Beranda Metropolis Universitas Gunadarma Didemo : Biaya Pendidikan Dianggap Mahal

Universitas Gunadarma Didemo : Biaya Pendidikan Dianggap Mahal

0
Universitas Gunadarma Didemo : Biaya Pendidikan Dianggap Mahal
DIDEMO : Ribuan mahasiswa Gunadarma membentangkan spanduk ditiap lantai kampus. Mereka menilai kebijakan kampus sepihak dalam mengeluarkan regulasi. FOTO : ANAKGUNDAR.COM FOR RADAR DEPOK
demo di universitas gunadarma
DIDEMO : Ribuan mahasiswa Gunadarma membentangkan spanduk ditiap lantai kampus. Mereka menilai kebijakan kampus sepihak dalam mengeluarkan regulasi. FOTO : ANAKGUNDAR.COM FOR RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Mahasiswa kampus tersohor di Jalan Margonda Raya, Kota Depok sudah gunda gulana. Puncaknya kemarin (6/3), ribuan mahasiswa Gunadarma membentang keresahannya di media spanduk selama menjalani pendidikan tiap semester. Mahasiswa menilai kampus secara sepihak mengeluarkan regulasi pembayaran per-semester yang terlampau besar.

Kepada Radar Depok, Media Pers Independen Mahasiswa Anakgundar.com, Ahmad Wahyudi menjelaskan, ada kebijakan baru yang merugikan mahasiswa, hingga banyak mahasiswa terancam pindah kampus dan berenti kuliah. Bayaran semakin mahal. Dari tahun 2014 Rp6 juta per semester, dan di 2016 tiba-tiba sudah Rp12 juta.

Parahnya, kata Wahyu, mahalnya bayaran tanpa ada peningkatan pelayanan dan fasilitas. Akreditasi A tapi kurikulum masih 90-an. “Kita ada praktek ada segala macem tapi modal di google doang. Katanya, kampus IT terbaik tapi ternyata nol,” jelas mahasiswa  Gunadarma Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi ini.

Menurutnya, untuk fasilitas tidak merata untuk region, region ada lima : Depok, Cikarang, Cengkareng, Karawaci dan Salemba. Tapi, itu tertuju cuma di Depok. Bayaran mahal tak seirama dengan fasilitas yang ada. Makanya, aksi ini mahasiswa ada tujuh tuntutan.

“Salah satunya kami menuntut perbaikan entah itu dari kurikulum atau fasilitas layanan, fasilitas pendidikan. Staf pelayanan juga tidak ramah,” jelasnya.

Selain itu, disini (Gunadarma) ada sistem pecah blangko. Jadi, bayaran persemester bisa dipecah saat mau lulus. Dengan catatan ijazah dan surat keterangan lulus itu ditahan. Tapi, tiba-tiba ada kebijakan sepihak tanpa pemberitahuan dari mahasiswa, dosen, kemahasiswaan kampus. Itu hanya dari pihak yayasan atau rektorat.

“Kebijakan baru ini dinilai ditutupi, kita dipaksa cuti untuk pelunasan pembayaran. Jadi kalau ada yang udah semester akhir gak bayar, dianggap cuti. Cuti itu maksimal 2 semester, kalau lewat 2 semester denda Rp4 juta,” bebernya.

Akibat kebijakan tersebut, lanjut dia, ada 3.000an mahasiswa yang terancam ditahan ijazahnya karena belum melunasi. Adanya hal itu, tadi (kemarin) ribuan mahasiswa menyuarakan pendapat. “Kami menuntut fasilitas dan pendidikan yang selama ini tidak setara dengan bayaran kuliah. Mereka menuntut pelunasan pembayaran, tapi mereka gak ada timbal balik dari pelayanan dan lain-lain,” tegasnya.

Selepas aksi, mahasiswa dari BEM ditarik pihak kampus ke dalam ruangan tertutup. Dia mau live stremaing di instagram juga tidak boleh. Mereka maunya tertutup hanya sepihak dari rektorat ke BEM. “Hasilnya ada dari pertemuan itu, jadi tuntutan kita sama sekali tidak terpenuhi cuma dijelaskan kebijakan yang ada. Padahal kita udah tau kebijakannya apa,” ungkapnya.

Besok (Hari ini), ada konsolidasi lagi sama semua mahasiswa untuk aksi besar di hari Senin (9/3). Massanya, dua sampai tiga kali lipat. “Senin kemungkinan massa 2.000 sampai 3.000 mahasiswa. Nanti kami gabungan,” terangnya.

Hingga berita ini diturunkan, Radar Depok sudah mencoba konfirmasi Kampus Gunadarma tapi belum ada tanggap dari pihak kampus. (rd)

 

Jurnalis : Fahmi Akbar (IG : @akbar.fahmi.71)

Editor : Pebri Mulya