stasiun depok sepi
SEPI : Tampak terlihat peron stasiun yang sepi penumpang di Stasiun Depok Baru, Jumat (10/4). Hal tersebut terjadi karena adanya PSBB yang sudah diterapkan di DKI Jakarta. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
stasiun depok sepi
SEPI : Tampak terlihat peron stasiun yang sepi penumpang di Stasiun Depok Baru, Jumat (10/4). Hal tersebut terjadi karena adanya PSBB yang sudah diterapkan di DKI Jakarta. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta resmi diberlakukan, Jumat (10/4). Transportasi massal di Kota Depok ikutan sepi. Seperti di stasiun dan terminal misalnya, di dua lokasi tersebut sepi. Sementara jalan yang menyambungkan dengan DKI Jakarta dijaga ketat kepolisian.

Pantauan Radar Depok di Stasiun Depok baru, pada Jumat pagi terlihat lebih sepi. Sementara itu, phisycal distancing di stasiun tetap diterapkan. Bangku-bangku penumpang untuk menunggu kereta dibatasi dengan garis silang berwarna merah. Tampak di tiap-tiap lajur peron petugas keamanan siaga memantau.

Berpindah ke dalam gerbong kereta rel listrik (KRL), kondisinya juga lebih sepi, tak seramai biasanya. Selain adanya penerapan PSBB hari pertama, pada Jumat hari ini juga bertepatan dengan hari libur nasional. Kendati sepi di dalam kereta, petugas keamanan tetap berjaga berjalan di tiap-tiap gerbong. Jam operasional menurut salah satu petugas Stasiun, bahwa KRL hanya beroperasi mulai dari pukul 06:00 WIB sampai 18:00 WIB saja.

“Operasional mulai jam 6 pagi sampai jam 6 sore aja mulai hari ini,” kata Kepala Humas PT KAI Daop 1 Jakarta Eva Chairunisa kepada Radar Depok, Jumat (10/04).

Selain itu, PT KCI akan mewajibkan penumpang mengenakan masker saat naik KRL mulai 12 April 2020, untuk mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19.

“Penggunaan masker untuk naik KRL ini akan diwajibkan untuk seluruh pengguna KRL mulai 12 April 2020. Menjelang tanggal tersebut, para petugas di stasiun dan KRL akan senantiasa mengingatkan pengguna mengenai pentingnya menggunakan masker,” ucapnya.

Eva mengatakan, PT KCI mengajak seluruh pengguna jasa KRL untuk menggunakan masker saat berada di lingkungan stasiun maupun di dalam KRL.

“Hal ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga kesehatan bersama dan mencegah penularan virus korona,” ujarnya.

Masker yang disarankan adalah jenis kain minimal dua lapis yang dapat dicuci. Sementara masker sekali pakai seperti masker bedah dan N95 dapat diutamakan untuk kebutuhan tim medis, dan petugas lainnya yang paling rentan tertular virus korona.

Dalam upaya mencegah penularan virus korona, PT KCI juga mengimbau seluruh pengguna jasa KRL untuk menjaga jarak aman saat menggunakan KRL. Sering mencuci tangan menggunakan sabun dengan air yang mengalir, serta tunda perjalanan yang tidak penting dan tidak mendesak.

“Intinya Jubir Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 sudah memberikan pernyataan bahwa saat ini masyarakat keluar rumah wajib menggunakan masker. Sehingga secara otomatis pada saat berada di ruang publik seperti di stasiun, hal tersebut juga harus dilakukan karena ini penting sebagai upaya pencegahan penularan virus Covid-19,” kata Eva.

Sementara itu warga Bojong Pondok Terong, Andika mengatakan, dia masih berangkat karena bekerja sebagai tenaga keamanan di tempatnya bekerja. Dia mengaku tetap taat pada aturan yang telah di tetapkan, seperti memakai masker dan memberlakukan sosial distancing.

“Mungkin sekarang libur, jadi sepi, tapi sepi-sepi nya libur ngga seperti sekarang karena ada Korona,” kata Andika.

Terpisah warga Bojong Gede, Budi A mengaku, selalu menggunakan masker, mayoritas penumpang kereta telah menggunakan masker, berbagai jenis. Bahkan warga yang tidak menggunakan masker dianggap aneh oleh penumpang lainnya.

“Mayoritas sudah pakai masker kalau naik kereta, kalau ada yang tidak pakai masker biasanya dijauhi, bahkan seperti aneh sendiri, karena banyak penumpang lain yang melihat sinis,” jelasnya.

Pantauan Radar Depok di Terminal Jatijajar malah lebih parah sepinya. Sampai-sampai tidak ada penumpang. Penjaga di terminal juga tidak ada, lengang. Yang ada hanya beberapa supir bus yang sedang menunggu penumpang.

Salah satu sopir di Teminal Jatijajar, Tatang M  mengungkapkan, semenjak adanya virus covid-19 membuat jumlah penumpang berkurang drastis. “Seperti Bus MGI yang biasanya sehari 18 bus yang beroperasi, setelah adanya korona hanya dua bus saja yang beriperasi,” ucapnya kepada Radar Depok, Jumat (10/04).

Dia pun menuturkan, walaupun ada dua yang beroperasi tetapi penumpang juga tidak full dua bus tersebut. “Hiba pun yang biasanya sehari bisa mencapai 22 bus yang beroperasi, kali ini juga hanya dua hingga tiga bus aja dalam setiap harinya,” tuturnya.

Dia juga menjelaskan, bahwa saat ini belum ada tanda-tanda penumpang yang akan mudik ke kampung halaman, dikarenakan masih sepinya Terminal Jatijajar.

 

jaga lalu lintas PSBB
JAGA : Kasat Lantas Polrestro Depok, Kompol Sutomo bersama jajaranya serta Polda Metro Jaya berjaga di Jalan Fly Over UI, yang masuk dalan perbatasan Depok dengan DKI Jakarta. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

Terpisah, Humas Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ),  Budi Rahardjo menjelaskan, penerapan PSBB di suatu wilayah mengacu pada Permenkes No 9 Tahun 2020 tentang PSBB. Leading sektor Pemerintah Pusat untuk PSBB kan Kemenkes, disitu sudah disebut bagaimana penerapan transportasi.

Dia mengatakan, dalam Permenkes No 9 Tahun 2020 temtang PSBB tepatnya di Pasal 13 ayat 10 yang menyatakan pembatasan moda transportasi sebagaimana dimaksud, moda transpotasi penumpang baik umum atau pribadi. Dengan memperhatikan jumlah penumpang dan menjaga jarak antar penumpang. Disana dinyatakan pula moda transpotasi barang dengan memperhatikan pemenuhan kebutuhan dasar penduduk.

“Jelas-jelas tidak menyebut adanya pemberhentian transportasi, hanya pembatasan penumpang,” terangnya.

Menurutnya, kendali operasional PSBB ada di wilayah dan daerah masing-masing yang sudah diberikan status PSBB, dalam hal ini yang sudah mendapat status adalah DKI Jakarta.

“Hal-hal lain yang masih membutuhkan pengaturan tentang transportasi sedang dalan proses penyusunan peraturan menteri perhubungan (berlaku nasional tidak hanya jabodetabek dan lintas moda tak hanya darat, red),” kata Budi.

Di jalan perbatasan, jajaran Satlantas Polresta Metro Depok melakukan pemeriksaan kendaraan yang melintas dari Jalan Margonda menuju Jakarta begitupun sebaliknya. Pemeriksaan tersebut merupakan tindaklanjut dari Pembatasan Sosial Berskala Sosial (PSBB) yang telah berlaku di DKI Jakarta, Jumat (10/04).

Kasatlantas Polresta Metro Depok,  Kompol Sutomo mengatakan, pemeriksaan kendaraan tersebut sebagai penerapan kebijakan PSBB, terkait batas jumlah kendaraan yang akan melintas dari wilayah Kota Depok menuju Jakarta. Pemeriksaan tersebut bekerjasama dengan Satlantas Polda Metro Jaya.

Titik pemeriksaan dilakukan di fly over UI yang menjadi batas antara DKI Jakarta dengan Kota Depok, dan juga menjaga jalan yang lainnya yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta.

“Pemeriksaan pembatasan jumlah kendaraan baik roda dua maupun roda empat,” ucap Sutomo. (rd)

 

Jurnalis : Tim Radar Depok

Editor : Fahmi Akbar : (IG : @akbar.fahmi.71), Pebri Mulya