Data IDI : Di Indonesia 1.000 Orang Meninggal Terkait Korona

In Utama
warga depok terkena virus
ILUSTRASI

 

RADARDEPOK.COM, JAKARTA – Data pasien positif Korona yang meninggal antara yang diumumkan Pemerintah berbeda dengan data yang dimiliki oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Dimana, IDI menyebut jumlah kematian pasien virus Korona di Indonesia mencapai 1.000 orang, jadi hampir dua kali lipat dari data yang dirilis pemerintah pusat pada Minggu (19/04).

Laporan resmi pemerintah menyebut bahwa kasus virus Korona di Indonesia mencapai 6.575 kasus pada hari ini. Sebanyak 582 pasien meninggal dunia, dengan catatan 686 orang sembuh.

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Daeng M. Faqih, laporan rumah sakit di seluruh Indonesia mencatat ada 1.000 kematian pasien virus Korona, baik itu pasien yang telah terkonfirmasi positif maupun yang masih dalam status pasien dalam pengawasan (PDP).

“Saya melihat langsung data itu dari Pusat Pengendalian Operasi BNPB yang itu langsung laporan dari rumah sakit seluruh Indonesia. Data itu bukan hanya yang dinyatakan hasil PCR-nya positif. Tapi, data kematian yang status PDP itu masuk di situ. Jadi, semua data kematian yang pasien itu dirawat dengan tata laksana virus Korona, baik itu yang sudah dinyatakan positif PCR, maupun yang masih dalam status PDP yang belum diperiksa PCR-nya, ada 1.000 lebih datanya,” sambungnya.

Daeng menjelaskan, data tersebut dia dapatkan pada empat hari lalu.

Daeng mencontohkan, ada pasien dalam pengawasan yang tercatat meninggal bukan karena virus Korona, tetapi kemudian hasil tes PCR yang keluar setelah dia meninggal menunjukan positif virus Korona.

Hal tersebut menunjukkan, data kematian virus Korona di Indonesia bisa jadi terlambat beberapa hari hingga beberapa pekan.

“Ini menunjukkan kecepatan pemeriksaan kita masih kurang. Sehingga kawan-kawan yang sudah keduluan meninggal dengan status PDP itu banyak juga (yang positif),” kata Daeng.

“Saya tidak tahu (jumlah pastinya) karena ‘kan yang data sudah keluar, yang positif itu data untuk kapan? Bisa jadi itu data seminggu kemarin, atau berapa hari yang kemarin? Karena pemeriksaan itu kecepatannya masih kurang. Sehingga mungkin yang positif yang diumumkan sekarang, itu belum tentu yang kematian sekarang, mungkin. Itu mungkin kematiannya sudah terjadi berapa hari sebelumnya, baru hasilnya keluar sekarang,” sambungnya.

Daeng juga membahas persoalan perbedaan data kematian pasien virus Korona antara pemerintah daerah atau provinsi dengan yang disampaikan oleh pemerintah pusat. Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh masuknya pasien PDP ke dalam catatan pasien meninggal karena virus Korona.

Oleh karena itu, kata Daeng, pemerintah perlu untuk mempercepat proses pemeriksaan tes PCR agar perbedaan data tidak terjadi lagi.

“Status PDP ini, bisa jadi, tidak pernah diperiksa, belum sempat diperiksa. Bisa jadi sudah diambil swab-nya, tapi belum selesai hasilnya. Ini pelajarannya, bisa jadi yang PDP tadi itu tidak sempat diperiksa, keburu meninggal. Atau yang kedua, dia sudah diperiksa tapi belum keluar hasilnya, sehingga memang ada data perbedaan itu,” katanya.

Sementara itu, Juru Bicara Penanganan Korona, Achmad Yurianto, pemerintah hanya menghitung jumlah kematian pasien virus Korona yang telah terkonfirmasi positif. Dengan demikian, kematian pasien dalam pengawasan tidak dihitung oleh pemerintah sebagai kematian akibat virus Korona.

“Kasus yang kita sampaikan terkait dengan meninggal karena virus Korona adalah kasus yang meninggal dengan konfirmasi laboratorium positif (virus Korona). Sedangkan, kasus PDP yang belum terkonfirmasi virus Korona, tidak akan kita catat sebagai jenazah virus Korona,” terangnya.

Yuri menjelaskan, masyarakat harus memahami hal tersebut agar tidak semua kematian di masa sekarang dikaitkan dengan virus Korona.

Meski demikian, syarat tersebut bisa jadi masalah untuk mengetahui jumlah sebenarnya dari kematian pasien virus Korona di Indonesia. Menurut Daeng, kematian virus Korona dari PDP bisa jadi relevan karena uji diagnostik PCR membutuhkan waktu yang lama. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya

You may also read!

pnj kasih mesin cuci tangan ke SMP

PNJ Hibahkan Perangkat Alat Cuci Tangan Portabel untuk SMP Islam Taufiqurrahman Depok

BERMANFAAT : Program Studi D-III Teknik Mesin, Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) hibahkan

Read More...
UI bikin aspal dari sampah

Inovasi UI Jadikan Sampah Plastik Campuran Aspal Jalanan

UJI MATERI : Uji coba pengaspalan berbahan sampah plastik di Jalan Prof. Dr. Sumitro Djoyohadikusumo,

Read More...
fadil haq tidar

Rakorcab Tidar Depok Hasilkan Rekomendasi Internal dan Eksternal

Wakil Ketua Umum PC Tidar Kota Depok, Fadil Haq. RADARDEPOK.COM, DEPOK - PC Tunas Indonesia Raya

Read More...

Mobile Sliding Menu