Beranda Utama Animo Mudik Masih Tinggi

Animo Mudik Masih Tinggi

0
Animo Mudik Masih Tinggi
JANGAN MUDIK DULU: Sejumlah calon pemudik saat berada di kawasan Terminal Jatijajar, Kecamatan Tapos. Pemerintah mengharapkan warga untuk tidak mudik kekampung halaman guna meminimalisir penularan virus Korona (Covid-19). FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
jangan mudik di korona
JANGAN MUDIK DULU : Sejumlah calon pemudik saat berada di kawasan Terminal Jatijajar, Kecamatan Tapos. Pemerintah mengharapkan warga untuk tidak mudik kekampung halaman guna meminimalisir penularan virus Korona (Covid-19). FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Sebagai upaya mencegah meluasnya penyebaran virus Korona (Covid-19), pemerintah telah mengimbau masyarakat untuk tidak bepergian, baik di dalam maupun ke luar kota. Berbagai respons muncul di masyarakat, karena lazimnya menjelang Hari Raya Idul Fitri, masyarakat di Indonesia melakukan tradisi mudik alias pulang kampung.

Terkait hal itu, Tim Panel Sosial untuk Kebencanaan menjalankan sebuah Studi Sosial Covid-19 berupa survei persepsi masyarakat terhadap mobilitas dan transportasi. Hasil survei menunjukkan bahwa persentase responden yang berencana mudik dinilai masih tinggi, yaitu 43,78 persen responden, dan sisanya (56,22 persen responden) menjawab tidak akan mudik.

Salah seorang peneliti Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) yang juga terlibat dalam Tim Panel Sosial untuk Kebencanaan, Dicky Pelupessy menuturkan, hasil survei tersebut menunjukkan masih banyak penduduk yang merencanakan mudik saat libur Lebaran di tengah situasi pandemi Covid-19 yang belum mereda ini.

“Berkenaan dengan keputusan mudik, sebanyak 69,06 persen responden menjawab mudik untuk keperluan Idul Fitri, dan 60,88 persen responden akan berangkat pada waktu cuti bersama Idul Fitri,” ungkap Dicky Pelupessy dalam keterangan tertulis yang diterima Radar Depok, Rabu (15/4).

Dicky menegaskan pentingnya campur tangan pemerintah dalam mengesahkan dan menerapkan kebijakan yang lebih tegas untuk melarang masyarakat berkumpul bersama, baik untuk kegiatan ibadah, mudik, ataupun kegiatan lainnya. Ia menilai bahwa hal ini sangat diperlukan dan tidak terbatas hanya pada pembatasan atau karantina wilayah semata.

“Dengan terciptanya penerapan kebijakan yang tepat dan cepat tanggap dari pemerintah, masyarakat akan mampu bertahan menghadapi situasi pandemi dan akan dapat menyelamatkan lebih banyak masyarakat di Indonesia,” tegas Dicky.

Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UI, Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris, mengatakan, peran pemerintah untuk menerapkan intervensi sosial saat pandemi sangat dibutuhkan untuk mencegah masyarakat mudik.

“Yang berpotensi semakin menyebarluaskan virus dan menghambat proses pemutusan rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia,” tuturnya.

Lebih lanjut, data lainnya dari survei tersebut menunjukkan walaupun hampir semua responden (98,05 persen) mengetahui tentang kelompok yang rentan Covid-19 dan orang sehat dapat menjadi carrier (98,6 persen), namun hanya 32,07 persen responden yang mengaku sangat khawatir akan menularkan Covid-19 dan 10,25 persen responden mengaku tidak khawatir sehingga tetap berencana mudik.

Hal ini didasari alasan bahwa responden merasa sehat dan mengetahui kondisi kampung halaman baik-baik saja. Di sisi lain, responden yang memilih mudik akan melakukan beragam upaya pengurangan risiko penularan, seperti tindakan rajin mencuci tangan (37,58 persen), mengurangi kontak fisik seperti bersalam-salaman (36,02 persen), menjaga jarak saat berkomunikasi langsung (34,31 persen), memakai masker (31,82 persen), serta tidak mengadakan acara silahturahmi skala besar (30,96 persen). (rd/gun)

 

Jurnalis : M. Agung HR (IG : @agungimpresi)

Editor : Pebri Mulya