Beranda Utama Perekonomian Depok Lesu

Perekonomian Depok Lesu

0
Perekonomian Depok Lesu
SEPI : Pedagang beraktifitas di Pasar Agung, Kecamatan Sukmajaya yang sepi, Senin (9/3). FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
pasar di depok sepi
SEPI : Pedagang beraktifitas di Pasar Agung, Kecamatan Sukmajaya yang sepi, Senin (9/3). FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Sejak pemerintah menyatakan dua warga Depok positif Virus Korona, jagad Kota Depok syok. Dua pekan sudah, virus yang diberi nama Covid-19 ini membumi di Kota Sejuta Maulid. Khawatir tertular, tempat-tempat keramaian dan usaha pun,` kena imbasnya. Saat ini pemilik usaha teriak mengalami penurunan omset.

Pramuniaga Siomay Kinara di dfoodbox Dmall, Nining mengaku, merasa omsetnya menurun. Dulu omsetnya 25 persen kini menjadi 10 persen. “Keuntungan perhari jadi Rp50 ribu, dulu bisa Rp100 ribu lebih per hari,” kata Nining kepada Radar Depok, Senin (9/3).

Nining juga mengaku, pusing dengan penurunan pelanggannya. Nining berharap musibah ini tidak ada lagi.

Pernyataan yang sama oleh pramuniaga Mie Kocok Pondok Rizky di dfoodbox, Dmall, Melani. Dia merasakan pengunjung dfoodbox menurun, yang biasanya lebih dari 100 orang, sekarang hanya 75 orang per hari. “Keuntungan menurun hingga 50 persen, dulu untung Rp250 ribu per hari sekarang berkurang jadi hanya Rp100 ribu,” ujar Melani.

Hal itu juga dirasakan oleh wirausaha yang ada di Depok Town Center (DTC). Seperti, penjual baju anak-anak, Zuem. Dia mengatakan, saat panic buying di DTC, warga berbondong-bondong membeli barangnya. Namun, saat selesai panic buying, omzet menurun. “Sebelum adanya korona kuntungan mencapai Rp90 ribu sampai dengan Rp100 ribu. Namun, sekarang hanya Rp50 ribu per hari,” kata Zuem.

Ada pun penjual topi dan kacamata di DTC, Wuri. Dia merasakan, dampak korona juga di tokonya. Sebelum pemberitaan COVID-19 merebak, tokonya mendapatkan omzet Rp100 ribu per hari, namun setelah pemberitaan, dia mengaku dagangannya mulai sepi.

“Omset kami jadi hanya Rp75 ribu per hari paling besar, kadang malah tidak ada yang beli saat awal-awal adanya berita korona. Saat panic buying di DTC sempat banyak yang beli, namun mulai normal lagi minggu kemarin. Sekitar 100 ribu per hari.” tutur Wuri.

Sementara, proses jual beli di pasar tetap berlangsung seperti biasa, minat masyarakat untuk pergi ke pasar pun tidak berkurang. Harga-harga bahan pokok seperti sayur dan buah, masih berada dalam keadaan stabil.

“Gak ada masih stabil kalau harga sayuran, kalau harga bumbu dapur kaya jahe memang pada naik. Kalau sayuran sih gak ada paling bombay doang, harga yang lain masih stabil” ujar Danis salah satu pedagang sayuran di Pasar Kemirimuka.

Sementara, untuk sembako khususnya komoditi gula mengalami kenaikan. Kenaikannya tinggi, dari awalnya sekilonya Rp14 ribu sekarang Rp17 ribu sekilonya. “Kalau terigu itu sih normal, mulai dari ada isu virus korona ya naiknya,” ujar Iis salah satu pedagang sembako di Pasar Depok Jaya, Senin (9/3).

Di lokasi terpisah, okupansi dari bisnis perhotelan juga dirasakan ada penurunan tapi tidak drastis dan besar. General Manager (GM) Hotel Bumi Wiyata, Hesty Kemala Dewi menyebut, secara tingkat hunian juga tidak ada masalah. Semua even berjalan dengan lancar, kalaupun ada yang terpengaruh kolam renang saja. Karena memang masyarakat Depok, sendiri yang lebih takut. Tapi, kalau tamu dari luar Depok justru tidak terlalu masalah. Karena mereka mungkin sudah mulai menyadari, bagaimana sih penularan bentuk penularan dari virus korona sendiri.

“Tapi kalau keseluruhan di Depok ini kayanya masih normal, hanya memang ada beberapa hotel,” katanya.

Terkait tamu Warga Negera Asing (WNA), Hotel Bumi Wiyata tidak ada pembatasan. Hanya saja, disini memang enggak terlalu banyak. Lebih ke tamu domestik.

Public Relations Manager The Margo Hotel, Kartika Sekartaji menyebut, tidak terlalu banyak penurunan soal penghuni, sama seperti biasa dari dampak virus korona. Menurutnya, sejauh ini tidak ada pembatan WNA. Tamu asing masih bisa menginap dan beraktivitas lain, seperti meeting. “Karena kami menyadari bahwa yang harus diperangi adalah antisipasi penyebaran virusnya,” jelasnya.

Tamu The Margo Hotel, kata dia, masih di dominasi oleh tamu lokal, kalau presentasi WNA-nya hanya 5-6 persen. “Tamu WNA sangat bervasiasi, paling sering Asia dan Eropa,” ucap dia.

Terpisah, Kepala Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Kota Depok, M Miftah Sunandar mengatakan, tanggapan yang berlebihan atas kemunculan virus berimbas pada keengganan orang dari luar Kota Depok untuk datang.

“Yang berkembang di lapangan unsur hoaksnya. Tanggapan dari isu korona yang terlalu berlebihan sehingga memengaruhi orang-orang untuk datang ke Depok,” ucap Miftah.

Selain pengunjung, kata Miftah, para pebisnis juga masih takut menginvestasikan modalnya di Kota Depok. Bahkan okupansi hotel di seluruh kota menurun hingga 40 persen. “Memang pasien yang positif korona itu dari Depok. Tapi bukan berarti virus itu menyebar dan masif. Kota Depok masih aman dan nyaman untuk dikunjungi,” tutupnya. (rd)

 

Jurnalis : Tim Radar Depok

Editor : Fahmi Akbar (IG : @akbar.fahmi.71), Pebri Mulya