Idris Pradi Tipis

In Utama
simulasi pemilihan kepala daerah
SIMULASI PILKADA : Warga saat berpartisipasi mengikuti Simulasi Pilkada Kota Depok yang diadakan Harian Radar Depok di kawasan Jalan Kartini, Kecamatan Pancoranmas, Rabu (26/2). FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM – Belum ada yang baru dalam pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kota Depok. Semuanya masih berkutat soal rekomendasi yang di nanti masing-masing partai. Manuver tiap pemilik suara terus digencarkan dengan segala caranya, demi dilirik penggede partai. Lalu bagaimana sejauh ini usahanya. Rabu, 26 Februari 2020 Radar Depok menakar tingkat keinginan warga Depok siapa yang ingin menjadi Walikota dan Wakil Walikota Depok, dengan langsung menggelar Simulasi Pilkada 2020.

Ada 13 nama dipilih Radar Depok dalam kontestasi Pilkada Depok yang saat ini namanya tiba-tiba melejit. Dalam lembar simulasi, 13 nama ini diurut sesuai abjad. Afifa Alia pertama, kemudian Bayu Adi Perdana, Farabi A Rafiq, Hafid Nasir, Hardiono, Hasbullah Rahmad, Imam Budi Hartono, Mohammad Idris, Pradi Supriatna, Qonita Lutfiyah, Rama Pratama, T Farida Rachmayanti, Yeti Wulandari dan lain-lain.

Hasil simulasi tidak ada kejutan yang berarti, petahana Mohamad Idris dan Pradi Supriatna masih mendominasi perolehan suara. Namun, dari hasil simulasi di sebelas Kecamatan, Pradi Supriatna meraih 19,17 persen, unggul tipis diatas Mohammad Idris yang meraih 17,83.

Posisi ketiga, ketua DPD Golkar Kota Depok Farabi A Rafiq yang meraih 8,07 persen. Dari hasil simulasi kekuatan Farabi ada di Kecamatan Cinere-Limo, anak pedangdut legendaris alm Arafiq tersebut mampu mengungguli petahana di angka 17,68 persen.

Yang menarik di posisi ke empat, Pengusaha muda asal Kota Depok Bayu Adi Permana yang mendeklarasikan sebagai calon Walikota mampu meraih 7,96 persen.sedangkan posisi kelima ada politisi Partai Amanat Nasional yang mampu meraih 6,95 persen. (Posisi selanjutnya, lihat grafis). Sementara, lain-lain sebanyak 2,69% dan 3,36% suara tidak sah. Nama lain-lain yang dimasukan dalam surat suara simulasi warga menyebut nama Babai Suhaemi, Raffi Ahmad dan Dimas Oky.

Saat pelaksanaan Simulasi, Harian Radar Depok membagi 11 kecamatan menjadi enam titik. Kecamatan Cinere dengan Limo, Sawangan-Bojongsari, Tapos-Cimanggis, Sukmajaya-Cilodong, Cipayung-Pancoranmas, dan terakhir Kecamatan Beji. Pemilih pemula, dan lokasi yang dipilih pada pusat keramaian tentunya belum terafiliasi partai politik (Parpol) maupun para calon walikota dan wakil walikota.

Cinere-Limo, lokasi yang dipilih sepanjang Jalan Limo Raya sampai Jalan Cinere Raya. Sawangan-Bojongsari : Jalan Raya Muchtar hingga Jalan Raya Parung Ciputat, Tapos-Cimanggis :  sepanjang Jalan Raya Jakarta Bogor dari perbatasan Kabupaten Bogor hingga Jakarta Timur. Sukmajaya-Cilodong : Jalan Tole Iskandar disambung jalan kecil penghubung ke Kecamatan Cilodong serta menyasar pasar tradisional. Kemudian, di Cipayung-Pancoranmas : dua stasiun yang jadi sasaran dan sepanjang Jalan Cipayung. Terakhir di Kecamatan Beji membidik pusat perbelanjaan dan Jalan Raya Beji. Ada 12 rewalan yang menjalankan simulasi. Tiap satu titik terdapat dua relawan dan membawa 150-200 kertas suara simulasi. Mulai simulasi sedari pukul 08:00 hingga 16:00 WIB.

Menurut Ketua Pelaksana Simulasi Pilkada 2020 Walikota dan Walikota Depok Radar Depok, Fahmi Akbar. Diselenggarakannya simulasi ini bukan kali pertama yang dilakukan Radar Depok. Saat Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Calon Legislatif (Caleg) di 2019 juga sudah dilakukan, dengan hasil yang tidak jauh berbeda.

Saat simulasi Pilkada 2020 Walikota Dan Wakil Walikota Depok, Radar Depok melibatkan 12 relawan, dan menyiapkan 1.000 surat suara serta peralatan pencoblosan. “Alhamdulillah respon warga begitu besar, dari 1.000 suarat suara berhasil terkumpul 892 suara dari enam titik yang telah kami petakan,” jelas pria yang juga menjabat Redaktur Pelaksana Radar Depok ini.

Digelarnya simulasi, kata Fahmi, murni inisitif Radar Depok untuk mengetahui sejauh mana keinginan warga Depok dipimpin selama lima tahun kedepan. Metode ini pun telah sesuai dengan probability area sampling. “Ini murni dari Radar Depok, tanpa ada desakan siapapun dan pemodalnya. Makanya kami melakukan simulasi secara diam-diam tanpa diketahui harinya,” terang pria yang belum lama menyabet Juara Wartawan Terbaik Versi Depok Media Center (DMC) ini.

Hasil ini, lanjutnya, bisa jadi acuan para calon yang mau maju, dimana yang masih lemah suaranya. Dan bagi yang belum terdongkrak suaranya di suatu kecamatan bisa lebih intents lagi menyosialisasikan dirinya. “Hasilnya bisa jadi acuan bagi mereka yang mau mencalonkan,” tegasnya.

Adanya simulasi tersebut, Pakar Ilmu Kuantitatif, Amry menuturkan, teknik yang tepat dalam simulasi pencoblosan Pilkada ini, yakni memakai probability area sampling. Yang dimaksud probability area sampling berarti populasi yang diambil terdiri dari kelompok-kelompok individu.

Sama halnya ketika menghitung calon yang akan datang, teknik yang pas digunakan yakni probability area sampling. Karena di area tersebut pasti ada kelompok-kelompok orang, dan cara pengambilannya dengan survei. “Jadi bukan orang-orang tertentu yang kita pilih,” ucap pria yang juga Dosen Metode Penelitian Komunikasi di IISIP Jakarta Selatan ini, kepada Radar Depok, Sabtu (29/2).

Amry menjelaskan, jika populasi yang diambil sebanyak 1.000 orang untuk mewakili kurang lebih 1,3 juta warga Depok. Maka, survei tersebut sudah tepat dan dapat dilakukan. “Asal 1.000 orang tersebut sifatnya heterogen. Jadi presisi n kecil dan N besarnya semakin besar dan bisa ditentukan,” tuturnya.

Intinya, hasil simulasinya bisa digeneralisasikan dengan teknik probability area sampling. Asal orangnya diacak, dan lokasinya ditentukan, serta survei itu harus representatif. “Langkah Radar Depok menggelar simulasi sudah tepat,” tegasnya.

Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) menilai simulasi yang dilakukan Radar Depok sudah cukup dalam metode survei, di mana jumlah responden 1.000 dan Jumlah daftar pemilih tetap (DPT) Depok sekitar 1,3 juta pemilih. Dari simulasi tersebut pun dapat dilihat dalam tiga perspektif. Sehingga, menjadi bahan reverensi partai dan kandidat.

Direktur DEEP, Yusfitriadi mengatakan, hasil yang didapat dari simulasi Radar Depok, bisa dibuat minimal tiga perpektif. Sehingga, nanti dapat menjadi rujukan bagi partai maupun masyarakat di Kota Depok dalam Pilkada 2020.

Pertama, membaca peluang pasangan, dari hasil simulasi itu, tentu petahana masih unggul dari calon lain yang dimuat. Sebab, selain melakukan tugas sebagai pemangku kebijakan di Balaikota dan dengan instansi vertikal, mereka juga kerap melakukan kunjungan kerja ke wilayah.

“Di sini keunggulan petahana, dari awal mula menjabat di 2016 hingga sekarang,  jelas mereka lebih unggul beberapa  langkah,” kata Kang Yus -sapaannya-.

Yang menjadi poin menarik, beberapa politikus dan nama-nama baru muncul dengan jumlah persentase yang cukup lumayan. Sehingga, mereka bisa menjadi kuda hitam, atau bahkan menjegal petahana jika melakukan sosialisasi yang tepat sasaran dan masif.

“Keuntungannya yang politikus, itu memiliki kendaraan, tinggal membangun koalisi dan meraih kepercayaan DPP untuk memberikan rekomendasi untuk mereka. Sementara, tokoh non partai, tentu lebih berat kerjanya, mencari perahu, meyakinkan DPP tiap partai yang mengusungnya dan sosialisasi massif tentunya,” paparnya.

Dia meyakini, dari nama-nama non partai sudah melakukan sosialisasi, baik dengan terjun langsung ke masyarakat, maupun membuat atribut, seperti baliho, banner atau masif diberitakan media massa. Sehingga, popularitas dan elektabilitas mereka meningkat.

“Tapi, ada kemungkinan, dari pemilih hanya melihat yang pertama saja, melihat foto mereka, bisa dicari yang tampan atau cantik. Di samping mereka yang memang benar-benar memilih karena kenal dengan sosoknya,” tegasnya.

Kedua, sambung Kang Yus, ini juga membaca prilaku pemilih Kota Depok. Dan ketiga, membaca peluang kemenangan baik petahana dan pasangan yang diusung koalisi partai di pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Depok. “Hasil ini bisa menjadi reverensi partai untuk dilaporkan ke DPP masing-masing maupun kandidat yang akan berlaga di Pilkada Depok,” tandas Kang Yus.(rd)

 

Jurnalis : Tim Radar Depok

Editor : Fahmi Akbar (IG : @akbar.fahmi.71), Pebri Mulya

You may also read!

guru besar FTUI kenalkan

Guru Besar FTUI Kenalkan Biopestisida di Sembalun

MENGENALKAN : Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Prof Misri Gozan, dan tim terjun

Read More...
e sport dengan kadskominfo

Cabor E-Sports Hadir di Kota Depok, Pemkot Beri Dukungan

TERIMA : Kadiskominfo Kota Depok Sidik Mulyono yang menerima Audiensi Ketum PB E-Sports Indonesia Kota

Read More...
pelantikan e sport

Deklarasi, Inilah Struktur PB ESI Kota Depok

SEMANGAT : Suasana pengukuhan pengurus PB ESI Kota Depok beberapa waktu lalu. FOTO : ISTIMEWA   RADARDEPOK.COM,

Read More...

Mobile Sliding Menu