mempersiapkan diri menghadapi ketidakpastian global saat ini, siap  terhadap  kerentaan  ekonomi bangsa karena pengaruh perang dagang antara AS dan China yang tampaknya belum berujung.

Untuk disadari, gambaran diatas adalah situasi ketika invasi pandemik Covid-19 belum berlangsung. Sekarang setelah kita memasuki masa sulit menghadapi serangan virus mematikan tersebut, maka secara obyektif “optimisme”  bahwa akan terjadi resesi ekonomi semakin besar. Bila Covid-19 tak cepat-cepat tertanggulangi,  resesi ekonomi akan menjadi keniscayaan. Maka satu-satunya cara menghadapinya adalah bagaimana cara menanggulangi resesi ekonomi itu sendiri. Kita sebagai bangsa pejuang tidak boleh pesimistis, malahan harus sebaliknya. Tetap optimistis, penuh semangat perjuangan untuk menghadapi segala rintangan yang dihadapi perjalanan hidup benegara kita sebagai bangsa yang besar.

Antisipasi

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan secara perorangan bila resesi ekonomi benar-benat singgah di Indonesia, antara lain:

1. Membangun Dana Darurat.

Dana darurat mutlak harus dimiliki, berapa pun jumlah tabungan yang dimiliki. Ketika ekonomi sedang sulit, kemungkinan terburuk  adalah pemotongan jumlah karyawan atau kemerosotan pendapatan yang tajam. Dana darurat menjadi dana yang penting untuk menahan penurunan pendapatan sementara atau kondisi yang sangat darurat, misalnya sakit keras. Dengan dana darurat tersebut, anda tetap bisa membiayai hidup.

2. Mengubah Gaya Hidup.

Kesampingkan dulu kebutuhan  yang tidak penting walaupun itu merupakan gaya hidup Anda selama ini. Misalnya sering ke mal atau membeli aksesoris yang mahal. Lupakan sejenak kebutuhan yang tidak perlu jangka pendek, misalnya mengganti mobil dengan yang baru. Lebih baik pengeluaran itu disimpan ke dalam tabungan yang punya likuiditas tinggi.

3. Melunasi Utang.

Hal ini memang tidak mudah, apalagi jika utang tersebut terkait dengan tenor. Untuk mengantisipasi resesi ekonomi yang akan datang, Anda sebaiknya bisa melunasi utang-utang yang dipercepat. Prioritaskan utang  berdasarkan suku bunganya. Jangan menabung  atau melakukan pembayaran tagihan apa pun pada akun rekening yang digunakan untuk membayar utang.

4. Mendiversifikasi Investasi.

Bagi yang memiliki investasi, sebaiknya tinjau kembali portofolio Anda. Sesuaikan dengan kondisi keuangan baik dari sisi keuntungan maupun risiko.  Anda tentu tidak ingin investasi merugi terlalu mendalam. Bagi yang sudah pensiun sebaiknya jangan pertaruhkan  pada investasi yang sangat berisiko.  Anda bisa menempatkan dana investasi yang lebih stabil, misalnya  reksadana pendapatan tetap atau pasar uang atau imvestasi emas.

Nah, selamat menghadapi resesi ekonomi dengan tangguh! (*)