korona ilustrasi
ILUSTRASI
korona ilustrasi
ILUSTRASI

 

RADARDEPOK.COM, JAKARTA – Persebaran Virus Korona atau Covid-19 semakin mengkhawatirkan di Indonesia. Bayangkan, dari 34 provinsi menurut data terakhir sudah 22 provinsi terpapar Korona. Sejumlah pihak pun berharap pemerintah Indonesia segera bertindak cepat, agar korban tidak terus berjatuhan.

Anggota DPR RI, Fadli Zon meminta, Presiden Joko Widodo tidak membuang-buang waktu untuk menerapkan kebijakan lockdown atau penutupan, akses keluar-masuk wilayah tertentu demi mencegah penyebaran virus Korona. Permintaan lockdown itu menjadi salah satu poin dalam surat terbuka yang dikirim ke Jokowi, Senin (23/3).

Dia mengaku, khawatir jumlah korban virus Korona akan bertambah banyak bila kebijakan lockdown tidak segera diterapkan.

“Jadi Pak @Jokowi, jangan buang-buang waktu menunda lockdown karena nanti akan lebih banyak korban jatuh,” kata Fadli dalam surat terbuka yang ia unggah di akun Twitter-nya @fadlizon, Senin (23/3).

Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI itu mengaku, memahami banyak pro dan kontra terkait penerapan kebijakan lockdown, khususnya di Jakarta yang kini disebut sebagai pusat penyebaran virus corona.

Menurutnya, pihak yang kontra umumnya menganggap kebijakan lockdown akan mempercepat krisis ekonomi terjadi di Indonesia. Sedangkan pihak yang kontra, lanjut Fadli, membandingkan dengan langkah Hongkong, Singapura, dan Kota Shanghai (China) yang berhasil menekan angka penyebaran virus Korona tanpa menerapkan kebijakan lockdown.

Namun, Fadli berpandangan, langkah membandingkan dengan Singapura, Hongkong, dan Shanghai tidak tepat karena tidak menjadi pusat penyebaran virus Korona.

“Singapura, misalnya, memang tak perlu melakukan lockdown karena mereka bisa mengontrol sepenuhnya semua pintu masuk ke negaranya yang jumlahnya memang tak banyak. Sejauh ini jumlah korban meninggal di negara kota tersebut hanya dua orang, itu pun salah satunya pasien dari Indonesia,” kata Fadli.

Hongkong dan Shanghai tidak di-lockdown oleh pemerintah China, bukan karena posisinya sebagai pusat bisnis dan perekonomian. Namun, karena memang kedua kota itu bukan episentrum wabah Korona.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini mengaku, memahami wacana menerapkan kebijakan lockdown di Jakarta merupakan sebuah dilema besar. Karena dikhawatirkan akan memukul rakyat kecil yang menyandarkan pendapatannya pada kerja-kerja harian.

Namun, Fadli mengingatkan bahwa dikhawatirkan Indonesia tak akan bisa membatasi penyebaran virus tanpa menerapkan kebijakan lockdown. Dia juga menyatakan, Indonesia dipastikan akan mengalami krisis virus Korona. Dan krisis ekonomi selama tiga hingga enam bulan mendatang, dengan atau tanpa kebijakan lockdown.

“Satu hal yang ke depan akan sulit disangkal dalam tiga hingga enam bulan ke depan, kedua krisis yang tengah kita alami saat ini. Yaitu, krisis Covid-19 dan krisis ekonomi, pada akhirnya akan sampai di titik yang sama, dari manapun dimulainya,” tutur Fadli.

Lebih jauh, dia menyarankan agar Jokowi menggunakan anggaran bantuan sosial dan anggaran lain untuk membantu mereka yang terdampak bila pemerintah menerapkan kebijakan lockdown, seperti pekerja harian, tukang ojek, sopir taksi, buruh, tani, pedagang kecil, dan seterusnya.

Menurutnya, pemerintah juga harus menyiapkan jaring pengaman sosial dengan mengalihkan belanja proyek-proyek pembangunan fisik yang tidak mendesak dan bisa ditunda.

Jumlah provinsi yang menjadi lokasi kasus positif virus Korona Covid-19 bertambah dua yakni Jambi dan Maluku Utara. Ini berarti total 22 provinsi memiliki pasien yang terjangkiti virus tersebut. Dari data yang dirilis pemerintah hari Senin (23/3), tercatat masing-masing ada satu kasus positif di Maluku Utara dan Jambi. Sedangkan dua provinsi yang baru masuk hari Minggu (23/3) adalah Papua dan Maluku.

Juru bicara nasional dalam penanganan virus korona Achmad Yurianto mengatakan data distribusi provinsi ini jadi basis pemerintah mengalokasikan peralatan kesehatan. “Distribusi untuk alat pelindung diri (APD), screening test, masker, dan obat,” kata Yurianto dalam konferensi pers di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Senin (23/3).

Yurianto berharap distribusi peralatan dapat meningkatkan fasilitas layanan pasien virus Korona. “Sehingga bisa efektif dalam pelayanan bagi warga yang sedang sakit,” katanya.

Sampai hari ini Senin 23 Maret pukul 12.00 ada penambahan 65 kasus baru menjadi 579. Dia menambahkan, satu orang dinyatakan sembuh sehinga total kasus sembuh menjadoi 30 pasien.

Sementara itu satu lagi pasien meninggal sehingga total kasus meninggal menjadi 49 pasien. (rd/net)

 

Jurnalis : Fahmi Akbar (IG : @akbar.fahmi.71)

Editor : Pebri Mulya