Beranda Ruang Publik Serba-serbi Kanan-Kiri (Mulai dari Kitab Suci, hingga Naik-Turun Metro Mini)

Serba-serbi Kanan-Kiri (Mulai dari Kitab Suci, hingga Naik-Turun Metro Mini)

0
Serba-serbi Kanan-Kiri (Mulai dari Kitab Suci, hingga Naik-Turun Metro Mini)

 

Oleh: Moch Ikmaluddin

Alumni PIM tahun 2005, Lulusan S1 dan S2 Intitut PTIQ Jakarta

 

KATA “kanan-kiri” pasti tak asing bagi kita. Mulai anggota badan: mata, telinga, tangan dan kaki. Termasuk organ tubuh dalam. Semisal tulang rusuk, jantung, paru-paru, hingga otak.

Bahkan di dalam Al-Qur’an, ungkapan kanan kiri dijelaskan dengan sangat detail. Misalnya di surat 56/Al Waqi’ah: 27-57.

Bagaimana Allah memanjakan “Ashab al Yamin” dengan kenikmatan-kenikmatan yang tiada bandingnya dengan kenikmatan dunia yang paling “wah” dan “wow” sekalipun. Selain kepada golongan kanan, Allah juga berikan kenikmatan yang lebih josss lagi. Yaitu kepada “Al Muqarrabin”.

Sebaliknya, Allah menimpakan “kepayahan-demi kepayahan” kepada “Ashab al Syimal” disebabkan mereka sudah bermewah-mewahan, lagi mengoleksi dosa. Apa itu? baca sendiri ya! Ini kata Al-Qur’an loh ya!

Selain yang sudah disebutkan dalam Al Qur’an, nampaknya “kanan” selalu mendapat tempat yang dimuliakan, didahulukan.  sehingga memberi kesan terhormat. Misalnya, perintah mendahulukan kaki kanan ketika masuk rumah, masuk mesjid. Makan juga dengan tangan kanan. Bahkan, dalam wudhu dan mandi janabah, mendahulukan anggota kanan adalah sunnah.

Sebaliknya, “kiri” harus rela dengan kesan di nomer duakan. Misalnya, masuk toilet mendahulukan kaki kiri istinjak dengan kaki kiri. Keluar rumah dan masjid dengan kaki kiri. Uniknya, serenteng gelang, jam yang harganya mahal dipakai di tangan kiri. Katanya sih biar tidak iri. Hahaha!

Kabar baiknya, tangan dan kiri dan anggota badan yang sepasang ini saling mensupport dan melengkapi. Contohnya, ketika tangan kiri gatal, tangan kananlah yang “nggaruk”. Begitu juga sebaliknya.

Saya jadi teringat sekitar tahun 2008-2009. Ketika pulang pergi kuliah masih naik metro mini. Tidak bosannya mengingatkan kepada penumpang yang naik: “kaki kanan dulu bang, mpok, pak, dek!” Dan ciri khas metro mini jakarta adalah baru satu kaki “mak jeglek” nempel tangga bis, sang kondektur langsung teriak, taaaaarik bang! Inilah seninya naik angkutan umum. Sebaliknya, ketika turun, lebih galak lagi, “turun kaki kiri dulu”. Jangan coba-coba turun pakai kaki kanan, kecuali kalau siap sempoyongan “kesrimpet”.

Untuk yang satu ini, entah bagian dari syari’at atau memang sunnatullahnya begitu. (*)