Beranda Pendidikan ILUNI UI Gelar Diskusi Studi Sosial Covid-19

ILUNI UI Gelar Diskusi Studi Sosial Covid-19

0
ILUNI UI Gelar Diskusi Studi Sosial Covid-19
DISKUSI: Ketua Policy Center ILUNI UI M. Jibriel Avessina mengajak masyarakat untuk melakukan solidaritas sosial, agar masyarakat yang rentan secara ekonomi dan kekuatan tidak menjadi korban, pada Forum Diskusi Salemba yang digelar Rabu (8/4). FOTO : ILUNI UI FOR RADAR DEPOK
tentang iluni UI
DISKUSI : Ketua Policy Center ILUNI UI M. Jibriel Avessina mengajak masyarakat untuk melakukan solidaritas sosial, agar masyarakat yang rentan secara ekonomi dan kekuatan tidak menjadi korban, pada Forum Diskusi Salemba yang digelar Rabu (8/4). FOTO : ILUNI UI FOR RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Studi Sosial Covid-19 kolaborasi sembilan lembaga dan universitas mengungkapkan, 97,8 persen responden setuju diberlakukannya karantina wilayah untuk menekan penyebaran Covid-19.

Studi Sosial Covid-19 adalah sebuah panel sosial kebencanaan kerja sama LIPI, BNPP, UI, UGM, ITB, Jurnalis Bencana dan Krisis Indonesia, STIS dan INSPIRE yang melakukan survei daring kepada 4.823 responden sejak 29-31 Maret 2020. Sebanyak 78.8 persen responden berasal dari Pulau Jawa. Demikian diungkapkan Peneliti Kebencanaan sekaligus dosen Psikologi UI Dicky C Pelupessy, PhD saat diskusi daring, di Jakarta (8/4).

”Berdasarkan survei dari studi yang kami lakukan, kebijakan karantina wilayah dinilai efektif menekan penyebaran virus korona. Dengan 44.4 persen responden menyatakan cakupan karantina meliputi kota atau kabupaten,” terang Dicky dalam pemaparannya di Forum Diskusi Salemba ILUNI UI, Rabu (8/4).

”Masyarakat siap informasinya dibuka, dan masyarakat melihat pentingnya penegakkan dan pendisiplinan mengikuti kebijakan,” ujar Dicky.

Meskipun anjuran untuk diam di rumah dianggap paling efektif, desakan ekonomi yang tinggi menurut Dicky akan mendorong masyarakat untuk keluar rumah.

Sementara itu, Pakar Resolusi Konflik Dr. Ichsan Malik, M.Si memaparkan ada kebingungan antara skenario lockdown, social distancing, fenomena darurat sipil, dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Ia menilai masih terdapat bolong dalam penanganan Covid-19 saat ini.

”Skenario PSBB ini pun masih nomatif karena tidak ada petunjuk pelaksanaan teknis,” tukas Ichsan. Dalam situasi saat ini, Ichsan pun menyatakan setidaknya ada tiga posisi masyarakat, yakni sebagai korban, penyintas (survivor), atau pemimpin (leader).

Ketua Policy Center ILUNI UI M. Jibriel Avessina pun mengajak masyarakat untuk melakukan solidaritas sosial, agar masyarakat yang rentan secara ekonomi dan kekuatan, tidak menjadi korban. Ke depannya, dalam menyikapi kemungkinan munculnya wabah serupa, Pemerintah diharapkan untuk mendorong inisiatif pranata kultur.

”Budaya baru yang muncul di masyarakat ini diharapkan bisa meningkatkan resiliensi masyarakat ke depan. Tidak harus bergantung pemerintah, tapi masyarakat bisa bergerak dengan komunitasnya masing-masing,” tutur Jibriel.

Ia pun menegaskan, untuk kepentingan bersama, Pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan yang tegas dalam melarang orang untuk berkumpul bersama baik untuk tujuan ibadah, kegiatan mudik, dan kegiatan lainnya, bukan hanya pembatasan saja. Jibriel juga mendorong model desain inisiatif berbasis komunitas untuk berkembang sebagai pertahanan bersama dalam menghadapi perang melawan korona. (rd/gun)

 

Jurnalis : M. Agung HR (IG : @agungimpresi)

Editor : Pebri Mulya