Beranda Pendidikan FIA UI Adakan Bedah Buku

FIA UI Adakan Bedah Buku

0
FIA UI Adakan Bedah Buku
DISKUSI: Rangkaian Dies Natalis ke-5 FIA UI dengan tema Globalisasi dan Desentralisasi: Bakti FIA UI untuk Bangsa dan Negara, di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI, beberapa waktu lalu. FOTO : UI FOR RADAR DEPOK

 

UI adakah bedah buku
DISKUSI : Rangkaian Dies Natalis ke-5 FIA UI dengan tema Globalisasi dan Desentralisasi: Bakti FIA UI untuk Bangsa dan Negara, di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI, beberapa waktu lalu. FOTO : UI FOR RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Rangkaian peringatan ulang tahun ke-5 Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI), menggelar bedah buku dengan tema Globalisasi dan Desentralisasi: Bakti FIA UI untuk Bangsa dan Negara, di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI, beberapa waktu lalu.

Bedah buku tersebut mengupas tantangan dalam era globalisasi yang serba terkoneksi. Indonesia perlu kembali memikirkan bagaimana sistem dan praktik desentralisasi yang sudah berjalan hingga saat ini, misalnya, kewenangan pusat dan daerah yang tidak sinkron dapat menyebabkan daya saing suatu negara terhambat.

Tiga buku dibedah di acara ini, yakni  “Memimpin Reformasi Birokrasi” yang ditulis oleh Dekan FIA UI Prof. Dr. Eko Prasojo, “Dua Sisi Mata Uang” yang ditulis oleh Dr. Hora Tjitra, serta buku “Pajak dan Pendanaan Peradaban Indonesia” oleh Partner Tax Research & Training Services DDTC oleh Bawono Kristiaji.

Dalam sambutannya, Dekan FIA UI Eko Prasojo menyampaikan bahwa sebaik apapun regulasi yang dimiliki oleh Indonesia, namun bila birokrat yang menjalankannya masih korup maka implementasinya tidak akan baik.

“Kesulitan investasi bukan semata-mata permasalahan di pusat, melainkan permasalahan di daerah, karena problem perizinan juga terletak di daerah. Kualitas pemilihan kepala daerah (pilkada) yang sebenarnya juga mempengaruhi bagaimana birokrasi berjalan,” ujarnya.

Di masa depan, kata Eko, birokrasi di Indonesia akan sangat bergantung kepada globalisasi dan digitalisasi.  “Kuncinya ada di kualitas politik dan demokrasi yang baik, institusi dan governansi yang kuat, serta strategi pembangunan ekonomi. Untuk itu, harus ada perubahan dari internal pemerintah itu sendiri,” katanya.

“Di masa depan, Aparatur Sipil Negara (ASN) bisa bekerja dimana saja tidak perlu terikat oleh waktu dan tempat. Karena itu, di masa depan yang paling penting dalam aspek bukan kehadiran, melainkan produk pekerjaan yang dihasilkan. Oleh karenanya, pada Ibukota yang baru saya berharap tidak ada gedung yang terlalu banyak dibangun,” ujar Eko.

Dalam pembahasan buku berikutnya, “Dua Sisi Mata Uang”, Hora Tjitra mengatakan bahwa kata kunci dalam perubahan organisasi terletak pada sistem dan pemimpinnya. “Di Indonesia, yang penting adalah bagaimana cara mengubah manusia dan kesulitan apa yang dihadapi pemimpin untuk mengubah karyawan, sedangkan di luar negeri fokusnya lebih ke sistemnya,” kata Hora.

Menurutnya, perubahan yang baik itu harus dari dua sisi. “Perubahan harus memikirkan aspek jangka panjang. Perubahan dari pemimpin (leader) kuncinya ada di pembelajaran, tentang bagaimana pemimpin mau terus belajar dan berbenah,” ujar Hora. (rd)

 

Jurnalis : M. Agung HR (IG : @agungimpresi)

Editor : Pebri Mulya